Pendidikan

Mahasiswa Unhas Ubah Serai dan Pandan Jadi Senjata Alami Melawan Kutu Beras

TIm Pharmacount

MAKASSAR, UNHAS.TV - Masalah yang sering dihadapi saat menyimpan beras adalah penurunan kualitas beras akibat serangan kutu beras (Sitophilus oryzae). Serangga kecil ini dapat mempercepat kerusakan, menurunkan mutu, serta meningkatkan kehilangan hasil pascapanen. 

Persoalan tersebut mendorong lahirnya inovasi berbasis bahan alam dari tim Pharmacount dari Universitas Hasanuddin melalui Riceva (Rice Protection with Natural Volatile Aroma). 

Inovasi Riceva ini Pharmacount meraih Juara III pada Business Plan Competition dalam Lokakarya Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia (FKPTPI) Wilayah Timur 2026. 

Kompetisi diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Udayana, di The Patra Bali Resort & Villas, Bali, pada 23 Juli 2026. 

Riceva adalah paper strip yang memanfaatkan minyak atsiri serai wangi dan ekstrak pandan wangi sebagai sumber senyawa volatil alami untuk membantu melindungi beras selama penyimpanan.

Minyak atsiri dari serai wangi mengandung senyawa seperti sitronelal, sitronelol, dan geraniol yang secara ilmiah dapat menjadi penolak berbagai jenis serangga. 

Adapun pandan wangi menghasilkan senyawa aromatik alami yang tidak hanya memberikan aroma khas, tetapi juga berpotensi memperkuat efek pengusiran hama. 

Melalui formulasi dalam bentuk paper strip, kedua bahan tersebut dirancang melepaskan senyawa volatil secara bertahap sehingga dapat membantu menciptakan lingkungan penyimpanan yang kurang disukai kutu beras tanpa harus bersentuhan langsung dengan bahan pangan.

Tim Pharmacount terdiri atas Humairah Afifah (Farmasi 2023), Afiya Nahda Hesa (Farmasi 2024), Artika Sari Supardy (Akuntansi 2024), dan Adinda Yulia (Akuntansi 2024) yang dibimbing oleh Prof Dr Herlina Rante SSi MSi Apt.

Ketua tim, Humairah Afifah, menjelaskan bahwa keunggulan Riceva terletak pada pemanfaatan bahan alami yang aman untuk penyimpanan pangan dengan bentuk penggunaan yang sederhana dan praktis.

"Kami berharap RICEVA dapat menjadi alternatif perlindungan beras yang lebih aman, praktis, dan ramah lingkungan," ujar Humairah.

Pemanfaatan bahan-bahan hayati lokal tidak hanya berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia sintetis, tetapi juga membuka peluang hilirisasi komoditas pertanian Indonesia menjadi produk bernilai tambah.

Menurut Humairah, Riceva dirancang dapat digunakan secara luas, mulai dari rumah tangga, mahasiswa yang tinggal di kos, pelaku UMKM pangan, hingga toko beras dan sembako. Bentuk paper strip membuat produk mudah ditempatkan di dalam wadah penyimpanan tanpa memerlukan perlakuan khusus.

Direktur Kemahasiswaan Unhas Prof Dr Ir Suhasman SHut MSi IPM menjelaskan bahwa keberhasilan tim Pharmacount adalah bukti inovasi mahasiswa berbasis riset. 

"Inovasi ini menjawab persoalan sehari-hari yang dihadapi masyarakat, yang dibangun dengan basis ilmiah sebagai hasil riset yang kuat," kata Prof. Suhasman.(*)