News
Program
Unhas Speak Up

MBG Dorong Kebutuhan Susu Nasional, Akademisi Unhas Tekankan Peran Peternakan dan Pendidikan

Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin sekaligus Ketua Milk and Dairy Products Research Group, Prof Dr drh Ratmawati Malaka MSc saat tampil dalam program Unhas Speak Up di Studio Unhas TV. (unhas.tv/paramitha)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak Indonesia, tetapi juga membawa dampak terhadap kebutuhan susu nasional.

Sejak program ini berjalan, kebutuhan susu nasional tercatat meningkat tajam dari sekitar 4,7 juta ton per tahun menjadi 8 juta ton per tahun.

Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin sekaligus Ketua Milk and Dairy Products Research Group, Prof Dr drh Ratmawati Malaka MSc, menyebut peningkatan kebutuhan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi sektor peternakan nasional.

“Program MBG pada dasarnya merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Susu menjadi salah satu komponen penting karena kandungan nutrisinya sangat lengkap dan mudah dicerna,” ujarnya.

Prof Ratmawati menjelaskan, susu merupakan produk pangan bernilai gizi tinggi dengan tingkat kecernaan hampir 100 persen. Kandungan protein, lemak, dan karbohidrat dalam susu sangat dibutuhkan terutama pada masa pertumbuhan anak dan ibu hamil.

Ia mencontohkan praktik di sejumlah negara maju seperti Jepang, yang telah lama menerapkan program konsumsi susu bagi ibu hamil dan anak sekolah.

Kebijakan tersebut terbukti berdampak pada peningkatan kualitas kesehatan dan pertumbuhan generasi muda.

“Pemberian susu sejak dini berpengaruh besar terhadap pertumbuhan fisik dan kesehatan jangka panjang. Ini yang menjadi dasar pentingnya susu dalam program MBG,” terangnya.

Meski kebutuhan susu meningkat, produksi susu lokal dinilai belum mampu mengimbangi laju pertumbuhan penduduk. Saat ini, sekitar 80 persen kebutuhan susu nasional masih dipenuhi melalui impor.

“Bukan produksinya yang menurun, tetapi pertumbuhan produksi susu dalam negeri lebih lambat dibanding pertambahan penduduk. Ini yang membuat ketergantungan impor semakin tinggi,” ungkap Prof Ratmawati. 

Ia menambahkan, pengembangan peternakan sapi perah di daerah seperti Sulawesi Selatan pernah dilakukan, namun terkendala pada manajemen, pakan, kesehatan ternak, dan rendahnya tingkat pendidikan peternak.

Menurut Prof Ratmawati, tantangan utama peternakan susu nasional meliputi ketersediaan pakan sepanjang musim, manajemen pemeliharaan sapi perah, kesehatan ternak, serta aspek pendidikan peternak.

“Peternakan sapi perah membutuhkan manajemen yang jauh lebih intensif dibanding sapi potong. Selain itu, peningkatan pendidikan sangat penting agar peternak mampu menyerap teknologi dan inovasi,” ujarnya.


Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin sekaligus Ketua Milk and Dairy Products Research Group, Prof Dr drh Ratmawati Malaka MSc saat tampil dalam program Unhas Speak Up di Studio Unhas TV. (unhas.tv/paramitha)


Ia menekankan bahwa peternak masa depan tidak harus identik dengan pendidikan rendah. Justru, peternak berpendidikan tinggi dinilai mampu mengelola usaha peternakan secara profesional dan berkelanjutan.

Terkait distribusi dalam program MBG, Prof Ratmawati menilai susu Ultra High Temperature (UHT) sebagai pilihan paling ideal. Selain aman dari mikroorganisme, susu UHT memiliki daya simpan panjang tanpa memerlukan pendinginan serta tetap mempertahankan nilai gizi.

“Susu UHT aman, praktis untuk distribusi skala nasional, dan kandungan gizinya tetap terjaga. Ini sangat sesuai untuk kebutuhan MBG,” jelasnya.

Ia juga meluruskan anggapan mengenai kandungan susu dalam produk MBG, dengan menyebut bahwa secara alami susu segar memang mengandung sebagian besar air, sehingga kandungan padatan gizi di dalamnya sudah sesuai dengan standar nutrisi.

Melalui Milk and Dairy Products Research Group, Fakultas Peternakan Unhas terus mengembangkan inovasi pengolahan susu, mulai dari susu pasteurisasi, keju, hingga pemanfaatan limbah whey menjadi produk bernilai tambah seperti mentega dan susu kental.

“Inovasi ini diharapkan dapat dihilirisasi dan diadopsi oleh industri, sekaligus melibatkan peternak lokal agar manfaat ekonominya dirasakan langsung,” kata Prof Ratmawati.

(Zulkarnaen Jumar Taufik / Unhas TV)