MAKASSAR, UNHAS.TV - Proses seleksi Direktur Utama PT Hadin Media Nusantara (Hadin), badan usaha milik Universitas Hasanuddin, mulai menarik perhatian kalangan profesional lintas sektor.
Sejumlah pelamar dari berbagai latar belakang dilaporkan mulai mengajukan diri, mulai dari pebisnis startup teknologi, senior bankir, hingga profesional korporasi dengan pengalaman panjang.
Menariknya, para pelamar tidak hanya berasal dari alumni Universitas Hasanuddin, tetapi juga dari kalangan profesional eksternal yang melihat peluang besar untuk memimpin transformasi bisnis kampus.
Ketua Tim Penyusun Roadmap Bisnis Hadin sekaligus Ketua Tim Seleksi Direksi Hadin, Dr. Eka Sastra, mengatakan antusiasme para pelamar menunjukkan bahwa agenda transformasi bisnis yang sedang dijalankan Universitas Hasanuddin mulai diperhatikan kalangan profesional nasional.
“Sudah mulai ada yang mendaftar. Variasinya menarik. Ada pebisnis startup, senior bankir, profesional korporasi, ada ketua ikatan alumni, dan ada juga yang bukan alumni. Ini menunjukkan bahwa Hadin dipandang sebagai ruang strategis untuk membangun sesuatu yang besar,” kata Dr. Eka Sastra, Selasa (26/5/2026).
Menurut Eka, Universitas Hasanuddin tidak sedang mencari direktur dalam pengertian konvensional, melainkan sosok pemimpin yang mampu membangun holding bisnis modern berbasis pengetahuan.
Direktur Utama Hadin nantinya tidak hanya bertugas menjalankan operasional perusahaan, tetapi juga memikul tanggung jawab strategis yang jauh lebih besar.
Di antaranya menyusun arah pertumbuhan holding, membangun portofolio bisnis yang sehat, mengidentifikasi unit usaha potensial berbasis kekuatan akademik kampus, memastikan tata kelola korporasi yang profesional, membangun kemitraan strategis dengan industri, investor, dan pemerintah, serta menciptakan model bisnis yang mampu menghasilkan pendapatan berkelanjutan bagi universitas.
Selain itu, Direktur Utama Hadin juga diharapkan mampu memimpin transformasi budaya organisasi, menghadapi disrupsi bisnis, mengorkestrasi sinergi antarunit usaha, dan menerjemahkan aset intelektual kampus menjadi nilai ekonomi yang nyata.
“Yang kami cari bukan sekadar administrator perusahaan. Kami mencari architect of growth. Sosok yang mampu membangun ekosistem bisnis, membaca peluang, mengelola perubahan, dan menjadikan Hadin sebagai mesin pertumbuhan ekonomi kampus,” ujarnya.

Eka menjelaskan, proses seleksi Direktur Utama Hadin dilakukan melalui beberapa tahapan. Setelah pendaftaran, para kandidat akan melalui proses seleksi administrasi, penilaian rekam jejak profesional, uji kompetensi dan kepemimpinan, hingga tahapan presentasi visi bisnis di hadapan tim seleksi dan pemangku kepentingan universitas.
Menurut dia, proses pendaftaran masih dibuka hingga beberapa waktu ke depan untuk memberi ruang bagi lebih banyak profesional terbaik dari berbagai sektor ikut ambil bagian dalam transformasi bisnis kampus.
Universitas Hasanuddin menargetkan proses seleksi Direktur Utama dapat dirampungkan setelah roadmap bisnis dan struktur organisasi holding final, sehingga kepemimpinan baru bisa langsung bekerja dengan arah strategis yang jelas.
Keseriusan Universitas Hasanuddin dalam memperkuat Hadin terlihat dari langkah transformasi yang dilakukan secara paralel. Selain membuka seleksi Direktur Utama, Unhas juga tengah menyusun roadmap bisnis jangka panjang sebagai peta jalan pengembangan perusahaan.
Penyusunan roadmap tersebut melibatkan tim internal dan konsultan profesional dari jejaring Indika Group, yang membantu memetakan aset, peluang bisnis, serta arah pengembangan korporasi agar lebih terukur dan kompetitif. Setelah roadmap dan komposisi Board of Directors rampung, Unhas juga akan membuka rekrutmen untuk sejumlah posisi strategis lain dalam struktur holding.
“Jadi ini bukan sekadar mencari satu direktur. Yang sedang kami bangun adalah keseluruhan ekosistem bisnisnya. Setelah arsitekturnya selesai, posisi-posisi strategis lain akan diisi oleh figur profesional sesuai kebutuhan,” kata Eka.
Sebagai bagian dari proses pembelajaran, tim juga merencanakan studi banding ke sejumlah badan usaha milik universitas lain yang dinilai berhasil membangun model bisnis institusi secara profesional.
Menurut Eka, Hadin diproyeksikan menjadi kendaraan transformasi ekonomi kampus yang berbasis sains, inovasi, dan jejaring.
“Universitas punya kekuatan besar: pengetahuan, reputasi, sumber daya manusia, inovasi, dan captive market. Tantangannya adalah bagaimana semua itu diterjemahkan menjadi entitas bisnis yang sehat, modern, dan memberi dampak luas,” ujarnya.
Langkah ini menandai keseriusan Universitas Hasanuddin untuk tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan riset, tetapi juga membangun mesin pertumbuhan ekonomi institusi yang profesional, kompetitif, dan relevan dengan tantangan zaman.





 SpGK-300x169.webp)


