News
Opini

Jika Bill Gates Dijemput Maut: Etika Kekayaan dan Warisan Kemanusiaan

undefined

Oleh : Muliadi Saleh, Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran Sosial 


“Aku tidak mau mati kaya.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi mengguncang dunia.  Diucapkan dengan lantang, bukan oleh seorang yang hidupnya biasa saja, melainkan oleh Bill Gates. Salah satu filantropis dunia, ikon kapitalisme global, dan mantan orang terkaya di planet ini.

Sebagaimana diberitakan Kompas.com, Gates menegaskan bahwa Bill & Melinda Gates Foundation akan berhenti beroperasi pada 31 Desember 2045, setelah seluruh kekayaan pribadinya dialokasikan untuk kegiatan amal. Ia tidak ingin dikenang sebagai seseorang yang wafat dalam keadaan sangat kaya. 

Menurut Bloomberg Billionaires Index per Mei 2025, kekayaan Bill Gates mencapai 168 miliar dolar AS, setara Rp2.774 triliun. Angka yang nyaris mustahil dibayangkan oleh nalar kebanyakan manusia. Namun justru dari puncak akumulasi itulah lahir sebuah pengakuan moral  bahwa kekayaan, betapapun besarnya, bukan tujuan akhir kehidupan. 

Di titik ini, Gates seperti sedang berdialog dengan sejarah. Dalam banyak peradaban, kekayaan selalu berada di persimpangan antara berkat dan beban. Ia bisa menjadi sarana pembebasan, tetapi juga sumber penindasan.

Dalam ilmu ekonomi modern, kekayaan kerap diukur sebagai indikator keberhasilan. Namun dalam etika sosial, kekayaan sering dipertanyaka. Untuk siapa ia dikumpulkan, dan kepada siapa ia akhirnya kembali? 

Keputusan Gates menyumbangkan hampir seluruh hartanya adalah kritik halus terhadap kapitalisme yang lupa diri. Ia mengajukan satu tesis moral bahwa kekayaan tanpa tanggung jawab sosial hanyalah penundaan kehancuran. 

Di tengah dunia yang timpang dimana sebagian kecil manusia menguasai sebagian besar sumber daya, filantropi bukan lagi sekadar kebaikan personal, melainkan kewajiban etis. 

Pelajaran penting dari sikap ini bukan terletak pada besaran dana yang disumbangkan, melainkan pada kesadaran tentang makna hidup. Gates menunjukkan bahwa nilai tertinggi dari kekayaan bukanlah akumulasi, tetapi distribusi. Bukan seberapa banyak yang kita simpan, melainkan seberapa luas manfaat yang kita sebarkan. 

Dalam perspektif ilmu sosial, filantropi Gates juga menegaskan pergeseran peran aktor non-negara dalam pembangunan global. Ketika negara sering tersandera oleh birokrasi dan politik jangka pendek, lembaga filantropi justru mampu bergerak lintas batas. Ia memberantas penyakit, memperluas akses pendidikan, dan menekan kemiskinan ekstrem.

Namun di saat yang sama, keputusan menghentikan fondasi pada 2045 juga menyiratkan pesan penting.  Bahwa solusi jangka panjang tidak boleh bergantung selamanya pada kemurahan hati individu, melainkan pada sistem yang adil. 

Bagi kita di negeri yang masih bergulat dengan ketimpangan, kisah ini adalah cermin. Kita mungkin tidak memiliki miliaran dolar, tetapi kita memiliki pilihan moral yang sama. Apakah hidup hanya untuk menumpuk, atau untuk berbagi. Apakah keberhasilan diukur dari saldo akhir, atau dari jejak kemanusiaan yang ditinggalkan. 

Pada akhirnya, “Aku tidak mau mati kaya” bukan sekadar pernyataan personal Bill Gates. Ia adalah seruan zaman. Sebuah pengingat bahwa kematian adalah batas terakhir yang meratakan semua manusia.

Dan bahwa satu-satunya harta yang benar-benar abadi bukanlah uang, melainkan nilai, dampak, dan kebaikan yang terus hidup setelah kita tiada.