MAKASSAR, UNHAS.TV - Program biodiesel B50 dinilai berpotensi menjadi instrumen penting dalam mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar minyak fosil.
Kebijakan tersebut juga diproyeksikan mendorong pertumbuhan industri energi terbarukan dan memperkuat perekonomian nasional.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Dr Suharwan Hamzah SE MSi, mengatakan penerapan B50 tidak hanya berdampak pada sektor energi.
Program itu turut mempengaruhi aktivitas industri, penyerapan tenaga kerja, serta ketahanan ekonomi dalam jangka panjang.
Hal tersebut disampaikan Suharwan dalam program Econotalks Unhas TV, Jumat (17/7/2026). Menurut dia, peningkatan penggunaan biodiesel dapat menekan kebutuhan terhadap BBM fosil dan mengurangi ketergantungan Indonesia pada pasokan energi dari luar negeri.
“B50 diluncurkan dengan harapan agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada BBM fosil,” kata Suharwan di Studio Unhas TV.
B50 merupakan bahan bakar yang memadukan 50 persen biodiesel dengan 50 persen diesel berbasis fosil. Peningkatan komposisi biodiesel tersebut dinilai dapat memperluas pemanfaatan energi terbarukan, terutama yang bersumber dari kelapa sawit.
Dari sisi industri, kebijakan ini berpeluang meningkatkan permintaan terhadap bahan baku biodiesel dan mendorong kapasitas produksi di dalam negeri.
Aktivitas tersebut diperkirakan membuka lapangan kerja baru pada sektor perkebunan, pengolahan, distribusi, hingga industri pendukung.
Suharwan mengatakan pengurangan impor BBM fosil juga berpotensi membantu menjaga stabilitas harga energi dalam negeri.
Namun, manfaat tersebut bergantung pada kemampuan pemerintah memastikan ketersediaan bahan baku dan menjaga keseimbangan antara pasokan dengan kebutuhan energi nasional.
Pada tahap awal penerapan, pemerintah dinilai perlu mengantisipasi dampak terhadap anggaran negara. Pengawasan terhadap biaya produksi, distribusi, dan insentif juga diperlukan agar kebijakan tidak menimbulkan beban fiskal yang berlebihan.
Suharwan menilai B50 dapat memperkuat ketahanan energi apabila dijalankan secara konsisten dan terukur. Program tersebut juga harus disertai kebijakan yang menjaga keberlanjutan industri serta melindungi kepentingan masyarakat.
Jika implementasinya berjalan optimal, B50 diperkirakan mampu menekan konsumsi BBM fosil, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Dr Suharwan Hamzah SE MSi. (Unhas TV / Andrea Ririn Karina)

-300x176.webp)
-300x169.webp)
 Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr Sabir SE MSi-300x169.webp)


-300x146.webp)

