Sport

Luka Inggris, Amarah Thomas Tuchel, dan Kritik Donald Trump dari Tribun Piala Dunia

KRITIK TRUMP - Thomas Tuchel menanggapi kritik tajam dari Donald Trump terkait taktiknya di timnas Inggris. (Screenshot The Sun)

UNHAS.TV - Thomas Tuchel duduk di ruang konferensi pers di bagian bawah Stadion Miami dengan wajah yang masih menyimpan sisa kekalahan.

Hampir setengah jam ia menghadapi pertanyaan tentang malam buruk Inggris: keunggulan yang menguap, dua gol Argentina dalam tujuh menit terakhir, serta keputusan taktik yang dianggap terlalu takut untuk sebuah semifinal Piala Dunia.

Lalu nama Donald Trump muncul. Presiden Amerika Serikat itu, dalam sebuah acara bersama Presiden FIFA Gianni Infantino, ikut mengomentari cara Inggris mempertahankan keunggulan.

Trump menilai Tuchel melakukan kesalahan ketika mengubah peran Harry Kane menjadi lebih defensif pada babak kedua.

“Mereka memimpin, lalu menempatkan pemain terbaik mereka di pertahanan,” kata Trump. “Apa yang saya tahu tentang melatih sepak bola? Tetapi itu sedikit tidak biasa.”

Tuchel tidak membutuhkan waktu lama untuk membalas. Ia menatap penanya sebelum melontarkan kalimat yang segera menjadi tajuk di media Inggris.

“Anda menggunakan Donald Trump sebagai saksi untuk kasus ini?”

Jawaban itu terdengar seperti sindiran. Namun setelahnya, Tuchel kembali ke wilayah yang lebih akrab baginya: papan taktik, blok pertahanan, dan struktur tim.

Menurut pelatih asal Jerman tersebut, Inggris tidak secara khusus menjadikan Kane sebagai pemain bertahan. Seluruh pemain memang diwajibkan turun ketika Argentina mendorong Inggris masuk ke area sendiri.

“Kami bertahan dalam blok rendah,” ujar Tuchel. “Itulah yang dilakukan sebuah tim ketika bertahan dalam blok. Kami bertahan dengan sepuluh atau sebelas pemain. Jika kami dipaksa mundur, semua pemain harus bertahan.”

Penjelasan itu belum cukup meredakan amarah publik Inggris. Tim Tiga Singa tersingkir setelah kehilangan kendali pada bagian akhir pertandingan.

Anthony Gordon, pencetak gol Inggris, ditarik keluar pada menit ke-72. Tuchel memasukkan bek Ezri Konsa, sebuah pergantian yang dipandang sebagai tanda bahwa Inggris memilih bertahan daripada mencari gol kedua.

Harry Kane bahkan tidak mencatatkan sentuhan di dalam kotak penalti lawan. Kapten Inggris itu lebih sering berada jauh dari gawang Argentina, berupaya menutup jalur operan dan membantu pertahanan.

Ketika tekanan meningkat, Inggris semakin dalam. Argentina kemudian menghukum mereka dengan dua gol menjelang laga berakhir.

Kekalahan itu segera membuka kembali luka lama sepak bola Inggris. Tim tersebut berulang kali datang ke turnamen besar dengan skuad yang dinilai mampu menjadi juara, tetapi pulang sebelum mengangkat trofi.

Di bawah Gareth Southgate, Inggris pernah mendekati gelar, termasuk ketika mencapai final Piala Eropa. Bersama Tuchel, harapan itu tumbuh lagi—sebelum runtuh di hadapan Argentina.

Kritikan Mantan Timnas Inggris 

Sejumlah bekas pemain Inggris bereaksi keras. Michael Owen menyebut permainan Inggris “buruk” dan menyerupai tim pub.

Nicky Butt bahkan menilai pendekatan Tuchel sebagai taktik yang tidak masuk akal. Mantan gelandang Manchester United itu termasuk pihak yang meminta Asosiasi Sepak Bola Inggris atau FA memecat sang pelatih.

Tuchel, 52 tahun, memilih menerima serangan tanpa menunjuk pemain tertentu sebagai penyebab kekalahan.

