Internasional
Program
Unhas Speak Up

Dosen Hubungan Internasional Unhas Soroti Faktor Geopolitik dan Diplomasi dalam Konflik Iran–Israel

Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Hasanuddin, Dr Adi Suryadi Culla MA, saat menjadi narasumber dalam program dialog di Studio Unhas TV, Rabu (1232026).

MAKASSAR, UNHAS.TV - Akademisi Universitas Hasanuddin menilai konflik antara Iran dan Israel merupakan persoalan geopolitik yang kompleks dan telah lama berakar dalam dinamika hubungan internasional di Timur Tengah.

Hal tersebut disampaikan Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Hasanuddin, Dr Adi Suryadi Culla MA, saat menjadi narasumber dalam program Unhas Speak Up di Studio Unhas TV, Rabu (12/3/2026).

Dalam diskusi tersebut, Adi Suryadi Culla menjelaskan bahwa konflik yang kembali memanas pada awal 2026 sebenarnya telah diprediksi sejak pertengahan 2025. Menurutnya, gencatan senjata yang sempat terjadi kala itu tidak disertai proses diplomasi yang memadai.

“Sejak Juni 2025 sebenarnya sudah ada gencatan senjata. Namun saya melihat itu hanya jeda sementara karena tidak diikuti dengan perundingan yang serius. Kalau ada gencatan senjata tanpa negosiasi, itu seperti api dalam sekam, sewaktu-waktu bisa kembali meledak,” ujarnya.

Ia menilai kegagalan diplomasi menjadi salah satu faktor utama yang membuat konflik kembali meningkat. Dalam perspektif hubungan internasional, menurutnya, stagnasi dalam proses negosiasi sering kali berujung pada eskalasi konflik yang lebih besar.

“Dalam hubungan internasional, kalau perundingan macet, potensi destruktif bisa muncul. Karena itu penyelesaian konflik harus melalui negosiasi, mediasi, dan kesediaan kedua pihak untuk duduk bersama,” jelasnya.

Selain faktor diplomasi yang gagal, Adi juga menyoroti peran kepemimpinan global yang dinilai turut memengaruhi dinamika konflik. Ia menyebut karakter kepemimpinan politik dapat memicu kebijakan yang lebih konfrontatif dalam hubungan antarnegara.

“Dalam sejarah konflik dunia, faktor psikologi pemimpin juga berpengaruh. Kita bisa melihat bagaimana tipologi kepemimpinan dapat memicu kebijakan yang lebih agresif,” katanya.

Menurutnya, konflik Iran–Israel juga tidak bisa dilepaskan dari konfigurasi geopolitik di Timur Tengah yang selama ini berada dalam pengaruh Amerika Serikat. Dalam konteks tersebut, Iran menjadi salah satu negara yang tidak sepenuhnya berada dalam orbit kekuatan politik Amerika.

“Iran di Timur Tengah seperti baut yang lepas dari mesin besar yang dikendalikan Amerika. Banyak negara di kawasan itu sudah berada dalam orbit pengaruh Amerika Serikat, sementara Iran tetap mempertahankan posisi yang berbeda,” ujarnya.

Iran Terisolasi Secara Geopolitik

Ia juga menjelaskan bahwa negara-negara Arab di kawasan Timur Tengah sebagian besar telah menjalin hubungan strategis dengan Amerika Serikat. Hal ini membuat Iran relatif terisolasi secara geopolitik di kawasan tersebut.

“Negara-negara seperti Arab Saudi, Mesir, Yordania, dan beberapa negara lain sudah berada dalam pusaran pengaruh Amerika. Karena itu Iran menjadi salah satu aktor yang sering berhadapan dengan kepentingan geopolitik tersebut,” tambahnya.

Adi juga menyoroti keterbatasan lembaga internasional dalam menyelesaikan konflik berskala besar. Menurutnya, struktur kekuasaan dalam sistem internasional, khususnya di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sering kali membuat proses penyelesaian konflik menjadi rumit.

“PBB dibangun dalam kerangka realisme politik internasional. Ada negara-negara besar yang memiliki hak veto di Dewan Keamanan, sehingga tidak mudah mendorong resolusi yang bisa diterima semua pihak,” jelasnya.

Ia menilai selama tidak ada proses mediasi yang efektif serta kesediaan negara-negara besar untuk mendorong perdamaian, konflik Iran–Israel berpotensi berlangsung dalam waktu yang cukup panjang.

(Achmad Ghiffary M / Unhas TV)