CASABLANCA, UNHAS.TV - Tim nasional Nigeria kembali menegaskan dominasinya dalam laga perebutan tempat ketiga Piala Afrika.
Dalam pertandingan play-off peringkat ketiga Piala Afrika 2025 di Casablanca, Sabtu (17/1/2026) malam, Super Eagles menaklukkan Mesir dengan skor 4–2 melalui adu penalti setelah kedua tim bermain imbang tanpa gol sepanjang waktu normal.
Kemenangan ini memperpanjang rekor sempurna Nigeria dalam setiap laga perebutan tempat ketiga di sejarah turnamen Piala Afrika tersebut.
Penjaga gawang Stanley Nwabali tampil sebagai pahlawan Nigeria. Ia sukses membaca arah tembakan dua algojo Mesir dalam adu penalti. Aksi itu memastikan negaranya pulang dengan medali perunggu.
Keberhasilan itu membuat Nigeria kini mencatat rekor unik: selalu menang dalam delapan laga perebutan tempat ketiga yang pernah mereka jalani di putaran final Piala Afrika. Sebuah catatan yang belum mampu ditandingi negara mana pun di benua tersebut.
Nigeria sejatinya sudah memasuki laga ini dengan reputasi luar biasa. Setiap kali gagal melaju ke final, mereka selalu menutup turnamen dengan medali perunggu.
Kemenangan atas Mesir tidak hanya menjaga kesempurnaan rekor tersebut, tetapi juga menambah koleksi medali perunggu Nigeria menjadi sembilan sepanjang sejarah Piala Afrika. Jumlah itu semakin menjauhkan mereka dari para pesaing di level kontinental.
Mesir datang ke laga ini dengan catatan yang juga cukup solid. The Pharaohs sebelumnya memenangkan tiga dari lima laga perebutan tempat ketiga yang pernah mereka mainkan.
Namun, pengalaman dan ketenangan Nigeria dalam situasi tekanan tinggi kembali menjadi pembeda. Adu penalti menegaskan konsistensi Super Eagles sebagai tim yang paling efisien ketika harus menentukan nasib turnamen dalam satu pertandingan terakhir.
Sepanjang sejarah Piala Afrika, laga perebutan tempat ketiga kerap menghadirkan drama, gol melimpah, bahkan kontroversi.
Namun hubungan Nigeria dengan medali perunggu justru identik dengan kontrol permainan dan efektivitas. Dari kemenangan tipis atas Mali pada 2002, keberhasilan menundukkan Senegal pada 2006, hingga kemenangan 1–0 atas Tunisia pada 2019, Nigeria selalu menemukan cara untuk naik podium.
Edisi 2025 menambah satu bab penting dalam daftar tersebut. Nigeria melaju ke semifinal dengan status sebagai tim paling produktif dalam turnamen, sebelum akhirnya disingkirkan tuan rumah Maroko lewat adu penalti.
Meski gagal ke final, keberhasilan menutup turnamen dengan medali perunggu menjadi ganjaran nyata atas konsistensi mereka sepanjang kompetisi.
Kekecewaan bagi Skuad Mesir
Bagi Mesir, kekalahan ini menjadi akhir yang mengecewakan dari kampanye yang sempat menjanjikan. Mereka tampil impresif di perempat final dengan menyingkirkan Pantai Gading, namun gagal mempertahankan momentum.
Penantian Mesir untuk kembali meraih peringkat ketiga pun berlanjut, dengan catatan terakhir mereka di posisi tersebut terjadi lebih dari empat dekade lalu.
Secara historis, perebutan tempat ketiga Piala Afrika telah melahirkan banyak nama juara. Tunisia menjadi peraih tempat ketiga pertama pada 1962, disusul Mesir pada 1963.
Pantai Gading, Aljazair, Ghana, Mali, Kamerun, Maroko, dan sejumlah negara lain pernah bergantian naik podium. Nigeria sendiri mulai menegaskan dominasinya sejak akhir 1970-an, meski laga 1978 melawan Tunisia berakhir kontroversial dan dihentikan sebelum usai.
Memasuki era modern, Nigeria semakin identik dengan posisi ketiga. Mereka meraih perunggu pada 1992, 2002, 2004, 2006, 2010, 2019, dan kini 2025.
Kemenangan terbaru atas Mesir lewat adu penalti menempatkan Nigeria sebagai “raja” laga perebutan tempat ketiga Piala Afrika.
Dengan final Piala Afrika 2025 yang akan mempertemukan Maroko dan Senegal, Senin (19/1/2026) dini hari, perhatian publik kini beralih ke penentuan juara.
Namun bagi Nigeria, cerita turnamen ini telah selesai dengan satu kesimpulan tegas: sejarah mereka di laga perebutan tempat ketiga tetap utuh, tak tersentuh, dan terus bertambah kuat. (*)
Striker Victor Osimhen (rambut pirang) merayakan kemenangan Nigeria bersama rekan setimnya atas Mesir pada perebutan tempat ketiga Piala Afrika 2026, Casblanca, Maroko, Sabtu (17/1/2026) malam. (the afcon 2026)








