MAKASSAR, UNHAS.T- Ekspor Iran ke kawasan Afrika melonjak 66 persen secara tahunan dalam sembilan bulan pertama tahun kalender Iran periode 21 Maret hingga 21 Desember 2025 dengan nilai perdagangan mencapai sekitar 940 juta dolar AS bersama 39 negara Afrika, sebuah perkembangan yang dilaporkan Tehran Times pada 1 Februari 2026.
Direktur Jenderal Kantor Afrika pada Organisasi Pengembangan Perdagangan Iran (TPO), Mohammadreza Safari, menyatakan peningkatan tersebut dipicu penguatan diplomasi dagang dan implementasi kebijakan pemerintah melalui gugus tugas Afrika yang mendorong konferensi kerja sama ekonomi Iran–Afrika serta persiapan forum lanjutan guna memperluas jejaring bisnis.
Safari menegaskan Iran perlu merumuskan strategi perdagangan dan investasi yang lebih terstruktur dan berkelanjutan untuk Afrika, dengan mencontoh pendekatan investasi langsung Tiongkok di sektor infrastruktur dan strategi kewirausahaan Turki yang mengembangkan jaringan industri swasta berbasis investasi.
Pada Desember sebelumnya, Ketua Kamar Dagang Bersama Iran–Afrika Masoud Berahman menyampaikan bahwa pemerintah akan menopang ekspansi perusahaan Iran melalui skema penjaminan kredit ekspor dan pembiayaan pembangunan, termasuk dukungan hingga 3 miliar dolar AS dari Export Guarantee Fund of Iran serta sekitar 2 miliar euro dari National Development Fund untuk proyek wirausaha dan perdagangan.
Berahman menilai Afrika dengan populasi sekitar 1,45 miliar jiwa menawarkan peluang besar bagi produk industri, jasa teknik, energi, farmasi, serta teknologi rekayasa Iran, namun ia mengingatkan perlunya peta jalan perdagangan yang komprehensif, digitalisasi sistem ekspor, dan penguatan diplomasi ekonomi agar Iran tidak terjebak dalam pola perdagangan yang terfragmentasi.
Ia juga menyoroti ketimpangan kapasitas diplomasi dagang dengan menyebut Turki memiliki 44 penasihat perdagangan di Afrika sementara Iran hanya memiliki tiga perwakilan aktif, sehingga perlu peningkatan peran atase perdagangan untuk memperluas penetrasi pasar dan memperkuat posisi Iran dalam persaingan Global South.
Secara makro, peningkatan perdagangan ini dipandang sebagai bagian dari strategi diversifikasi pasar Iran di tengah sanksi Barat dan pembatasan transaksi keuangan internasional, di mana Afrika menjadi ruang ekspansi alternatif untuk menjaga stabilitas devisa dan kesinambungan rantai pasok ekspor.

H. Abdul Razaq Z. Cangara, S.IP., M.Si., M.IR., dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin, menilai lonjakan 66 persen ekspor Iran ke Afrika sebagai bentuk reposisi strategi geopolitik ekonomi di tengah tekanan sanksi global dan menguatnya kerja sama Global South.
Redaksi Unhas TV kemudian mengonfirmasi perkembangan tersebut kepada H. Abdul Razaq Z. Cangara, S.IP., M.Si., M.IR., dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin, pada Sabtu, 14 Februari 2026, yang menilai lonjakan 66 persen ekspor Iran ke Afrika bukan sekadar capaian perdagangan melainkan bentuk reposisi geopolitik ekonomi dalam kerangka realisme hubungan internasional.
Menurutnya, di tengah tekanan sanksi dan dominasi sistem finansial global berbasis dolar, Iran berupaya mempertahankan ruang manuver strategis melalui diversifikasi mitra dagang di luar orbit Barat dengan memanfaatkan kebutuhan industrialisasi Afrika yang tinggi serta pertumbuhan kelas menengah yang terus meningkat.
Ia menjelaskan bahwa tren ini sejalan dengan dinamika kerja sama Global South–South yang kian menguat, di mana negara-negara berkembang membangun jaringan perdagangan alternatif yang lebih multipolar dan relatif otonom dari pusat ekonomi tradisional.
H. Abdul Razaq menambahkan bahwa secara struktural Afrika kini menjadi arena kompetisi pengaruh antara Tiongkok, Turki, Rusia, dan negara-negara Barat, sehingga penetrasi Iran lebih tepat dibaca sebagai fase awal konsolidasi ekonomi yang bertujuan membangun ketahanan jangka panjang melalui investasi, penguatan logistik, serta kolaborasi industri dan teknologi.
Dalam konteks global yang diwarnai ketidakpastian geopolitik dan fragmentasi rantai pasok, ia menilai diversifikasi pasar seperti ini berpotensi menciptakan stabilitas ekonomi yang lebih inklusif bagi negara-negara berkembang sekaligus membuka peluang kolaborasi energi, pangan, kesehatan, dan manufaktur yang lebih berkeadilan dan bermartabat di antara kawasan Asia Barat dan Afrika.(*)
Ilustrasi peta Iran dan benua Afrika menggambarkan lonjakan 66 persen ekspor Iran ke 39 negara Afrika dalam sembilan bulan pertama tahun kalender Iran 2025, dengan total perdagangan mencapai 940 juta dolar AS, didorong penguatan diplomasi dagang, dukungan pembiayaan hingga miliaran dolar, serta strategi diversifikasi pasar untuk memperkuat ketahanan ekonomi di tengah dinamika global. (Ilustrasi dibuat oleh AI: Chat GPT).