“Saya bertanggung jawab,” katanya. “Jika semuanya lebih mudah ketika seseorang menerima kesalahan, saya akan menerimanya. Itu bukan masalah.”

Namun ia menolak terlibat dalam permainan saling menyalahkan. Bagi Tuchel, kekalahan tersebut merupakan beban bersama. Para pemain dan staf, kata dia, justru menjadi pihak yang paling lama menanggung akibatnya.

“Ini rasa sakit kami, rasa sakit saya, dan rasa sakit para pemain,” ujar Tuchel. “Kami yang paling merasakannya. Ini akan menjadi bekas luka yang kami bawa.”

Tuchel mengakui rasa kecewa tidak berkurang setelah pertandingan berakhir. Sebaliknya, kekalahan itu terasa semakin berat dari hari ke hari.

Ia menggambarkan pengalaman tersebut sebagai salah satu konsekuensi paling kejam dalam olahraga tingkat tinggi: sebuah tim dapat bekerja bertahun-tahun, lalu kehilangan kesempatan hanya dalam beberapa menit.

Inggris masih memiliki satu pertandingan tersisa, yakni perebutan tempat ketiga melawan Prancis. Laga itu tidak menjadi tujuan awal siapa pun.

Empat tim semifinal tentu lebih ingin berada di final di New York. Namun kemenangan atas Prancis dapat memberi Inggris hasil terbaik di Piala Dunia sejak menjadi juara pada 1966.

“Tidak ada yang ingin berada dalam pertandingan ini,” kata Tuchel. “Tetapi ini tetap pertandingan resmi Piala Dunia. Kami memiliki kesempatan meraih hasil terbaik Inggris dalam 60 tahun. Ini pertandingan besar.”

Bermain 10 Orang Lawan Meksiko 

Tuchel juga berusaha menjelaskan kondisi fisik para pemainnya. Inggris sebelumnya harus bermain dengan sepuluh orang saat menghadapi Meksiko.

Mereka kemudian menjalani laga berat melawan Norwegia dalam kelembapan Miami yang menguras tenaga. Menurut dia, rangkaian tersebut memengaruhi daya tahan tim saat berhadapan dengan Argentina.

Meski begitu, persoalan Inggris tidak berhenti pada kelelahan. Tuchel menilai masih terdapat jarak antara timnya dan negara-negara yang dalam beberapa tahun terakhir terbiasa memenangkan turnamen.

Argentina, Prancis, dan Spanyol telah membangun identitas permainan dalam waktu panjang. Mereka juga memiliki pengalaman menghadapi tekanan pada fase paling menentukan.

“Kesenjangan itu masih ada karena gelar yang dimiliki Argentina, Prancis, dan Spanyol,” ujar Tuchel. “Mereka telah membangun tim bersama pelatih dalam waktu bertahun-tahun.”

Menurut Tuchel, jarak tersebut terlihat dari tingkat ekspektasi. Di negara-negara itu, mencapai semifinal belum dianggap cukup.

Mereka datang untuk menjadi juara. Inggris juga membawa mimpi serupa, tetapi belum mampu menjalankan permainan terbaik ketika tekanan memuncak.

Tuchel masih terikat kontrak hingga setelah Piala Eropa 2028. FA dikabarkan tetap mendukungnya meski kritik semakin keras. Ketika ditanya apakah tekanan publik dapat mengubah keputusannya untuk bertahan, Tuchel menjawab dengan nada menantang.

“Saya tidak dapat mengubah pikiran saya tentang keinginan untuk melanjutkan pekerjaan ini,” ujar mantan pelatih Borussia Dortmund itu.

Di balik jawaban itu, Tuchel memahami bahwa pertandingan melawan Prancis bukan sekadar perebutan medali perunggu.

Laga tersebut menjadi kesempatan mempertahankan kepercayaan, memulihkan harga diri, dan menunjukkan bahwa Inggris belum benar-benar runtuh.

Kekalahan dari Argentina tetap akan dikenang sebagai malam ketika Inggris kehilangan final dalam tujuh menit.

Tuchel mungkin dapat membela blok rendah, keputusan pergantian pemain, dan peran Kane. Namun, seperti yang ia akui sendiri, bekas luka itu akan tinggal lebih lama daripada semua perdebatan taktik. (*)