MAKASSAR, UNHAS.TV - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Fenomena ini dinilai bukan merupakan persoalan baru, melainkan peristiwa berulang yang dapat menimbulkan dampak luas terhadap lingkungan, masyarakat, hingga perekonomian.
Guru Besar GIS dan Perencanaan Hutan pada Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, Prof Dr Ir Syamsu Rijal SHut MSi IPU menyebut karhutla merupakan persoalan yang terus berulang. Ia mencontohkan peristiwa karhutla dengan skala besar yang pernah terjadi pada 2017 dan 2023.
Menurut Prof Syamsu, faktor iklim seperti El Nino dapat memperparah kondisi kebakaran. Namun, penanganan karhutla tidak dapat hanya berfokus pada faktor alam karena faktor manusia juga menjadi salah satu penyebab terjadinya kebakaran.
“Persoalan karhutla bukan cuma tahun ini terjadi. Produksinya terus terjadi walaupun kadang kecil, sekarang membesar lagi. Kita ingat 2017 itu salah satu yang terbesar, 2023 juga terbesar, dan sekarang. Ini gejalanya sebenarnya hampir sama, ini peristiwa berulang,” ujar Prof Syamsu.
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fahutan ini menambahkan, dampak karhutla tidak hanya dirasakan di wilayah yang mengalami kebakaran, tetapi juga dapat meluas hingga negara-negara tetangga. Kondisi tersebut dapat menimbulkan kerugian bagi masyarakat serta berdampak terhadap aktivitas ekonomi.
Ia menilai penanggulangan karhutla perlu dilakukan secara menyeluruh melalui penguatan pemantauan dan penegakan hukum. Sanksi terhadap pihak yang terbukti menyebabkan kebakaran juga dinilai perlu diberikan secara tegas tanpa membedakan latar belakang pelaku.
“Untuk penanggulangannya, selain tentunya monitoring, juga penegakan hukum menurut saya harus dipertegas, tidak pandang bulu. Termasuk pemberian sanksi yang berat kepada para pelaku,” jelasnya.
Lebih lanjut, Syamsu menjelaskan bahwa faktor manusia perlu menjadi perhatian dalam upaya pencegahan karhutla. Kebakaran tidak dapat sepenuhnya dikaitkan dengan kondisi alam karena aktivitas manusia juga dapat menjadi pemicu kebakaran.
Menurutnya, penanganan juga perlu menyasar berbagai pihak yang terlibat, baik masyarakat maupun pihak yang berkaitan dengan kegiatan usaha. Pemantauan terhadap wilayah rawan kebakaran dinilai menjadi bagian penting untuk mengetahui sumber titik api dan mencegah kebakaran meluas.
“Sebagian besar penyebab kebakaran itu adalah faktor manusia. Di sini juga tidak bisa menyalahkan orang per orang atau perusahaan. Kalau perusahaan itu gampang ditindak karena wilayah teritorinya ada, bisa terpantau dari mana titik apinya berawal,” katanya.
Syamsu menekankan, penanggulangan karhutla membutuhkan keterlibatan semua pihak. Upaya tersebut mencakup pencegahan, pemantauan titik rawan kebakaran, edukasi kepada masyarakat, hingga penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti menjadi penyebab kebakaran.
Dengan penanganan yang dilakukan secara konsisten dan melibatkan berbagai pihak, risiko meluasnya dampak karhutla diharapkan dapat ditekan, sekaligus mengurangi kerugian lingkungan, sosial, dan ekonomi yang ditimbulkan.
(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)
Guru Besar GIS dan Perencanaan Hutan pada Fahutan Unhas Prof Dr Ir Syamsu Rijal SHut MSi IPU. (Unhas TV / Andrea Ririn Karina)




-300x240.webp)



