UNHAS.TV - Diabetes tipe 2, yang dulunya dikenal sebagai penyakit orang tua atau "kencing manis usia lanjut", kini semakin mengintai generasi muda, khususnya mereka yang berusia 20-an.
Fenomena ini bukan lagi kasus langka, melainkan tren global yang mengkhawatirkan, termasuk di Indonesia. Gaya hidup modern menjadi pendorong utama pergeseran ini.
Menurut berbagai sumber kesehatan, prevalensi diabetes tipe 2 pada usia muda terus naik. Di Amerika Serikat, CDC mencatat semakin banyak anak, remaja, dan dewasa muda yang terdiagnosa diabetes tipe 2 dibandingkan masa lalu. Proyeksi menunjukkan peningkatan signifikan hingga tahun 2060 jika tren obesitas dan gaya hidup tidak berubah.
Peningkatan penderita diabetes tipe 2 di Inggris juga makin mengkhawatirkan karena umumnya merupakan perempuan muda berusia 20-an. Peningkatan ini sebagian besar terjadi sejak pandemi Covid dan terkait erat dengan peningkatan tingkat obesitas, menurut analisa data NHS dari tahun 2011 hingga 2024.
Diabetes tipe 2 adalah penyakit serius, dan dapat menyebabkan komplikasi parah, seperti serangan jantung dan stroke. Ketika berkembang di usia muda, penyakit ini cenderung lebih agresif, meningkatkan risiko komplikasi yang menghancurkan dan memperpendek usia, menurut Diabetes UK.
Peringatan dini
Sangat penting bagi mereka yang berisiko untuk didiagnosis sejak dini untuk mencegah kerusakan organ jangka panjang, kata badan amal tersebut. Diabetes tipe 2 terkadang dapat disembuhkan dengan mengonsumsi makanan sehat dan menjaga berat badan ideal tanpa perlu bergantung pada obat penurun glukosa.
Para peneliti mengatakan perawatan obesitas yang lebih baru - seperti suntikan dan pil GLP-1 - mungkin dapat membantu, bersamaan dengan saran tentang pola makan sehat.
Alarm Penting
Meningkatnya kasus diabetes tipe 2 di kalangan usia 20-an adalah sinyal alarm bagi generasi muda. Penyakit ini bukan lagi "masalah orang tua", melainkan ancaman yang bisa merenggut produktivitas dan kualitas hidup di masa depan.
Namun, ini juga peluang untuk berubah menjadi lebih sehat. Dengan kesadaran, disiplin, dan dukungan lingkungan, generasi muda bisa terhindar dari "bom waktu" ini.(*)
Ilustrasi gadis dengan diabetes melitus. Ilustrasi: AI Google








