Opini

Membaca Badai dengan Nalar, Menjaganya dengan Nurani, Pengantar untuk Dwilogi

Oleh : Ir.Amril Taufik Gobel, ST, IPU, ASEAN Eng

Setiap generasi berhadapan dengan badainya sendiri. Para pendahulu kita menghadapi badai penjajahan dan revolusi , badai yang datang dengan deru meriam dan asap mesiu. Generasi hari ini menghadapi badai yang jauh lebih senyap, namun tak kalah menggoyahkan: disrupsi teknologi yang mengubah cara kita bekerja, krisis pangan dan iklim yang mengancam meja makan kita, ketimpangan ekonomi yang menganga, banjir informasi yang tak pernah surut, serta algoritma yang perlahan mengubah cara kita berpikir dan merasa.

Dua jilid buku ini lahir dari keresahan menyaksikan semua itu  dan, pada saat yang sama, dari kecintaan yang tak pernah padam kepada Indonesia. Kecintaan kepada para penjaga nurani di lereng Rinjani, kepada petani yang menanam harapan di pucuk padi, kepada nelayan yang bertahan di tengah gelombang perubahan global, dan kepada generasi muda yang sedang mencari pijakan di zaman yang serba tak pasti.

Enam puluh tiga tulisan terhimpun di sini, seluruhnya pernah tayang di rubrik Opini Kabarika.id sepanjang 2025 hingga 2026, ditulis di sela-sela kesibukan saya sebagai praktisi di dunia konstruksi.

Jilid pertama, Negeri di Persimpangan, memuat 34 tulisan dalam empat bagian: Kemanusiaan dan Solidaritas; Pangan, Pertanian dan Lingkungan; Ekonomi dan Kebijakan Negara; serta Dunia Digital dan Kecerdasan Buatan. Keempatnya sesungguhnya adalah empat wajah dari satu pertanyaan yang sama: bagaimana kita merawat manusia, tanah, dan teknologi agar semuanya tetap berpihak pada kemanusiaan?








>> Baca Selanjutnya