Budaya
Hiburan
News

Membaca Dan Brown dalam Cermin Antropologi



Pesan dan tanda tangan Dan Brown dalam buku edisi Indonesia


Kini, ketika The Secret of Secrets berada di tangan saya, rasa itu muncul kembali. Bukan sekadar rasa penasaran pada alur cerita, tetapi nostalgia pada pengalaman awal membaca dunia sebagai rangkaian tanda. 

Maka membaca Dan Brown, bagi saya, akhirnya bukan soal percaya atau tidak pada teori konspirasi yang ia bangun.

Membacanya lebih merupakan pengalaman antropologis tentang bagaimana manusia membangun mitos modern, bagaimana institusi mempertahankan otoritas melalui narasi, dan bagaimana kita, sebagai pembaca, selalu tergoda oleh gagasan bahwa dunia menyimpan rahasia yang belum sepenuhnya kita pahami.

Dan justru di situlah, imajinasi saya mulai bermain: bagaimana jika Robert Langdon tidak berlari di lorong Vatikan atau museum Paris, tetapi mendarat di Jakarta?

Saya membayangkan ia memulai penyelidikan dari Gereja Sion di Kota Tua, gereja tertua di Jakarta, tempat jejak-jejak kolonial dan ingatan tentang kematian, perbudakan, serta perdagangan rempah berkelindan dalam sunyi.

Dari sana, mungkin sebuah manuskrip membawanya ke peta-peta tua VOC, tentang harta yang hilang, jalur pelayaran rahasia, dan konflik yang sengaja dihapus dari arsip resmi.

Lalu teka-teki itu membawanya lebih jauh ke masa sebelum kolonial: ke era Majapahit yang gemilang, ke simbol-simbol kosmologi Nusantara, ke prasasti dan naskah yang terserak di museum, pesantren, dan rumah-rumah tua yang tak lagi dibaca sebagai sumber pengetahuan, melainkan sekadar peninggalan bisu.

Di sanalah, mungkin, Langdon akan menemukan bukan hanya satu rahasia besar, tetapi banyak patahan sejarah Nusantara. Bnayak bagian-bagian masa lalu yang terputus, disenyapkan, atau dikaburkan oleh perubahan rezim, kolonialisme, dan politik ingatan. Bukan satu konspirasi tunggal, melainkan jaringan panjang penghapusan makna.

Dan mungkin, justru di situ letak petualangan sesungguhnya: bahwa negeri ini sendiri adalah novel penuh simbol yang belum selesai dibaca. Kota-kota kita, bangunan tua kita, manuskrip yang berdebu di rak-rak arsip, bahkan tradisi lisan yang nyaris hilang, semuanya adalah kode yang menunggu ditafsirkan.

Jika demikian, maka Dan Brown tidak lagi sekadar mengajak kita percaya pada rahasia besar dunia Barat, tetapi—secara tak langsung—mengingatkan bahwa kita pun hidup di atas lapisan-lapisan sejarah yang sama misteriusnya. Bedanya, teka-teki itu tidak berada di Roma atau Paris, melainkan di depan mata kita sendiri, di Jakarta, di Jawa, di pesisir-pesisir Nusantara.

Dan barangkali, di situlah tantangan yang lebih penting: bukan menunggu Robert Langdon datang, tetapi bertanya apakah kita sendiri cukup berani dan cukup ingin tahu untuk membaca simbol-simbol negeri kita, sebelum semuanya benar-benar hilang dari ingatan.


*Penulis adalah blogger, peneliti, dan Digital Strategist. Lulus di Unhas, UI, dan Ohio University. Pernah menjadi lulusan terbaik di Jurusan Antropologi, Universitas Indonesia.