News
Sport

Misi 4 Bulan Igor Tudor, Selamatkan Spurs dari Jurang Degradasi

PELATIH INTERIM - Igor Tudor (47) ditunjuk sebagai Pelatih Interim Tottenham Hotspurs untuk tugas menyelamatkan Spurs dari degradasi. Tudor sendiri dipecat Juventus Oktober lalu. (the sun)

LONDON, UNHAS.TV - Klub Liga Inggris, Tottenham Hotspur, menunjuk Igor Tudor sebagai pelatih interim hingga akhir musim. Kesepakatan dengan pelatih asal Kroasia itu dicapai menjelang akhir pekan ini, menyusul pemecatan Thomas Frank pada Rabu (11/2/2026) pagi waktu setempat.

Keputusan itu diambil hanya beberapa jam setelah kekalahan Spurs dengan skor 1-2 dari Newcastle di kandang sendiri.

Hasil tersebut membuat Spurs tercecer, hanya lima poin di atas zona degradasi. Manajemen klub asal London Utara itu bergerak cepat mencari sosok yang dinilai mampu memberi dampak instan.

Tudor, 47 tahun, bukan nama asing di sepak bola Eropa. Mantan bek Juventus itu memulai karier kepelatihan bersama Hajduk Split pada 2013.

Sejak saat itu, ia telah menangani sembilan klub di lima negara berbeda. Namun, ini akan menjadi pengalaman pertamanya melatih di Inggris.

Manajemen Spurs menginginkan figur dengan rekam jejak cepat beradaptasi dan mampu mengangkat performa tim dalam waktu singkat.

Target jangka pendeknya jelas, menjauh dari ancaman degradasi. Untuk kursi pelatih permanen, klub berencana menunggu hingga musim panas ketika lebih banyak kandidat tersedia.

Salah satu nama yang masuk radar adalah Mauricio Pochettino. Mantan pelatih Spurs itu kini menangani tim nasional Amerika Serikat dan baru bisa tersedia setelah Piala Dunia 2026 berakhir.

Namun, sumber internal klub menyebutkan Tudor tetap berpeluang dipermanenkan jika mampu meninggalkan kesan kuat hingga akhir musim.



Statistik karier atau rekam jejak melatih Igor Tudor. (the sun)


Rekam jejak Tudor menunjukkan pola kerja yang tegas dan berani. Ia pernah melatih Galatasaray, PAOK, Lazio, hingga kembali ke Juventus sebagai pelatih kepala.

Di Turin, ia mengambil alih tim dalam situasi sulit setelah dua kekalahan beruntun. Hasilnya, Juventus hanya kalah sekali dalam sembilan laga terakhir Serie A dan mengamankan tiket Liga Champions.

Namun masa baktinya di sana tak panjang. Setelah tujuh bulan, ia dipecat pada Oktober tahun lalu ketika Juventus terjebak dalam delapan pertandingan tanpa kemenangan. Keputusan dewan klub mengakhiri kontraknya menjadi catatan tersendiri dalam perjalanan kariernya yang dinamis.

Bukan Sosok Asing

Spurs bukanlah klub asing bagi Tudor. Saat menangani Olympique de Marseille pada musim 2022-2023, ia dua kali menghadapi Tottenham di Liga Champions dan menelan kekalahan.

Ia juga sempat bekerja sama dengan penyerang Spurs, Randal Kolo Muani, ketika pemain Prancis itu menjalani masa pinjaman di Juventus musim lalu.

Secara taktik, Tudor dikenal menyukai sistem tiga bek dengan pendekatan agresif dan progresif. Dalam presentasi perdananya bersama Marseille pada 2022, ia menggambarkan filosofi bermainnya sebagai sepak bola yang berani dan intens.

“Saya ingin sepak bola yang berani dan intens, bukan hanya berbasis pertahanan,” ujarnya kala itu. Ia menekankan pentingnya menghibur penonton dan menuntut pemain yang memiliki gairah serta hasrat kuat.

Pendekatan itu selaras dengan kebutuhan Spurs yang musim ini kerap dikritik karena inkonsistensi dan rapuh di lini belakang. Dengan waktu tersisa yang terbatas, Tudor dituntut segera menemukan formula untuk menstabilkan ruang ganti dan memperbaiki posisi di klasemen.

Penunjukan ini menandai babak baru bagi Tottenham di tengah musim yang bergejolak. Dalam situasi mendesak, klub memilih pengalaman dan karakter tegas Tudor sebagai penyangga sementara.

Kini, publik London Utara menunggu: apakah tangan dingin pelatih Kroasia itu cukup untuk menyelamatkan musim Spurs, atau sekadar menjadi jembatan menuju era berikutnya. (*)