Ekonomi
Sulsel

Kenali Beras Fortifikasi dan Biofortifikasi, Upaya Penuhi Kebutuhan Gizi Masyarakat

Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, Prof Dr Andi Nur Faidah Rahman STP MSi. (Unhas TV/Andrea Ririn Karina)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Beras tidak hanya menjadi makanan pokok bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga dapat menjadi salah satu sumber untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gizi.

Melalui teknologi fortifikasi dan biofortifikasi, kandungan zat gizi tertentu pada beras dapat ditingkatkan sesuai kebutuhan masyarakat.

Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, Prof Dr Andi Nur Faidah Rahman STP MSi menjelaskan bahwa beras fortifikasi merupakan beras yang ditambahkan zat gizi tertentu, seperti zat besi, asam folat, dan vitamin B1.

Menurutnya, penambahan zat gizi tersebut dilakukan berdasarkan kebutuhan masyarakat. Zat besi, misalnya, dibutuhkan oleh berbagai kelompok masyarakat, termasuk anak-anak dan ibu hamil.

“Zat besi kan dibutuhkan oleh masyarakat, misalkan untuk anak-anak, untuk orang hamil, jadi pencampuran zat besinya itu berdasarkan rekomendasi kebutuhan seperti itu,” jelas Prof. Nur Faidah.

Sementara itu, beras biofortifikasi memiliki konsep yang berbeda. Peningkatan kandungan gizinya dilakukan melalui proses pada tingkat genetik tanaman, bukan dengan menambahkan zat gizi setelah beras diproduksi.

“Kalau beras biofortifikasi itu sebenarnya beras yang difortifikasi dari genetiknya, jadi bukan ditambahkan zat besi, jadi dia dimodifikasi dari genetik beras itu sendiri. Jadi makanya disebut beras biofortifikasi,” lanjutnya.

Prof. Nur Faidah menambahkan, perbedaan utama beras fortifikasi dengan beras biasa terletak pada adanya unsur zat gizi tertentu yang ditingkatkan. Penambahannya disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi masyarakat.

“Jadi perbedaan beras fortifikasi itu dengan beras yang pada umumnya, jadi kalau beras fortifikasi itu memang ada unsur zat gizi tertentu yang ditingkatkan. Jadi seperti saya jelaskan tadi, berdasarkan kebutuhan,” ujarnya.

Beberapa zat gizi yang menjadi perhatian dalam fortifikasi beras antara lain zat besi, asam folat, dan vitamin B1. Penambahan zat gizi tersebut ditujukan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi masyarakat melalui makanan pokok yang dikonsumsi sehari-hari.

Beras fortifikasi pada dasarnya ditujukan untuk masyarakat secara luas. Dengan menjadikan beras sebagai media pembawa zat gizi, masyarakat diharapkan dapat memperoleh tambahan nutrisi bersamaan dengan konsumsi makanan pokok.

Namun, kebutuhan gizi setiap orang maupun setiap wilayah dapat berbeda. Karena itu, jenis dan jumlah zat gizi yang ditambahkan perlu mempertimbangkan kebutuhan masyarakat serta ketentuan yang berlaku.

Dari sisi harga, beras fortifikasi dapat memiliki perbedaan harga dibandingkan beras biasa karena terdapat proses tambahan dalam produksinya.

Dalam proses tersebut, bahan yang mengandung vitamin dan mineral dapat dipersiapkan dalam bentuk tertentu untuk kemudian dicampurkan dengan beras biasa melalui perbandingan yang telah ditentukan.

Penerapan fortifikasi juga memiliki persyaratan terkait kandungan zat gizi yang harus dipenuhi. Ketentuan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan kandungan zat gizi dalam beras fortifikasi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

Dengan demikian, fortifikasi dan biofortifikasi menjadi dua pendekatan yang berbeda dalam meningkatkan kandungan gizi beras.

Fortifikasi dilakukan dengan menambahkan zat gizi pada beras, sedangkan biofortifikasi dilakukan melalui peningkatan kandungan gizi tanaman sejak proses budidaya atau pengembangan genetiknya.

(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)