Kesehatan

Kasus HIV/AIDS di Sulsel Didominasi Perilaku Seks Sesama Pria, Terbanyak di Makassar dan Gowa

MAKASSAR, UNHAS.TV - Jumlah kasus HIV/AIDS di Sulawesi Selatan menunjukkan peningkatan yang didominasi perilaku seks sesama pria (40-45 persen) serta perilaku seks wanita tuna susila (39 persen). 

Kondisi ini tentu memprihatinkan. Data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan pada tahun 2021 tercatat 1.490 kasus penderita HIV/AIDS. Setahun berikutnya naik menjadi 2.069 kasus, lalu di tahun 2023 sebanyak 2.098 kasus. 

Per September 2024, tercatat 1.600 kasus HIV AIDS dan diperkirakan jumlah ini akan melebihi 2.000 hingga akhir tahun 2024. 

Dari jumlah itu, Kota Makassar "penyumbang" terbanyak kasus HIV/AIDS di Sulsel yakni 702 kasus. Selanjutnya Gowa 112 kasus, Palopo 89 kasus, Bone 74 kasus, dan yang paaling sedikit yakni Selayar 12 kasus.

Adapun pada tingkat nasional, Kementerian Kesehatan mencatat 35.415 kasus baru HIV dan 12.481 kasus baru AIDS ditemukan sepanjang 2024, terhitung selama periode Januari-September.

Dikutip dari detikcom, jumlah tersebut hampir melampaui angka kasus pada periode yang sama di tahun lalu. Pada tahun 2023, tercatat lebih dari 50 ribu kasus baru HIV/AIDS.

Situasi ini jadi peringatan serius untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya HIV/AIDS termasuk pentingnya pencegahan melalui perilaku sehat, terutama menghindari hubungan seks bebas.

Direktur Yayasan Gaya Celebes Andi Akbar Halim menyebutkan, akses mudah ke layanan kesehatan menjadi faktor kunci dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS.

Yayasan Gaya Celebes adalah lembaga yang berfokus pada penyebaran informasi tentang pencegahan serta penanggulangan HIV/AIDS dan PMS, serta melakukan pendampingan pada mereka yang rentang pada kasus HIV/AIDS.

Menurut Andi Akbar, sejak tahun 2021, pemerintah telah menganggarkan dana APBN untuk peningkatan kapasitas rumah sakit agar dapat melakukan tes HIV/AIDS sekaligus dapat melakukan pengobatan.

Ia juga menyebutkan, Kementrian Kesehatan telah menyediakan logistik yang cukup untuk mendukung penanganan HIV/AIDS namun kendalanya ada pada mekanisme pengadaan logistik.

"Logistik selalu tersedia, tetapi sistemnya masih perlu diperbaiki seperti pada sisi perencanaan, permintaan, dan pelaporan dari fasilitas pelayanan kesehatan. Sayangnya, masih banyak fasilitas kesehatan belum optimal menyusun laporan dan permintaan logistik ke Kementerian Kesehatan," katanya.

Keterbatasan dalam perencanaan dasar oleh fasilitas pelayanan kesehatan ini berdampak pada distribusi logistik yang tidak merata sehingga dapat menghambat upaya penanggulangan HIV/AIDS di tingkat daerah.

HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia khususnya sel darah putih. Ketika virus ini menyerang, tubuh kesulitan melawan infeksi yang ditimbulkan virus itu

HIV dapat ditulaskan melalui hubungan seksual, penularan dari ibu ke bayinya, darah dari jarum suntik yang tercemar HIV.

HIV juga dapat ditularkan melalui transfusi darah yang tercemar HIV, penggunaan peralatan tato dan tindik (body piercing) yang tidak disterilkan serta memiliki riwayat penyakit menular seksual launnya seperti klamidia atau gonore.

HIV/AIDS dapat dicegah dan diobati tetapi belum dapat disembuhkan katena itu penting bagi setiap orang untuk paham mengenai risiko virus itu dan tahu bagaimana melakukan pemeriksaan dini.

Layanan kesehatan juga harus aktif menyediakan tes HIV/AIDS serta konseling untuk dapat mengendalikan laju penyebaran virus ini.(*)

Rahmatia & Iffa Aisyah Rahman (Unhas TV)