Budaya
Sulsel

Pasar Tua Polo Padanang di Pegunungan Toraja, Simpan Kehangatan di Tengah Keterisolasian

UNHAS.TV - Di balik tebing-tebing hijau yang menjulang di Kecamatan Kepala Pitu, Kabupaten Toraja Utara, terdapat sebuah desa kecil bernama Lembang Polo Padanang.

Letaknya terpencil, akses jalannya berliku dan sempit, sering kali diselimuti kabut pagi yang membuat perjalanan terasa panjang.

Namun di balik keterisolasian itu, ada denyut kehidupan yang tak pernah padam: sebuah pasar tua yang setiap Minggu menjadi pusat keramaian dan pengikat hangat masyarakat.

Pasar ini bukan sekadar tempat berjual-beli. Ia adalah jantung sosial, ruang di mana pedagang, pembeli, dan perantau melebur menjadi satu, saling berbagi cerita, rezeki, dan kebersamaan.

Bagi warga Polo Padanang, pasar tua adalah simbol ketahanan, penanda bahwa kehidupan tetap berjalan meski terpisah dari hiruk-pikuk kota.

Setiap Minggu pagi, jalur tanah menuju pasar dipadati pedagang yang datang dari berbagai daerah. Ada yang membawa sayuran segar dari kebun, hasil bumi, peralatan rumah tangga, hingga kue-kue tradisional. Suara tawar-menawar bercampur tawa anak-anak yang berlarian di sekitar lapak.

Di tengah keramaian itu, Trianto, atau akrab disapa Ardi, tampak sibuk menata kue jualannya. Pria asal Jawa Tengah ini merantau ke Toraja sejak 2015 dan memilih menetap karena suasana yang menurutnya penuh kehangatan.

“Karena di sini orang-orang enak, kerja sama bagus, cari pekerjaan juga gampang. Orang Toraja baik-baik. Selama kita saling menghargai, pasti kita dihargai juga,” kata Trianto sambil tersenyum.

Kehadirannya menjadi bukti bahwa pasar ini tidak hanya milik warga lokal, melainkan juga rumah bagi para perantau yang mencari kehidupan baru di tanah tinggi Toraja.

Aroma Kopi di Lapak Obet

Tak jauh dari lapak kue Trianto, seorang pria paruh baya sibuk melayani pembeli kopi. Namanya Obet Rompon, warga asli Polo Padanang. Sejak 2002 ia setia berjualan di pasar tua ini.

Obet bercerita, desanya dulu dikenal sebagai salah satu penghasil kopi terbesar di Toraja. Setiap sudut kebun dipenuhi tanaman kopi yang harum saat panen.

Namun kini, banyak warga memilih merantau ke kota. Kebun-kebun kopi perlahan terbengkalai, dan produksi pun menurun drastis. Obet harus membeli kopi dari luar, membawanya ke kota untuk diproses, lalu menjualnya kembali di pasar desa.

“Dulu banyak kopi, tapi sekarang sudah tidak ada karena orang merantau semua. Jadi kopi harus dibawa dulu ke kota Toraja untuk dipanasi, baru dijual kembali di sini,” tutur Obet, matanya menerawang mengenang masa lalu.

Meski begitu, lapak kopi Obet tetap menjadi tempat singgah favorit pengunjung pasar. Aroma biji kopi yang baru digiling seolah menyatukan kenangan lama dengan harapan baru.

Ruang Sosial di Tengah Keterbatasan

Lebih dari sekadar ruang ekonomi, pasar tua Polo Padanang adalah ruang sosial. Di sinilah kabar gembira tentang keluarga disampaikan, kabar duka dibagi, hingga gosip ringan bergulir di antara transaksi jual beli.

Di tengah keterbatasan akses desa, pasar menjadi jendela informasi. Bagi sebagian warga yang jarang turun ke kota, bertemu setiap Minggu di pasar adalah cara menjaga ikatan sosial.

Anak-anak muda pun menjadikan pasar sebagai ruang pertemuan, tempat berkenalan, bahkan tak jarang memulai kisah cinta.

Pasar tua ini mungkin sederhana. Tak ada atap permanen, hanya lapak kayu dan terpal seadanya. Namun justru di situlah letak kehangatannya.

Ia menyimpan cerita tentang ketahanan masyarakat Toraja, tentang bagaimana mereka merawat kebersamaan di tengah keterisolasian geografis.

Bagi warga Polo Padanang, pasar tua adalah warisan yang harus dijaga. Meski perubahan zaman membawa tantangan, denyut Minggu pagi itu tetap hidup.

Dari pedagang perantau seperti Trianto hingga penjual kopi setia seperti Obet, semua menyumbang cerita tentang kehidupan yang sederhana, namun sarat makna.

Di balik kabut pegunungan Toraja, pasar tua ini terus menyimpan kehangatan. Ia adalah pengingat bahwa keterisolasian tak pernah memadamkan rasa kebersamaan.

Justru di tengah keterbatasan, manusia menemukan cara untuk tetap dekat, saling berbagi, dan merayakan hidup bersama.

(Andi Muhammad Syafrizal / Unhas.TV)