Mahasiswa
Pendidikan

Pascasarjana Unhas Gelar Program Catalyst, Dorong Akselerasi Publikasi Ilmiah



PELATIHAN - Sekolah Pascasarjana (SPs) Unhas menggelar mengikuti Pelatihan Literature Review di Ruang Rapat GB 2 SPs Unhas, Makassar, Senin (24/8/2026). Kegiatan lima hari ini digelar untuk mendorong peningkatan publikasi ilmiah melalui Program Catalyst Unhas. (Unhas TV / Yusril)


Dalam pelatihan tersebut, teknologi kecerdasan buatan atau AI diperkenalkan sebagai alat bantu untuk mempercepat proses publikasi.

Nilawati menjelaskan, AI digunakan sebagai bantuan dalam proses screening dan penelaahan literatur, terutama ketika peneliti harus membaca dan menelaah sejumlah besar artikel.

“Sebenarnya begini, AI ini hanya sebagai bantuan. Misalnya, kita harus membaca 100 paper, mungkin membutuhkan waktu satu bulan jika harus menelaahnya secara mendalam. Dengan bantuan AI, kita bisa melakukan screening terlebih dahulu, sehingga proses membaca dan menelaahnya dapat dilakukan lebih cepat, bahkan mungkin bisa dipersingkat menjadi sekitar satu jam untuk tahap awal,” katanya.

Menurutnya, penggunaan AI diharapkan dapat membantu pekerjaan dilakukan dengan lebih cepat, tetapi tetap membutuhkan kemampuan berpikir dari dosen.

“Di situlah prosesnya. AI berfungsi sebagai alat bantu dengan harapan kita dapat melakukan pekerjaan lebih cepat. Tadinya mungkin sebuah paper dikerjakan dalam waktu satu bulan, bahkan bisa sampai enam bulan. Sekarang, dengan bantuan AI, kita bisa menyiapkan draft dalam waktu enam hari,” jelasnya.

Ia menegaskan, kemampuan natural thinking dan critical thinking dosen tetap menjadi bagian penting dalam proses penyusunan publikasi.

“Tetapi sebenarnya, kalau kita melihat proses tersebut, hal itu juga karena dosen sudah memiliki natural thinking dan critical thinking yang baik. Jadi, AI hanya bersifat sebagai alat bantu saja,” lanjutnya.

Adapun fokus publikasi dalam pelatihan ini diarahkan pada penggabungan narrative review dan bibliometrik.

“Kalau tadi pertanyaannya terkait fokus publikasi, fokusnya adalah narrative review yang akan digabungkan dengan bibliometrik. Jadi, narrative review dan bibliometrik,” ujarnya.

Dosen Disiapkan Dampingi Mahasiswa Sejak Semester Pertama

Program Catalyst juga diarahkan agar hasil pelatihan dapat memberikan dampak hingga kepada mahasiswa. Prof. Sukri mengatakan peserta pelatihan nantinya akan berperan seperti Training of Trainers (TOT), yakni peserta yang telah mendapatkan pelatihan dan selanjutnya dapat meneruskan pengetahuan yang diperoleh di tingkat program studi.

“Mahasiswa ujung-ujungnya sebenarnya. Jadi mereka ini adalah semacam TOT lah, TOT kemudian nanti berkembang-berkembang dan akhirnya tentu karena mahasiswa ini adalah yang paling banyak,” ujarnya.

Nilawati menjelaskan bahwa dosen yang telah mendapatkan pelatihan nantinya akan dibawa ke tingkat program studi untuk membantu mahasiswa, khususnya mahasiswa semester pertama, dalam membuat draft publikasi.

“Dosen-dosen tersebut akan dibawa ke tingkat program studi untuk membantu mahasiswa, khususnya mahasiswa semester 1, dalam membuat draft publikasi. Dengan demikian, mahasiswa tidak harus menunggu sampai semester 3 untuk mulai mengerjakan publikasinya,” ungkapnya.

Menurutnya, mahasiswa S2 umumnya baru membuat draft publikasi pada semester ketiga. Melalui program ini, mahasiswa diharapkan dapat memulai penyusunan publikasi sejak semester pertama sehingga proses pendidikan dapat berjalan lebih efisien.

“Biasanya, mahasiswa S2 baru membuat draft publikasi pada semester 3. Sekarang, mereka diharapkan sudah dapat memulainya sejak semester 1. Dengan demikian, hal tersebut sangat membantu proses pendidikan agar lebih efisien dan mahasiswa dapat menyelesaikan studinya lebih cepat,” jelasnya.

Selain mempercepat proses penyelesaian studi, program ini juga diharapkan dapat membantu mengurangi stres mahasiswa pascasarjana akibat tuntutan publikasi.

“Selain itu, program ini juga diharapkan dapat mengurangi stres mahasiswa. Salah satu sumber stres mahasiswa pascasarjana adalah tuntutan publikasi. Jadi, saya kira ini merupakan salah satu solusi yang ditawarkan Unhas, dan Sekolah Pascasarjana meresponsnya dengan cepat,” lanjutnya.

Nilawati juga menyampaikan target awal dari pelatihan tersebut, yakni peserta yang mengikuti pelatihan dapat menghasilkan publikasi.

“Mungkin harapan awalnya adalah dari 20 dosen yang dilatih, 20 dosen tersebut dapat menghasilkan dan melakukan submit publikasi,” ujarnya.

Selain pelatihan dan pendampingan, Sekolah Pascasarjana juga menyiapkan reward tambahan sebagai bentuk dorongan bagi dosen dan pimpinan dalam menghasilkan publikasi literature review dengan standar Q1.

“Untuk menyemangati mereka, Sekolah Pascasarjana juga akan memberikan reward tambahan bagi para dosen dan juga pimpinan, terutama dalam hal bagaimana mereka menulis publikasi literature review yang dengan standarnya tentu adalah Q1,” kata Prof. Sukri.

Prof. Sukri berharap Program Catalyst dapat menjadikan Sekolah Pascasarjana sebagai contoh dalam peningkatan produktivitas publikasi di lingkungan Universitas Hasanuddin.

“Harapan saya, satu, Sekolah Pascasarjana menjadi contoh yang baik di dalam hal peningkatan program publikasi ini. Dan yang kedua, melalui program unggulan, salah satu program unggulan dari Pak Rektor, Program Catalyst, benar-benar terjadi akselerasi di dalam hal peningkatan publikasi ini,” pungkasnya.

Melalui Program Catalyst, Sekolah Pascasarjana Unhas diharapkan mampu mempercepat proses penyusunan publikasi ilmiah, memperkuat pendampingan dosen dan mahasiswa, serta mendorong mahasiswa mempersiapkan publikasi sejak awal masa studi.

Program ini juga diarahkan untuk mendukung peningkatan produktivitas publikasi dan mempercepat proses akademik mahasiswa Pascasarjana Unhas.

(Husnul Hatima / Yuzril / Unhas TV)