News

Kisah Inspiratif Mahasiswa KKNT Tanggap Bencana Unhas di Aceh dan Sumatera

BENCANA - Kepala Pusat Studi Kebencanaan Unhas Dr Ilham Alimuddin bersama mahasiswa peserta KKN Tematik saat berada di Unhas TV. Foto: Unhas TV

MAKASSAR, UNHAS.TV - Bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, meninggalkan dampak berkepanjangan bagi masyarakat. 

Menanggapi kondisi tersebut, Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengabdian masyarakat melalui Program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Tanggap Bencana, dengan menurunkan mahasiswa langsung ke lokasi terdampak selama 14 hari.

Kepala Pusat Studi Kebencanaan Unhas sekaligus pendamping mahasiswa KKNT Tanggap Bencana di Sumatera, Ilham Alimuddin, menjelaskan bahwa keterlibatan Unhas dalam penanganan bencana bukanlah hal baru. Sejak Pusat Studi Kebencanaan Unhas dibentuk, program KKN Tanggap Bencana telah dijalankan, meski sebelumnya masih bersifat lokal.

"Dulu kita pernah menurunkan sekitar 200 mahasiswa di Gowa saat terjadi longsor untuk membantu evakuasi. Tapi, untuk ke luar Sulawesi Selatan, ini pertama kalinya. Dan Unhas menjadi perguruan tinggi pertama yang mengirim mahasiswa KKN ke Aceh," ujar Ilham.

Menurutnya, bencana di Aceh dan Sumatera menjadi momentum penting untuk memperluas jangkauan pengabdian. Proses rekrutmen dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan kesiapan fisik dan mental mahasiswa.

"Sekitar seminggu setelah bencana di Aceh, kami membuka rekrutmen. Terpilih 12 mahasiswa KKN ditambah dua mahasiswa dari UKM SAR Unhas," terangnya.

Tim Unhas berangkat dengan transportasi udara dan tiba di Kota Medan, lalu melanjutkan perjalanan darat menuju Aceh Tamiang. Ilham menyebutkan pihaknya membawa dana bantuan sebesar Rp 30 juta yang digunakan untuk pembelian sembako serta alat penjernih air. 

"Kami tiba tengah malam di posko yang berada di sebuah rumah tahfidz. Kondisinya masih sangat parah, penuh lumpur, air bersih tidak tersedia," ungkapnya.

Mahasiswa KKNT Tanggap Bencana Unhas, Deswira Natalia Maluda, membenarkan kondisi tersebut. Ia mengatakan lumpur masih menggenangi area hingga setinggi mata kaki, dengan debu yang beterbangan di mana-mana.

"Kalau pegang handphone, pasti penuh debu. Pagi hari baru terlihat jelas betapa parahnya kondisi lingkungan," tuturnya.

Selama pelaksanaan KKNT, mahasiswa Unhas menjalankan empat program utama yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Program tersebut meliputi penyediaan air bersih, trauma healing bagi anak-anak, distribusi logistik, serta promosi kesehatan.

"Kami menguras sumur warga agar airnya bisa kembali digunakan, lalu melakukan trauma healing untuk anak-anak, dan membantu distribusi logistik," jelas Deswira.

Tak hanya itu, mahasiswa juga mendirikan sekolah darurat tiga hari sebelum kepulangan, memanfaatkan bangunan kosong di dekat posko dan bekerja sama dengan relawan lain.

Mahasiswa lain yang ikut terlibat, Irfandi, menambahkan, sebelum menentukan program kerja, tim terlebih dahulu melakukan survei dan koordinasi dengan berbagai pihak.

"Kami berkoordinasi dengan BPBD, relawan pemerintah provinsi, mahasiswa dari kampus di Sumatera, bahkan relawan dari Jawa. Selama program berlangsung, lebih dari 2.000 warga merasakan manfaat langsung," katanya.

Pendekatan persuasif menjadi kunci keberhasilan mahasiswa dalam menjalin kedekatan dengan masyarakat, khususnya anak-anak. "Kami dekati anak-anak dengan mengajak bermain, memberi hadiah kecil, lalu mengajak mereka mengikuti sekolah darurat yang kami dirikan," ujar Deswira.

Ilham menegaskan pentingnya koordinasi lintas lembaga dalam penanganan bencana. "Kami tidak bisa bekerja sendiri. Sejak tiba, kami langsung berkoordinasi dengan pemerintah setempat, BPBD, hingga rumah sakit. Respon masyarakat sangat baik," katanya.

Ia juga mengungkap kisah haru warga yang kehilangan rumah akibat banjir bandang, serta kondisi sumur warga yang penuh lumpur dan tak lagi layak digunakan.

"Di situlah peran kami hadir, mencoba membantu penyaringan air bersih dan meringankan beban mereka,"pungkasnya.(*)

Zulkarnaen Jumar Taufik (UNHAS TV)