BUENOS AIRES, UNHAS.TV - Kepergian Lionel Messi dari tim nasional Argentina memunculkan kembali perdebatan tentang masa depan kostum bernomor punggung 10.
Setelah lebih dari dua dekade menjadi milik Messi, sebagian publik meminta Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) mengistirahatkan nomor tersebut sebagai penghormatan.
Namun, nomor 10 yang pernah dibesarkan Diego Maradona dan Messi dinilai semestinya tetap tersedia bagi generasi berikutnya.
Messi mengumumkan pensiun dari tim nasional Argentina pada Selasa (1/9/2026) lalu. Keputusan tersebut segera memicu gelombang perpisahan di seluruh negeri.
Anak-anak menangis di sekolah, jurnalis menitikkan air mata di televisi, dan surat kabar memenuhi halaman mereka dengan penghormatan kepada kapten La Albiceleste itu.
Saluran telepon bahkan dibuka agar suporter dapat menyampaikan rasa terima kasih kepada Messi. Pertandingan di Argentina pada akhir pekan juga sempat dihentikan pada menit ke-10 sebagai penghormatan kepada pemain yang selama bertahun-tahun identik dengan nomor tersebut.
“Saya telah mengosongkan diri saya. Saya tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan,” tulis Messi dalam pesan perpisahannya.
Mantan pemain Argentina yang menjuarai Piala Dunia 1986, Jorge Valdano, membalas pernyataan itu dengan kalimat singkat. “Dan kami penuh.”
Messi boleh merasa telah memberikan seluruh kemampuannya, tapi Argentina ditinggalkan dengan segala pencapaian yang telah ia berikan selama lebih dari dua dekade.
Messi mengakhiri perjalanan 21 tahun bersama tim nasional dengan 207 pertandingan resmi. Ia mencetak 125 gol dan menyumbangkan 68 assist.
Statistik itu menggambarkan besarnya ketergantungan Argentina terhadap pemain yang mengawali karier internasionalnya di Piala Dunia U-19 tersebut.
Di level senior, Ia tampil dalam enam Piala Dunia. Trofi yang selama bertahun-tahun menjauh darinya akhirnya diraih di Qatar pada 2022. Messi juga membawa Argentina ke dua final Piala Dunia lainnya, 2014 dan 2026.
Final terakhir berlangsung di Amerika Serikat kurang dari dua bulan lalu. Pada usia 39 tahun, Messi justru menjalani Piala Dunia paling produktif sepanjang kariernya dengan mencetak delapan gol dan empat assist.
Salah satu penampilan terakhirnya yang paling dikenang terjadi pada semifinal menghadapi Inggris di Atlanta. Argentina tertinggal hingga menit-menit terakhir sebelum membalikkan keadaan dan menang 2-1.
Pertandingan melawan Inggris memiliki bobot tersendiri bagi Argentina. Rivalitas kedua negara tidak pernah sepenuhnya terpisah dari sengketa Kepulauan Malvinas dan perang pada 1982.
Selepas semifinal, pemain Argentina membentangkan spanduk antikolonialisme yang menegaskan klaim negaranya atas kepulauan tersebut.
Kemenangan itu sekaligus mengingatkan publik Argentina kepada pemilik nomor 10 sebelum Messi: Diego Maradona. Pada Piala Dunia 1986 di Meksiko, Maradona mengantar Argentina menyingkirkan Inggris dalam perempat final yang menjadi salah satu pertandingan paling terkenal dalam sejarah sepak bola.
Bagi Messi, kemenangan atas Inggris ternyata menjadi pertunjukan besar terakhirnya. Empat hari kemudian, ia terlihat kehabisan tenaga ketika menghadapi Spanyol pada final. Argentina kalah 0-1 setelah perpanjangan waktu.
“Kaki saya menyerah,” tulis Messi kemudian dalam surat terbuka kepada ayahnya, yang meninggal 20 hari setelah pertandingan tersebut.
Sejumlah media internasional mengkritik sikap pemain Argentina setelah final. Ketika Spanyol menerima trofi Piala Dunia, pemain Argentina tetap berada di lapangan dan membelakangi seremoni. Beberapa pemain juga sempat terlibat konfrontasi setelah pertandingan.
Messi sendiri berdiri dengan mata berkaca-kaca menghadap pendukung Argentina. Di tengah kontroversi kekalahan itu, momen tersebut sekaligus menjadi salam perpisahan. Ia telah mengetahui bahwa pertandingan final akan menjadi laga terakhirnya bersama La Albiceleste.
Hubungan Messi dengan Argentina memang tidak selalu berjalan mulus. Selama bertahun-tahun, ia terus dibandingkan dengan Maradona.
Messi dianggap kurang menunjukkan gairah dan ekspresi seperti pendahulunya. Masa kecil yang dihabiskan di Barcelona juga pernah membuat kadar ke-Argentina-annya dipertanyakan.
Kritik semakin kuat ketika Messi gagal memberikan gelar utama bagi tim nasional selama lebih dari satu dekade. Setelah kalah dalam final Copa America 2016, ia bahkan pernah menyatakan mundur dari tim nasional sebelum akhirnya kembali.
Hubungan itu kemudian berubah. Serangkaian keberhasilan bersama Argentina, terutama gelar Piala Dunia 2022, mengubah Messi dari pemain yang pernah dipandang seperti orang luar menjadi simbol nasional.
Ia meninggalkan tim nasional dengan torehan piala dunia, bukan lagi dalam bayang-bayang Maradona, melainkan dengan warisannya sendiri.
Dari Maradona, Messi, lalu Siapa?
>> Baca Selanjutnya
NOMOR 10 - Lionel Messi dari Argentina merayakan gol pertama timnya saat melawan Kroasia dalam pertandingan semifinal Piala Dunia FIFA Qatar pada 13 Desember 2022. Nomor 10 yang dikenakan Messi kini mencari tuan yang baru. (Screenshot Al Jazeera)








