Internasional
Sport

Nomor 10 Argentina Tak Boleh Pensiun, Dari Maradona, Messi, lalu Siapa?



Lionel Messi berperan besar membawa Argentina bangkit setelah tertinggal 0-2 berbalik menang 3-2 di Piala Dunia 2026. (Screenshot The Sun)


Pensiunnya Messi kemudian melahirkan usulan agar nomor punggung 10 ikut dipensiunkan. AFA telah menerbitkan video emosional untuk melepas sang kapten, tapi federasi tidak akan mengistirahatkan nomor tersebut. Dalam kompetisi resmi, aturan penomoran skuad FIFA juga membuat langkah itu sulit dilakukan.

Argentina pernah menghadapi tuntutan serupa setelah Maradona meninggal pada November 2020. Kepergiannya di tengah pembatasan sosial pandemi Covid-19 memicu duka nasional.

Ketika itu muncul pula desakan agar nomor 10 tidak pernah lagi digunakan. Namun, mengistirahatkannya berarti mengambil nomor tersebut dari Messi, yang telah mengenakannya bersama Argentina sejak 2009 dan ketika itu masih menulis sejarahnya sendiri.

Nomor 10 bagi sepak bola Argentina memang bukan sekadar angka di punggung pemain. Secara tradisional, nomor tersebut diberikan kepada pemain kreatif yang menjadi pusat permainan. Maradona kemudian memberinya makna lebih besar setelah Piala Dunia 1986.

Sebelum Maradona, Pele telah menjadikan nomor 10 sebagai simbol pemain jenius di panggung sepak bola dunia. Banyak pemain besar kemudian mengenakannya.

Namun di Argentina, beban sejarah nomor itu menjadi berbeda setelah dikenakan dua pemain terbaik yang pernah dimiliki negara tersebut.

Maradona dan Messi tampil dalam 10 dari 12 Piala Dunia terakhir yang diikuti Argentina. Masing-masing mempersembahkan satu gelar: Maradona pada 1986 dan Messi pada 2022.

Maradona juga membawa Argentina mencapai final Italia 1990. Messi melakukan hal serupa di Brasil pada 2014 dan Amerika Serikat pada 2026. Jika digabungkan, keduanya menghasilkan 29 gol di Piala Dunia.

Meski demikian, angka tidak sepenuhnya menjelaskan hubungan keduanya dengan masyarakat Argentina.

Maradona tumbuh sebagai figur yang ekspresif, penuh ledakan emosi, kontroversi, sekaligus kedekatan dengan masyarakat kelas bawah. Wartawan Spanyol Ramon Besa pernah menggambarkan jutaan warga Argentina sebagai “budak emosional” Maradona.

Messi mengambil jalan berbeda. Ia cenderung pendiam dan menjaga kehidupan pribadinya. Cara Messi menanggung beban sebagai nomor 10 juga berbeda dengan Maradona. Ia tidak menjadi Maradona kedua untuk mendapatkan tempatnya di Argentina.

Justru karena perbedaan itu, keberlanjutan nomor 10 menjadi penting. Messi mewarisi angka tersebut tanpa harus meniru Maradona. Ia mengisinya dengan karakter, permainan, dan perjalanan kariernya sendiri sampai akhirnya nomor itu kembali melekat kepada satu nama.

Pemain berikutnya juga semestinya memperoleh kesempatan serupa.

Argentina kini menghadapi masa transisi setelah kehilangan dua ikon terbesarnya. Maradona telah tiada. Messi kini meninggalkan lapangan internasional. Tidak ada jaminan negara itu segera menemukan pemain dengan pengaruh yang sama.

Namun sejarah sepak bola Argentina menunjukkan regenerasi tidak pernah benar-benar berhenti. Negeri itu terus menghasilkan pemain berbakat dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Nomor 10, karena itu, dapat dipandang bukan hanya sebagai warisan masa lalu, melainkan juga ruang bagi masa depan.

Mengistirahatkan nomor tersebut untuk menghormati Messi memang terdengar sebagai penghargaan tertinggi. Tapi keputusan semacam itu sekaligus dapat menutup kesempatan bagi pemain lain untuk membangun sejarahnya sendiri.

Maradona membuktikan nomor 10 dapat menjadi simbol sebuah bangsa. Messi kemudian menunjukkan nomor yang sama tidak harus dimainkan dengan cara yang sama. Keduanya mengangkat Argentina menjadi juara dunia melalui karakter yang berbeda.

Dalam bahasa Spanyol terdapat ungkapan *no hay dos sin tres*: tidak ada dua tanpa yang ketiga.

Saat ini, Argentina belum memiliki sosok ketiga itu. Bahkan mungkin tidak pernah ada Maradona atau Messi berikutnya. Tetapi selama nomor 10 tetap tersedia, kemungkinan tersebut tidak sepenuhnya tertutup.

Itulah sebabnya kostum tersebut tak semestinya ikut pensiun bersama Messi. Nomor 10 adalah bagian dari sejarah Argentina, tetapi sejarah itu belum harus berakhir. **)