Pendidikan
Saintek

PharmSTeP 2026 Ditutup dengan Awarding dan Apresiasi Riset Farmasi, Annisa Terpilih Best Presenter

BEST PRESENTER - Annisa Amalanda, mahasiswa program magister Farmasi Unhas meraih predikat Best Poster Presenter dalam PharmSteP 2026 yang digelar Fakultas Farmasi di Hotel Aston, Minggu (16/8/2026). (Unhas TV / Venny Septiani Semuel)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Seminar Internasional PharmSTeP 2026 yang digelar Fakultas Farmasi Unhas resmi berakhir pada Minggu (16/8/2026), setelah berlangsung selama dua hari di Aston Makassar Hotel & Convention Center.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan closing ceremony dan pemberian penghargaan kepada peserta yang dinilai menonjol dalam penelitian dan presentasi ilmiah.

Pada hari kedua, PharmSTeP 2026 menghadirkan sejumlah sesi ilmiah yang mengulas epilepsi dari berbagai perspektif.

Pembahasan meliputi Tuberous Sclerosis Complex, farmakogenomik dan farmasi klinis dalam perawatan epilepsi, pengembangan obat dari sumber alami, hingga pemanfaatan teknologi dalam diagnosis dan pemantauan penyakit tersebut.

Sejumlah materi itu menjadi bagian dari upaya memperluas pengetahuan sekaligus mendorong pengembangan inovasi dalam penanganan epilepsi.

Forum tersebut mempertemukan peneliti, klinisi, praktisi, dan mahasiswa untuk bertukar gagasan serta memperkuat kolaborasi riset di bidang farmasi.

Puncak kegiatan ditandai dengan pemberian penghargaan kepada sejumlah peserta atas hasil penelitian dan presentasi selama seminar.

Salah seorang penerima penghargaan adalah Annisa Amalanda, mahasiswa program magister Farmasi Universitas Hasanuddin. Ia meraih predikat Best Poster Presenter.

Annisa mengatakan proses penelitian yang dipresentasikan dalam forum tersebut memiliki sejumlah tantangan. Salah satunya adalah pengumpulan sampel yang dilakukan secara daring dengan menjangkau responden dari berbagai daerah di Indonesia.

“Pengambilan sampelnya online seluruh Indonesia. Jadi, kami berkolaborasi dengan Yayasan Myasthenia Gravis,” kata Annisa.

Menurut dia, karakteristik responden menjadi tantangan tersendiri karena Myasthenia Gravis merupakan penyakit autoimun yang relatif jarang ditemukan dan didiagnosis.

Selain pengumpulan data, Annisa mengatakan proses publikasi hasil penelitiannya juga membutuhkan waktu dan tahapan yang tidak mudah.

Ia mengaku tidak menyangka poster penelitiannya akan memperoleh penghargaan. “Enggak expect sebenarnya. Karena buru-buru juga bikin posternya,” ujarnya.

Penghargaan tersebut menjadi salah satu bentuk apresiasi kepada mahasiswa yang mengembangkan penelitian sekaligus mempresentasikan temuannya dalam forum ilmiah.

Annisa menjelaskan, kesempatan mengikuti PharmSTeP juga menjadi pengalaman untuk memperkenalkan hasil riset kepada peserta dengan beragam latar belakang akademik dan profesi.

Ketua Panitia PharmSTeP 2026, Achmad Himawan SSi MSi PhD Apt, berharap pertemuan ilmiah tersebut tidak hanya menjadi ruang pertukaran pengetahuan.

"Kami berharap pertemuan ini juga mendorong lahirnya kerja sama baru antara akademisi, peneliti, praktisi kesehatan, dan mahasiswa dalam pengembangan riset farmasi serta penanganan epilepsi," pungkasnya. 

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)