Opini

Membaca Badai dengan Nalar, Menjaganya dengan Nurani, Pengantar untuk Dwilogi



Jilid kedua, Merawat Jiwa Bangsa, menghimpun 29 tulisan yang bergerak ke dalam : ke ruang yang kerap luput dari arah kebijakan pembangunan kita. Empat bagiannya yakni Kesehatan Jiwa, Raga dan Gaya Hidup Sadar; Demokrasi, Kekuasaan, Pers dan Kebenaran; Pendidikan, Budaya dan Identitas Bangsa; serta Dunia Kerja dan Kepemimpinan Masa Depan , adalah pilar-pilar yang menopang kewarasan, keadaban, dan empati kita sebagai sebuah bangsa.

Jika jilid pertama memotret negeri yang sedang berdiri di simpang jalan, jilid kedua bertanya: dengan bekal jiwa seperti apa kita hendak melangkah?

Sebab di tengah badai semacam ini, yang paling perlu kita jaga bukanlah semata angka pertumbuhan ekonomi atau kecanggihan teknologi, melainkan sesuatu yang jauh lebih hakiki : jiwa bangsa itu sendiri.

Sebagai insinyur yang menapaki dunia teknik sekaligus dunia kata, saya belajar bahwa setiap struktur memiliki titik kritis yang harus dijaga agar tidak runtuh. Demikian pula sebuah bangsa. Ia memiliki titik-titik rapuh yang tak selalu kasat mata, namun justru di sanalah ditentukan apakah ia akan bertahan atau patah diterpa zaman. Dari persilangan dua dunia inilah tulisan-tulisan ini mengalir: mencoba membaca realitas dengan logika seorang insinyur, sekaligus merasakannya dengan nurani seorang manusia.

Menulis, bagi saya, bukan pekerjaan sampingan. Ia adalah cara merawat kewarasan : ruang untuk menata pikiran, menjernihkan perasaan, dan menyumbangkan secercah perspektif bagi ruang publik yang kerap riuh oleh kebisingan.

Karena itu, tulisan-tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai kajian akademik yang kaku. Ia adalah refleksi seorang anak bangsa yang mencoba membaca zamannya dengan hati yang terbuka dan nalar yang jernih. Saya sadar sepenuhnya, opini bukanlah putusan akhir; ia adalah undangan untuk berdialog. Maka pembaca tidak saya ajak untuk sekadar menyetujui, melainkan untuk ikut berpikir, mempertanyakan, dan pada akhirnya menemukan sikapnya sendiri.

Saya juga menyadari bahwa buku ini jauh dari sempurna. Sebagai kumpulan refleksi atas peristiwa yang bergerak cepat, tentu ada pandangan yang kelak perlu diperbarui dan analisis yang dapat diperdebatkan. Tiada gading yang tak retak; segala kekurangan di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya.

Buku ini tidak akan pernah hadir tanpa uluran tangan, doa, dan kebaikan banyak pihak. Terima kasih terdalam saya persembahkan kepada keluarga tercinta — istri dan anak-anak saya — yang merelakan waktu-waktu kebersamaan kami tersita oleh malam-malam panjang menulis dan merenung. Kalian adalah rumah tempat saya pulang, dan alasan pertama mengapa setiap tulisan ini selalu bermuara pada harapan. Terima kasih kepada segenap pengelola Kabarika.id, media daring kebanggaan keluarga besar alumni Universitas Hasanuddin, yang telah membuka rumah bagi gagasan-gagasan saya; ia bukan sekadar tempat tulisan ini pertama kali dimuat, melainkan rahim yang mengandung dan membesarkannya. Terima kasih kepada Unhas Press yang berkenan menerbitkan dwilogi ini dengan penuh kesungguhan — sebab bagi saya, kembali ke almamater lewat sebuah karya adalah bentuk pulang yang paling bermakna: pulang ke akar, untuk kemudian melangkah ke cakrawala. Dan terima kasih kepada para pembaca setia, yang komentar, kritik, serta apresiasinya menjadi bahan bakar untuk terus menulis.

Jika ada satu benang merah yang mengikat seluruh tulisan dalam dua jilid ini, itulah keyakinan bahwa di tengah badai apa pun, kemanusiaan adalah jangkar yang tak boleh kita lepaskan.

Akhirnya, saya berharap dwilogi ini menjadi teman berpikir bagi siapa pun yang mencintai Indonesia . sebuah undangan untuk berhenti sejenak di tengah deru zaman, menajamkan nurani, dan bersama-sama merawat negeri ini agar tetap tegak melewati badai. Semoga di setiap halamannya kita menemukan bukan hanya potret zaman yang sedang kita arungi, tetapi juga pengingat akan tugas yang tak pernah usai: menjaga agar sekencang apa pun badai menerpa, jiwa bangsa ini tetap menyala.

Buku ini nantinya bisa diperoleh melalui tautan resmi Unhas Press. Terimakasih sekali lagi atas dukungan dan apresiasinya.(*)