News
Travel

Maroko dan Orang-Orang yang Saya Temui di Jalan

Catatan Perjalanan Eka Sastra di Mesir, Maroko, dan Andalusia (2)

Ini kali kedua saya ke Maroko. Tahun lalu saya sempat singgah di Casablanca, tapi waktunya pendek sekali, rasanya belum sempat benar-benar berkenalan dengan negeri di ujung barat dunia Arab ini. Tahun ini saya datang lagi, dengan rute yang lain.

Saya masuk ke Maroko dari Mesir, dan dari sini rencananya menyeberang ke Andalusia. Dalam hati, saya sedang mengikuti sebuah garis di peta lama, jalur menyebarnya Islam dari Timur Tengah ke Afrika Utara lalu ke Semenanjung Iberia.

Saya tidak sedang bernostalgia soal kejayaan masa lalu. Saya cuma penasaran bagaimana sebuah peradaban meninggalkan bekas pada kota, bangunan, bahasa, makanan, dan cara orang hidup.

Anehnya, makin jauh saya berjalan, yang paling membekas justru orang-orangnya. Bangunan bisa saya lihat di foto. Orang-orang yang saya temui di jalan tidak.

Dari Cairo saya tiba di Marrakech. Kotanya langsung terasa lain. Warnanya warna tanah, merah kecokelatan di mana-mana. Lorong-lorong medina penuh orang.

Pedagang memanggil siapa saja yang lewat, sepeda motor nyelip di gang yang sempitnya minta ampun, dan bau rempah bercampur bau makanan datang bergantian. Kota tua ini kayaknya tidak pernah tidur.

Di Marrakech kami ditemani Ahmad Eddine. Tugasnya sebenarnya sopir, tapi lama-lama dia lebih mirip kawan yang mengajak saya dan istri berkeliling kota. Ahmad gampang sekali pindah dari satu bahasa ke bahasa lain.





Sepanjang jalan dia menjelaskan tempat-tempat yang kami lewati, cerita soal kehidupan orang Maroko, dan dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan kecil kami. Pertanyaan remeh seperti itu, menurut saya, yang bikin perjalanan jadi hidup.

Dari awal ada satu hal yang bikin kami senyum-senyum: kumisnya. Melengkung rapi di kedua ujung. Entah kenapa setiap lihat kumis itu saya teringat Charlie Mortdecai. Akhirnya saya bilang juga ke dia. Ahmad tertawa.

Obrolan begitu jelas tidak penting buat siapa-siapa, tapi dari hal-hal kecil seperti itu kota yang asing pelan-pelan jadi terasa dekat.

Dari Marrakech kami naik ke utara, ke Tangier. Marrakech itu seperti labirin yang menarik kita masuk ke dalam sejarahnya. Tangier sebaliknya, kota ini seperti selalu menoleh ke luar. Ke laut, ke Selat Gibraltar, ke Eropa yang cuma beberapa puluh kilometer di seberang.

Di Tangier kami bertemu Youssef Hayati. Anaknya masih muda. Yang bikin saya kagum, dia lancar bicara bahasa Arab, Inggris, Prancis, dan Spanyol. Saya pikir kemampuan seperti itu tidak datang begitu saja.

Maroko memang ada di persimpangan. Afrika ketemu Arab, Mediterania ketemu Atlantik, dan Eropa cuma di seberang laut. Di tempat seperti ini bahasa lebih dari alat bicara. Bahasa jadi pintu untuk masuk ke dunia orang lain, dan orang yang bepergian selalu butuh pintu itu.

Pertemuan lain terjadi waktu kami makan seafood di tempat Chef Hassan. Di sana kami berkenalan dengan sepasang tamu dari Irlandia. Awalnya obrolan biasa saja, basa-basi khas sesama pelancong.

Lalu salah satu dari mereka cerita bahwa dulu dia tentara PBB dan pernah bertugas di Timor Timur.

Saya diam sebentar. Kami sedang duduk di restoran di Tangier. Dia orang Irlandia, saya orang Indonesia, dan yang tiba-tiba menyambungkan kami adalah Timor Timur. Dunia mendadak terasa kecil sekali. Jarak yang di peta kelihatan begitu jauh, ternyata bisa jadi dekat di satu meja makan.

Ada juga kejadian yang lebih sepele. Suatu kali kami kerepotan mengangkat koper. Sepasang suami-istri dari Alabama melihat dan langsung turun tangan, tanpa banyak tanya. Cuma sebentar, setelah itu kami jalan masing-masing. Hampir pasti kami tidak akan bertemu lagi. Tapi entah kenapa kejadian itu terus saya ingat.

Sehari-hari kita membawa banyak label. Indonesia, Amerika, Maroko. Asia, Afrika, Eropa. Agama, bahasa, kewarganegaraan. Tapi ada momen-momen ketika label itu seperti hilang semua. Yang ada tinggal satu orang yang butuh bantuan dan satu orang lain yang mau membantu.

Makin sering bepergian, saya makin yakin dunia ini jauh lebih rumit daripada yang kita lihat di berita, sekaligus jauh lebih sederhana. Dari jauh kita mengenal sebuah negara lewat politiknya, ekonominya, perangnya, angka-angkanya. Begitu datang sendiri, yang kita temui manusianya.

Sopir yang tertawa waktu kumisnya dibandingkan dengan tokoh film. Anak muda yang bisa gonta-ganti empat bahasa. Bekas tentara Irlandia yang sebagian hidupnya pernah dia habiskan di Timor Timur.

Pasangan dari Alabama yang membantu mengangkat koper. Mereka tidak akan masuk buku sejarah, tapi merekalah yang membuat perjalanan ini punya cerita.

Tahun lalu Casablanca yang memperkenalkan saya pada Maroko. Tahun ini Marrakech dan Tangier mempertemukan saya dengan orang-orangnya.

Pagi waktu meninggalkan Tangier, kami ke pelabuhan. Kapal akan membawa kami menyeberangi Selat Gibraltar ke Tarifa. Dari Mesir ke Maroko lalu ke Andalusia, saya merasa sedang menyusuri lagi jalur lama yang dulu menyambungkan dunia Islam dari timur ke barat.



Berabad-abad lalu, orang, ilmu, dagangan, agama, dan kekuasaan lewat di jalur yang kurang lebih sama. Saya lewat di situ sekarang sebagai pejalan biasa. Yang saya bawa cuma koper, kamera, ingatan tentang buku-buku yang pernah saya baca, dan rasa penasaran.

Kapal mulai bergerak dan Tangier pelan-pelan menjauh. Dari dek saya melihat daratan Afrika makin kecil di belakang, sementara di depan garis pantai Eropa mulai kelihatan. Andalusia sudah dekat.

Di situ saya sadar perjalanan ini bukan sekadar pindah dari satu negara ke negara lain. Mesir meninggalkan saya dengan pertanyaan soal peradaban dan waktu. Maroko meninggalkan wajah-wajah orang yang saya temui. Andalusia, kita lihat nanti.

Kita berangkat karena ingin melihat tempat, tapi yang kita bawa pulang ternyata orang-orang. Dan saya kira kebaikan kecil seperti yang saya terima di Maroko memang tidak butuh paspor untuk menyeberang ke mana-mana.


*Eka Sastra adalah Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Ilmu Eknomi (IKAIE), Universitas Hasanuddin