Budaya
Kuliner
Sosial

Opor Ayam hingga Ketupat, Tradisi Lebaran yang Tetap Hidup di Tengah Masyarakat

Opor ayam jadi sajian wajib di sejumlah rumah saat Hari Raya Idulfitri. (freepick)

UNHAS.TV - Hari Raya Idulfitri di Indonesia tidak hanya menandai berakhirnya ibadah puasa selama satu bulan penuh, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan bagi berbagai tradisi yang terus bertahan dari generasi ke generasi.

Di tengah perubahan zaman, masyarakat di berbagai daerah masih menjaga beragam kebiasaan khas Lebaran, mulai dari halal bihalal, mudik, takbiran, penyajian ketupat, hingga salam tempel.

Tradisi-tradisi itu tidak semata menjadi pelengkap perayaan. Lebaran, bagi banyak keluarga Indonesia, juga menjadi momen penting untuk meneguhkan hubungan sosial, mempererat ikatan kekeluargaan, dan menghidupkan kembali nilai saling memaafkan setelah sebulan berpuasa.

Salah satu tradisi yang paling lekat dengan Idulfitri di Indonesia adalah halal bihalal. Kegiatan ini biasanya berlangsung setelah salat Idulfitri, saat keluarga, tetangga, hingga rekan kerja saling berkunjung untuk bersilaturahmi dan memohon maaf atas kesalahan selama setahun terakhir.

Dalam praktiknya, halal bihalal digelar dalam berbagai bentuk, dari pertemuan sederhana di rumah keluarga hingga acara yang lebih besar di kantor, sekolah, dan lingkungan masyarakat.

Selain halal bihalal, mudik tetap menjadi tradisi tahunan yang paling menonjol menjelang Lebaran. Jutaan orang melakukan perjalanan kembali ke kampung halaman untuk merayakan Idulfitri bersama keluarga.

Arus perpindahan masyarakat dari kota ke daerah itu telah lama menjadi bagian dari lanskap Lebaran di Indonesia. Bagi para perantau, mudik bukan sekadar perjalanan pulang, melainkan cara untuk menjaga kedekatan dengan orang tua, saudara, dan kampung asal.

Pada malam menjelang Idulfitri, suasana Lebaran biasanya ditandai dengan takbiran. Umat Muslim mengumandangkan takbir sebagai ungkapan syukur menyambut hari kemenangan.

"Di sejumlah daerah, takbiran tidak hanya berlangsung di masjid atau musala, tetapi juga hadir dalam bentuk pawai keliling lingkungan," ujar Dosen Sosiologi FISIP Unhas, Hariashari Rahim SSos MSi.

Warga membawa bedug, obor, atau alat musik tradisional, membuat malam Lebaran terasa semarak. Tradisi ini menjadi penanda kuat bahwa Idulfitri bukan hanya peristiwa keagamaan, tetapi juga perayaan komunal.

"Di meja makan, ketupat hampir selalu hadir sebagai sajian khas Lebaran," ujar Hariashari Rahim.

Makanan yang terbuat dari beras dan dibungkus anyaman daun kelapa muda itu lazim disantap bersama opor ayam, sambal goreng hati, atau hidangan khas daerah lain seperti coto Makassar.

Di sejumlah masyarakat Jawa, ketupat juga memuat makna simbolis. Anyaman dan bentuknya kerap dimaknai sebagai lambang pengakuan kesalahan dan ajakan untuk saling memaafkan.

Tradisi lain yang tak kalah akrab ialah salam tempel. Kebiasaan memberikan uang kepada anak-anak atau kerabat yang lebih muda biasanya dilakukan setelah bersalaman dan bermaaf-maafan. Bagi anak-anak, salam tempel menjadi salah satu momen yang paling dinantikan saat Lebaran.

Namun di balik kegembiraan itu, tradisi ini juga memperlihatkan cara keluarga Indonesia memaknai berbagi kebahagiaan dalam suasana hari raya.

Rangkaian tradisi itu menunjukkan bahwa Lebaran di Indonesia tidak hanya berisi ritual ibadah, tetapi juga dipenuhi praktik budaya yang memperkuat kehidupan sosial.

Halal bihalal meneguhkan maaf, mudik mempertemukan keluarga, takbiran menghidupkan syukur, ketupat menghadirkan simbol kebersamaan, dan salam tempel merawat kegembiraan lintas generasi.

Di tengah masyarakat yang terus berubah, tradisi-tradisi tersebut tetap bertahan karena diwariskan, dijalankan, dan dimaknai ulang setiap tahun.

Dari kampung hingga kota, Lebaran tetap menjadi ruang tempat kebersamaan menemukan bentuknya yang paling nyata.

(Venny Septiani Semuel / Unhas.TV)