Mahasiswa
Pendidikan

Juri Tetap KJI 2026 Prof Heru Purnomo, Dorong Pemerataan Partisipasi Perguruan Tinggi di Indonesia Timur

Juri Tetap Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) 2026, Prof Dr Ir Heru Purnomo ST DEA IPU. (Unhas TV / Mustika Syaharuddin)

GOWA, UNHAS.TV - Partisipasi perguruan tinggi dalam Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) masih didominasi oleh peserta dari Pulau Jawa.

Kondisi tersebut menjadi perhatian juri tetap KJI 2026, Prof Dr Ir Heru Purnomo ST DEA IPU yang mendorong perluasan keterlibatan perguruan tinggi dari berbagai daerah, khususnya Indonesia Timur.

Hal tersebut disampaikan Guru Besar Universitas Indonesia (UI) tersebut dalam penyelenggaraan KJI XXI Tingkat Nasional 2026 yang berlangsung di Universitas Hasanuddin (Unhas), Kabupaten Gowa.

Menurutnya, kompetisi ini perlu menjangkau lebih banyak wilayah agar kesempatan mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan di bidang konstruksi jembatan semakin merata.

Heru menilai penyelenggaraan KJI di luar Pulau Jawa menjadi salah satu langkah penting untuk memperkenalkan kompetisi tersebut kepada perguruan tinggi dan masyarakat di berbagai daerah.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus diselenggarakan secara bergantian di sejumlah provinsi, termasuk wilayah yang selama ini belum banyak terlibat.

“Jangan hanya didominasi di wilayah Jawa. Kalau kita lihat, tim-tim yang berkompetisi hari ini masih didominasi dari Pulau Jawa. Kami berharap peserta bisa lebih menjangkau provinsi-provinsi lain, khususnya di wilayah timur,” ujar Heru.

Menurutnya, sejumlah perguruan tinggi di Indonesia Timur, termasuk Universitas Hasanuddin dan Politeknik Negeri Ujung Pandang, telah memiliki kemampuan untuk bersaing dengan peserta dari perguruan tinggi di Pulau Jawa.

Meski demikian, ia berharap partisipasi mahasiswa dapat terus diperluas hingga menjangkau wilayah lain, seperti Nusa Tenggara Timur dan Papua, yang menurutnya masih memiliki keterwakilan terbatas dalam kompetisi tersebut.

Heru juga menjelaskan bahwa penyelenggaraan KJI di Sulawesi Selatan bukan kali pertama dilakukan. Sebelum pandemi COVID-19, kompetisi serupa pernah diselenggarakan di Politeknik Negeri Ujung Pandang.

Dengan demikian, penyelenggaraan KJI 2026 di Unhas menjadi kesempatan kedua bagi Sulawesi Selatan untuk menjadi lokasi kompetisi tersebut.

Ia menambahkan bahwa penyelenggaraan kompetisi di berbagai daerah berpotensi meningkatkan ketertarikan pelajar sekolah menengah maupun mahasiswa baru terhadap bidang teknik sipil.

Melalui kegiatan tersebut, generasi muda dapat mengenal secara langsung proses perencanaan dan pembangunan konstruksi jembatan.

Namun, Heru mengakui bahwa keterbatasan kapasitas dan pendanaan masih menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan jumlah peserta yang dapat mengikuti babak final.

Pada penyelenggaraan KJI 2026, sebanyak 18 tim berhasil melaju ke babak final setelah melewati proses seleksi proposal. Jumlah tersebut terdiri atas 10 tim pada kategori Jembatan Model Pelengkung dan delapan tim pada kategori Jembatan Rangka Baja.



KJI 2026 - Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) 2026 yang berlangsung di GOR Fakultas Teknik Unhas, Kamis (22/10/2026). (Unhas TV / Mustika Syaharuddin)


Selain menyoroti pemerataan peserta, Heru turut menjelaskan proses penilaian yang diterapkan dalam kompetisi. Menurutnya, KJI tidak hanya menguji kemampuan mahasiswa dalam merakit jembatan, tetapi juga menilai pemahaman peserta terhadap perencanaan konstruksi secara menyeluruh.

Proses penilaian dimulai dari tahap seleksi proposal, kemudian dilanjutkan dengan presentasi dan sesi tanya jawab bersama tim juri. Dalam tahap tersebut, peserta harus mampu menjelaskan rancangan serta metode konstruksi yang digunakan.

Heru menyebut terdapat empat aspek utama yang menjadi dasar penilaian pada tahap perencanaan, yakni kekuatan jembatan, daya layan bagi pengguna, perawatan dan pemeliharaan, serta perencanaan biaya konstruksi.

“Yang pertama adalah terkait dengan kekuatan jembatan. Kemudian yang kedua terkait dengan daya layan jembatan terhadap pemakai. Yang ketiga adalah perawatan atau pemeliharaan jembatan. Kemudian yang keempat, mereka harus menghitung biaya,” jelasnya.

Selain melalui proposal dan presentasi, penilaian juga dilakukan secara langsung terhadap proses perakitan jembatan di lokasi perlombaan. Tim juri mempertimbangkan waktu perakitan, berat konstruksi, serta kemampuan jembatan dalam menahan beban yang diberikan saat pengujian.

Menurut Heru, seluruh peserta menjalani pengujian dengan pembebanan yang sama. Hal tersebut dilakukan untuk menilai kinerja masing-masing konstruksi berdasarkan ketentuan kompetisi.

Ia menilai berbagai tahapan tersebut memberikan pengalaman bagi mahasiswa dalam memahami proses perencanaan dan pelaksanaan konstruksi jembatan sebagaimana yang dilakukan dalam dunia profesional.

Melalui kompetisi ini, peserta memperoleh gambaran mengenai pekerjaan di bidang perencanaan jembatan, mulai dari penyusunan rancangan, perhitungan anggaran biaya, pemilihan metode konstruksi, hingga penjadwalan pekerjaan.

Heru menjelaskan bahwa pengalaman tersebut dapat menjadi bekal bagi mahasiswa yang ingin berkarier di bidang perencanaan jembatan maupun manajemen konstruksi.

Pengetahuan yang diperoleh selama kompetisi diharapkan tidak berhenti pada perlombaan, tetapi dapat dikembangkan ketika memasuki dunia kerja.

Di tengah persaingan antartim, Heru juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh mahasiswa yang berhasil mencapai babak final. Menurutnya, keberhasilan melewati proses seleksi merupakan pencapaian yang patut dihargai, terlepas dari hasil akhir kompetisi.

“Pesan saya kepada seluruh finalis KJI, sebenarnya kalian itu sudah merupakan juara. Jadi, kalaupun nanti tidak mendapatkan peringkat tertinggi ataupun juara harapan dan juara kategori, pengalaman ini merupakan pengalaman berharga,” tuturnya.

Heru berharap pengalaman mengikuti KJI 2026 dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa, sekaligus menjadi bekal dalam menghadapi kebutuhan dunia konstruksi pada masa mendatang.

Melalui penyelenggaraan KJI di Universitas Hasanuddin, pengembangan kompetensi mahasiswa di bidang konstruksi jembatan diharapkan dapat berjalan seiring dengan perluasan kesempatan bagi perguruan tinggi dari berbagai wilayah Indonesia untuk berpartisipasi dalam kompetisi tingkat nasional.

(Mustika Syaharuddin / Unhas TV)