Sport

Penalti Kontroversial Chris Wood Bawa Nottingham Forest Selangkah Lebih Dekat ke Final Liga Europa




GAGAL - Striker Ollie Watkins gagal menyamakan kedudukan untuk Aston Villa atas tuan rumah Nottingham Forest, Jumat (1/5/2026). (The Sun/getty)


Para pemain Villa memprotes keras. Watkins tampak kesakitan, sementara Rogers ikut mendesak wasit mengambil tindakan. Namun, wasit dan VAR tidak menganggap pelanggaran itu cukup untuk kartu merah. Keputusan tersebut membuat kubu Villa geram.

Forest kemudian menciptakan beberapa peluang setengah matang. Gibbs-White sempat terjepit di tiang jauh. Wood kalah tipis dalam duel udara di sisi lain. Anderson juga melepaskan tembakan yang melambung. Tekanan itu mencapai puncaknya sekitar 12 menit sebelum turun minum.

Anderson mengirim bola ke Neco Williams di sisi kiri, lalu bergerak cepat ke tengah untuk menerima umpan balik. Ia membaca ruang dengan baik dan mengirim bola terukur kepada Gibbs-White.

Umpan silang Gibbs-White disambar Igor Jesus dari jarak dekat. Bola mengarah tajam ke gawang, tetapi Martinez melakukan penyelamatan luar biasa. Kiper Argentina itu menjulurkan tangan dan menepis bola dari posisi yang nyaris mustahil.

Penyelamatan Martinez menjadi salah satu momen terbaik pertandingan. Dalam laga ketat seperti ini, aksi semacam itu kerap menjadi pembeda. Bagi Villa, penyelamatan tersebut semestinya menjadi fondasi untuk bangkit pada babak kedua.

Villa memang mendapat peluang emas setelah jeda. Pada menit ke-57, Rogers menerobos ke area tengah dan mengirim bola kepada Watkins.

Penyerang Inggris itu tinggal mencocor dari jarak dekat. Namun, bola justru mengarah tepat ke tubuh Ortega. Watkins tampak sadar peluang itu seharusnya menjadi gol. Kesempatan tersebut menjadi salah satu titik balik pertandingan.

Lalu datang keputusan VAR yang menentukan. Dengan 22 menit waktu normal tersisa, Digne menyentuh bola dengan tangan setelah Hutchinson mengembalikan bola ke kotak penalti.

Pemeriksaan berlangsung lama. Digne berdiri menunggu keputusan dengan wajah tegang. Ketika wasit menunjuk titik putih, kubu Forest bersorak, sementara Villa merasa dirugikan.

Setelah tertinggal, Villa berusaha menekan. Namun, serangan mereka tidak pernah benar-benar membuat Forest panik.

Tielemans melepaskan tembakan telat yang melambung jauh ke tribune. Jadon Sancho juga mendapat kesempatan, tetapi penyelesaiannya terlalu lemah untuk menaklukkan Ortega.

Unai Emery masih memiliki alasan untuk percaya. Pelatih asal Spanyol itu berpengalaman di Liga Europa dan memburu gelar kelimanya di kompetisi tersebut.

Villa juga akan memainkan leg kedua di kandang sendiri. Namun, mereka kini harus mengejar ketertinggalan dari Forest yang tampil penuh energi, disiplin, dan berani.

Vitor Pereira, pelatih Forest, boleh merasa timnya pantas mendapatkan hasil ini. Forest tidak selalu dominan, tetapi mereka bekerja keras, bertahan dengan kuat, dan memanfaatkan momen ketika peluang datang.

Kemenangan tipis ini belum menyelesaikan apa pun, tetapi cukup untuk membuat publik City Ground bermimpi.

Bagi Forest, malam itu terasa lebih dari sekadar kemenangan semifinal. Ini tentang kembalinya denyut Eropa ke stadion lama mereka. Tentang penalti yang diperdebatkan.

Tentang Wood yang tak gentar. Dan tentang peluang menuju Istanbul yang kini berada dalam genggaman, meski baru separuh jalan. (*)