
TIDAK PENALTI - Sadio Mane beruntung terhindar dari penalti setelah menerjang Kylian Mbappe di dalam kotak penalti. (Screenshot The Sun)
Kesalahan itu tidak berulang. Pada pertengahan babak kedua, Olise mengirim umpan tajam dari area dalam. Mbappe membaca garis pertahanan Senegal dengan cermat, menyusup di antara bek, lalu menyambar bola dari jarak dekat.
Gol itu menjadi gol ke-13 Mbappe di Piala Dunia. Ia kini hanya terpaut tiga gol dari rekor sepanjang masa milik striker Jerman Miroslav Klose.
Mbappe merayakan gol tersebut dengan gestur memainkan seruling, merujuk pada masa kecilnya yang sempat dekat dengan dunia musik.
Selebrasi itu juga menjadi pesan bahwa Prancis sudah menemukan nadinya. Beberapa detik kemudian Senegal sempat membalas melalui penyelesaian keras Jackson, tetapi gol tersebut dianulir karena offside.
Deschamps kemudian memasukkan Barcola menggantikan Dembele. Pergantian itu langsung membuahkan hasil. Dengan sentuhan pertamanya, Barcola mencungkil bola melewati Mendy untuk membawa Prancis unggul 2-0.
Gol itu menegaskan kedalaman skuad Prancis, yang dapat mengganti satu talenta elite dengan talenta lain tanpa menurunkan intensitas serangan.
Bagi Senegal, situasi menjadi berat karena ruang yang mereka tinggalkan saat mengejar gol justru memberi Prancis lebih banyak peluang transisi.
Senegal belum menyerah. Pada masa tambahan waktu, remaja Ibrahim Mbaye memperkecil kedudukan menjadi 2-1. Gol itu membuat pertandingan kembali hidup.
Namun harapan Senegal hanya bertahan sebentar. Dari kick off berikutnya, Mbappe mengambil bola, bergerak maju, dan melepaskan tembakan jarak jauh yang menaklukkan Mendy. Skor berubah 3-1. Gol tembakan jarak jauh pada masa tambahan waktu.
Gol kedua Mbappe malam itu punya arti historis. Dengan 58 gol untuk tim nasional, ia melewati Olivier Giroud sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Prancis.
Di usia produktif dan dengan panggung besar yang masih terbuka, Mbappe kini tidak hanya mengejar trofi, tetapi juga menulis ulang buku rekor sepak bola negaranya.
Senegal sempat memaksa Maignan melakukan penyelamatan di garis gawang pada detik-detik akhir. Tetapi momentum sudah menjadi milik Prancis. Setelah babak pertama yang tumpul, Les Bleus menunjukkan kualitas yang membuat mereka tetap dihitung sebagai kandidat juara.
Bagi seorang Deschamps, kemenangan ini lebih dari sekadar tiga poin. Prancis menghindari bayang-bayang Seoul 2002, menjaga status unggulan, dan mengirim pesan kepada para pesaingnya.
Mereka memang belum sempurna. Tetapi ketika mesin serangnya menyala, Prancis tetap berbahaya. Pertanyaan berikutnya tinggal satu, apakah Deschamps berani mempertahankan paket serangan semewah itu saat menghadapi Irak pada laga kedua? (*)


-300x169.webp)





