MAKASSAR, UNHAS.TV - Angka stunting di Indonesia masih tergolong tinggi dan menjadi persoalan serius yang membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk keluarga dan tenaga kesehatan.
Berdasarkan data terbaru, prevalensi stunting nasional masih berada di angka 19,8 persen atau hampir satu dari lima anak Indonesia mengalami gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis.
Guru Besar Bidang Ilmu Keperawatan Anak Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Dr Kadek Ayu Erika SKep Ners MKes, menegaskan stunting bukan hanya masalah nasional, tetapi juga masalah global yang hingga kini belum sepenuhnya teratasi.
“Stunting ini sangat mendesak dan masih menjadi masalah dunia, bukan hanya Indonesia. Berdasarkan data UNICEF dan WHO, Indonesia masih berada di peringkat ke-27 dari 154 negara, dan peringkat kelima di Asia,” kata Prof Erika pada program Speak Up Unhas TV, Selasa (21/1/2026).
Ia menjelaskan, target global WHO pada 2025 menekan angka stunting hingga 13,5 persen. Namun, kondisi Indonesia saat ini masih jauh dari target tersebut, sehingga dibutuhkan upaya kolaboratif lintas sektor dan multidisiplin, termasuk peran strategis tenaga keperawatan.
“Sebagai perawat profesional, kami memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi bersama lintas sektor dalam menurunkan angka stunting. Ini tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi harus melibatkan berbagai profesi kesehatan dan masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prof Erika menekankan bahwa keluarga merupakan faktor paling menentukan dalam pencegahan stunting, karena menjadi lingkungan pertama bagi anak sejak dalam kandungan hingga masa tumbuh kembang.
“Peran keluarga sangat besar, mulai dari pola asuh, pemantauan tumbuh kembang, kebersihan, hingga pemenuhan nutrisi anak. Lingkungan keluarga membentuk kebiasaan dan kesehatan anak, terutama peran ibu yang paling dekat dengan anak,” jelasnya.
Sebagai upaya konkret dalam mendukung peran keluarga, Fakultas Keperawatan Unhas mengembangkan sebuah inovasi berbasis teknologi bernama Aplikasi SEHATI. SEHATI merupakan singkatan dari Sistem Evaluasi Kesehatan Anak Tumbuh Ideal Bebas Stunting.
“Aplikasi SEHATI kami kembangkan bersama tim lintas profesi, mulai dari dokter, perawat, ahli gizi, bidan, fisioterapis, praktisi, hingga edukator. Tujuannya agar keluarga dapat memantau tumbuh kembang anak secara mandiri dan berkelanjutan,” ungkap Guru Besar Ilmu Keperawatan Anak Unhas itu.
Aplikasi ini tidak hanya berfungsi sebagai alat pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak setiap bulan, tetapi juga menyediakan edukasi komprehensif bagi keluarga, khususnya ibu hamil dan ibu dengan balita.
“Di dalam aplikasi terdapat edukasi sejak masa kehamilan, termasuk intervensi yang perlu dilakukan ibu hamil untuk mencegah bayi lahir dengan risiko stunting. Setelah anak lahir, ada panduan pemenuhan nutrisi dan pemantauan tumbuh kembang secara rutin,” katanya.
Prof Erika menegaskan, Aplikasi SEHATI tidak menggantikan layanan kesehatan yang sudah ada, melainkan memperkuat peran fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan layanan kesehatan lainnya.
“Aplikasi ini bersifat melengkapi dan memperkuat sistem pelayanan kesehatan. Pemeriksaan kehamilan dan kunjungan ke fasilitas kesehatan tetap wajib dilakukan, sementara aplikasi menjadi alat bantu keluarga dalam menjaga kesehatan anak,” tutupnya.
(Achmad Ghiffary M / Unhas TV)
Guru Besar Bidang Ilmu Keperawatan Anak Fakultas Keperawatan Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Dr Kadek Ayu Erika SKep Ners MKes saat hadir dalam program Unhas Speak Up di studio Unhas TV, Makassar, Selasa (20/1/2026). (dok unhas tv)







