Sport

Mimpi Buruk Ronaldo: Portugal Gagal Menang, Kongo Cetak Sejarah di Piala Dunia



BUANG PELUANG - Portugal yang diperkuat Cristiano Ronaldo ditahan imbang 1-1 oleh Kongo dalam laga pembuka Grup K Piala Dunia 2026, Kamis (18/6/2026) dini hari. Ronaldo membuang banyak peluang mencetak gol. (Screenshot The Sun)


Gol itu bukan hanya penyama kedudukan. Bagi Kongo, itu adalah sejarah. Mereka terakhir tampil di Piala Dunia pada 1974 saat masih bernama Zaire.

Ketika itu, mereka pulang dengan catatan buruk, kebobolan 14 gol dan tidak mencetak satu pun gol. Kali ini, Kongo datang dengan cerita berbeda. Mereka mencetak gol, merebut poin, dan membuat Portugal tampak rapuh.

Babak kedua dibuka dengan suasana yang berubah. Kongo lebih percaya diri. Bakambu beberapa kali bergerak agresif, seolah mencium peluang untuk menciptakan kejutan lebih besar.

Portugal membutuhkan sosok yang mampu mengambil alih pertandingan. Tetapi Ronaldo belum juga menemukan bentuk terbaiknya.

Roberto Martinez, pelatih Portugal, melakukan pergantian pemain. Bernardo Silva ditarik keluar dan Francisco Conceicao masuk untuk memberi lebar serangan. Keputusan itu memberi variasi di sisi kanan.

Penyerang sayap Juventus itu beberapa kali mengirim bola ke area berbahaya. Namun, ketika peluang datang kepada Ronaldo, penyelesaiannya mengecewakan.

Salah satu momen terbaik Portugal terjadi ketika Conceicao menarik bola dari sisi kanan. Umpannya memang tidak sempurna, tetapi tetap memberi Ronaldo kesempatan menembak.

Sang kapten gagal memanfaatkannya. Tembakannya melebar jauh. Pada kesempatan lain, skenario serupa kembali terjadi. Ronaldo mendapat tekanan dari bek Kongo dan kembali mengirim bola keluar sasaran.

Joao Cancelo sempat memasukkan bola ke gawang lewat tendangan salto yang mengingatkan publik pada gaya Ronaldo pada masa jayanya. Namun, gol itu dianulir karena posisi offside.

Usaha Bakambu juga sempat mengenai tiang, meski kemudian dianggap melakukan pelanggaran terhadap Bruno Fernandes. Pertandingan berjalan makin terbuka, tetapi Portugal tetap tidak menemukan penyelesaian akhir yang meyakinkan.

Martinez terus melakukan perubahan. Rafael Leao masuk menggantikan Pedro Neto. Goncalo Ramos, penyerang tengah Paris Saint-Germain, juga diturunkan pada menit-menit akhir.

Namun, keputusan yang paling dipertanyakan adalah tetap mempertahankan Ronaldo di lapangan sampai akhir. Ramos masuk bukan menggantikan Ronaldo, melainkan Vitinha.

Dengan demikian, Portugal tetap menggantungkan harapan kepada kapten yang malam itu justru terlihat paling jauh dari performa terbaiknya.

Bruno Fernandes hampir mencetak gol kemenangan pada fase akhir pertandingan, tetapi tembakannya masih melebar tipis.

Tomas Araujo bahkan harus menghentikan Wissa dengan pelanggaran taktis ketika Kongo melancarkan serangan balik. Pemandangan itu menggambarkan arah pertandingan, Portugal frustrasi, Kongo percaya diri.

Hasil imbang ini menjadi pukulan telak bagi Portugal. Mereka datang dengan skuad bertabur bintang, termasuk pemain-pemain dari klub elite Eropa. Namun, laga pembuka memperlihatkan masalah serius di lini depan.

Ronaldo masih menjadi ikon, masih menjadi magnet, dan masih menjadi simbol generasi emas Portugal. Tetapi malam itu, simbol tersebut tidak cukup. Aksi di depan gawangnya hanya jadi bahan evaluasi.

Bagi Kongo, satu poin ini bernilai sejarah. Bagi Portugal, hasil ini menjadi peringatan. Dan bagi Ronaldo, pertandingan tersebut menjadi pengingat keras bahwa panggung besar tidak selalu memberi akhir indah bagi sang legenda.

Ia datang untuk menambah bab terakhir dalam kisah Piala Dunianya. Namun, yang muncul justru mimpi buruk, rekor tercatat, peluang terbuang, dan Portugal kehilangan kemenangan yang seharusnya bisa mereka raih. (*)