
Pimpinan Redaksi Unhas TV Supratman SS MSc PhD saat menerima MWA Unhas, Kamis (2/4/2026). (Unhas TV/Venny Septiani)
Nada serupa disampaikan Ketua Komite Audit MWA Unhas, Prof Kartini. Ia menyebut prospek beberapa unit bisnis Universitas Hasanuddin secara umum cukup menggembirakan.
Meski begitu, ia menekankan bahwa evaluasi tetap harus dilakukan terus-menerus, terutama pada unit yang masih menghadapi masalah.
Pandangan itu memperlihatkan bahwa MWA tidak sedang mencari kesimpulan hitam-putih. Yang dibangun justru kerangka pengawasan yang berkesinambungan, agar badan usaha kampus tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang secara sehat.
Wakil Ketua II MWA Unhas, Prof. Andi Niartiningsih, menempatkan monitoring dan evaluasi ini dalam konteks yang lebih luas.
Menjelang berakhirnya periode kepengurusan MWA pada 2027, kata dia, lembaga itu memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan kepada publik dan pengelola kampus seperti apa performa perusahaan-perusahaan milik Unhas.
Laporan itu penting bukan sekadar sebagai pertanggungjawaban, melainkan juga sebagai bahan evaluasi bagi pengelolaan berikutnya.
Pesan itu memperjelas posisi MWA yakni mereka ingin meninggalkan peta yang jernih tentang kondisi unit-unit usaha Unhas, termasuk Unhas TV.
Dengan begitu, evaluasi tidak berhenti sebagai catatan administratif, tetapi menjadi dasar pengambilan keputusan. Dalam bahasa yang lebih sederhana, MWA ingin memastikan bahwa setiap unit usaha kampus tidak bergerak tanpa arah dan tidak dibiarkan hidup hanya karena status kelembagaannya.
Pimpinan Redaksi Unhas TV, Supratman, mengatakan tim MWA memberi sejumlah masukan agar pengelolaan Unhas TV ke depan bisa lebih maksimal.
"Forum monitoring dan evalusi dari MWA Unhas tersebut menghasilkan diskusi yang produktif mengenai posisi Unhas TV hari ini dan peluangnya pada tahun-tahun mendatang," ujarnya.
Ia mengakui, sebagai unit usaha, Unhas TV dituntut tidak sekadar eksis secara kelembagaan, tetapi juga bergerak menuju kinerja yang lebih sehat dari keuangan dan memberi keuntungan lebih baik.
Supratman menyebut Unhas TV sebenarnya telah menyiapkan program internal untuk memperbaiki performa. Namun, ia tidak menutup kenyataan bahwa penguatan kelembagaan media kampus berbasis pendidikan membutuhkan dukungan yang lebih luas.
Ia berharap dorongan itu tidak hanya datang dari lingkungan internal Unhas, tetapi juga dari masyarakat Sulawesi Selatan.
Menurut dia, posisi Unhas TV sebagai televisi pendidikan dan pengetahuan, memberi ruang penting untuk menghadirkan informasi yang edukatif di tengah arus media yang sering didominasi hiburan dan sensasi.
Pernyataan itu menandai persoalan mendasar yang tengah dihadapi banyak media institusi: menjaga misi edukasi tanpa mengabaikan tuntutan keberlanjutan usaha.
Unhas TV, dalam kerangka itu, sedang dibaca oleh MWA bukan cuma dari isi siaran, tetapi juga dari efektivitas manajemen, kemampuan tumbuh, dan peluang bisnisnya. Bagi MWA, ukuran performa unit usaha tidak bisa berhenti pada alasan idealisme semata.
Di ujung pertemuan, garis besarnya menjadi jelas. MWA ingin Unhas TV terus eksis, tetapi eksistensi saja tidak memadai. Kinerja harus naik, tata kelola harus dibenahi, dan orientasi pengembangan harus dibuat lebih tajam.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)








