Tim nasional Mesir akhirnya mematahkan kutukan adu penalti yang selama bertahun-tahun menghantui mereka. Dipimpin kapten Mohamed Salah, The Pharaohs menyingkirkan Australia melalui drama adu penalti setelah bermain imbang 1-1 hingga perpanjangan waktu, Sabtu (4/7/2026).
Kemenangan itu sekaligus menjadi sejarah baru bagi Mesir sebagai kemenangan pertama mereka pada fase gugur Piala Dunia dan memastikan tiket ke babak 16 besar.
Laga berlangsung ketat sejak menit awal. Australia, yang tampil dengan susunan pemain yang sama seperti ketika bermain imbang tanpa gol melawan Paraguay pada laga terakhir fase grup, langsung mengambil inisiatif serangan.
Pelatih Australia Tony Popovic mempertahankan komposisi tim yang dianggap telah menemukan keseimbangan.
Peluang pertama datang dari Cristian Volpato yang melepaskan tembakan keras hingga membentur mistar gawang. Tidak lama berselang, Jordan Bos menusuk dari sisi kanan sebelum dihentikan tekel bersih Ramy Rabia yang menggagalkan peluang emas Australia.
Namun, justru Mesir yang lebih dulu membuka keunggulan pada menit ke-13. Berawal dari situasi bola mati yang gagal diantisipasi sempurna lini belakang Australia, bek kiri Karim Hafez mengirim umpan silang melengkung ke dalam kotak penalti.
Ashour menyambut bola dengan sundulan keras dan terarah ke pojok kanan bawah yang gagal dijangkau kiper Australia.
Gol tersebut mengubah ritme pertandingan. Mesir memilih bermain lebih disiplin dengan pertahanan rapat, sementara Australia berupaya membangun tekanan melalui bola-bola mati dan lemparan ke dalam jarak jauh.
Salah satu peluang terbaik Australia lahir dari tembakan jarak jauh Aziz Behich, tetapi masih dapat diamankan dengan mudah oleh kiper Mostafa Shobeir.
Menjelang turun minum, duel fisik semakin intens. Salah satu benturan keras terjadi ketika Ramy Rabia menjatuhkan Jordan Bos pada masa injury time babak pertama, mencerminkan pendekatan agresif yang diterapkan Mesir demi mempertahankan keunggulan.
Memasuki babak kedua, Mesir hampir menggandakan keunggulan hanya dalam hitungan detik. Omar Marmoush berhasil lolos dari kawalan dan berhadapan langsung dengan penjaga gawang.
Namun, penyelesaian akhirnya melenceng tipis di samping gawang sehingga peluang emas itu terbuang sia-sia.
Australia memanfaatkan momentum tersebut untuk kembali mengendalikan permainan. Meski kesulitan menembus rapatnya pertahanan Mesir melalui permainan terbuka, mereka akhirnya menyamakan kedudukan lewat situasi bola mati.
Gol Bunuh Diri Hany
Gelandang Aiden O'Neill mengirim umpan melengkung ke area penalti yang berujung petaka bagi Mesir. Bek kanan Hany, yang sebelumnya sempat mengalami benturan keras di kepala, salah mengantisipasi bola sehingga sundulannya justru masuk ke gawang sendiri.
Gol bunuh diri itu membuat skor berubah menjadi 1-1 sekaligus menjadi catatan yang tidak diinginkan bagi sang pemain.
Pelatih Hossam Hassan kemudian menyiapkan sejumlah pergantian pemain ketika pertandingan memasuki 25 menit terakhir. Meski baru pulih dari cedera hamstring yang dialaminya pada laga terakhir fase grup melawan Iran, Mohamed Salah tetap dipertahankan di lapangan.
Keputusan tersebut nyaris membuahkan hasil pada penghujung waktu normal. Umpan silang akurat Salah berhasil disambut sundulan Ramy Rabia, tetapi penjaga gawang Australia Patrick Beach melakukan penyelamatan gemilang yang menggagalkan peluang kemenangan Mesir.
Sesaat kemudian Salah kembali menjadi kreator serangan dengan memberikan umpan matang kepada Haissem Hassan. Akan tetapi, tendangan pemain tersebut diblok bek tengah Australia Harry Souttar sebelum mengarah ke gawang.
Pada babak tambahan waktu, Mesir tampil lebih dominan. Salah memperoleh peluang terbuka, tetapi tembakan kaki kanannya melambung di atas mistar. Kapten Mesir itu juga sempat memperlihatkan aksi individu khasnya dengan melewati beberapa pemain lawan, meski tidak berujung gol.
Melihat pertandingan hampir dipastikan berakhir melalui adu penalti, Popovic mengambil keputusan taktis pada menit-menit terakhir perpanjangan waktu dengan memasukkan penjaga gawang veteran Mat Ryan menggantikan Patrick Beach. Pergantian itu dilakukan khusus untuk menghadapi babak adu penalti.
Strategi tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Penendang pertama Australia, Harry Souttar, gagal menjalankan tugasnya. Empat penendang berikutnya berhasil mencetak gol secara bergantian sebelum Mohamed Salah maju sebagai eksekutor ketiga Mesir.
Dengan tenang, mantan penyerang Liverpool itu melepaskan tendangan ke tengah gawang dan memperbesar keunggulan timnya.
Tekanan kemudian berbalik menghampiri Australia. Lucas Herrington yang menjadi penendang berikutnya gagal setelah sepakannya membentur mistar gawang. Kesempatan itu dimanfaatkan bek tengah Hossam Abdelmaguid yang menjadi penendang terakhir Mesir.
Eksekusi sempurnanya memastikan kemenangan Mesir sekaligus mengakhiri kutukan adu penalti yang selama ini membayangi tim berjuluk The Pharaohs.
Kemenangan tersebut memiliki makna emosional bagi Mohamed Salah. Dalam beberapa tahun terakhir, Mesir dua kali gagal mengatasi Senegal melalui adu penalti.
Mesir kalah, masing-masing pada final Piala Afrika dan babak play-off Piala Dunia. Pada kesempatan terakhir itu, Salah bahkan menjadi salah satu pemain yang gagal mengeksekusi penalti.
Kini, di bawah kepemimpinannya sebagai kapten, Mesir akhirnya membalikkan nasib. Meski belum tampil dalam performa terbaik setelah pulih dari cedera, kontribusi Salah pada momen-momen krusial menjadi pembeda.
Sejarah pun tercipta ketika Mesir untuk pertama kalinya memenangi pertandingan fase gugur Piala Dunia dan memastikan langkah ke babak 16 besar. (*)
ADU PENALTI - Para pemain Mesir merayakan kemenangan adu penalti 4-2 (1-1) atas tim Australia. (Screnshot The Sun)







