MAKASSAR, UNHAS.TV - Perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah memasuki pekan ketiga dan mengakibatkan harga minyak mentah dunia terus naik.
Harga terbaru minyak mentah dunia rata-rata sudah mencapai USD 105 per barel. Ini angka tertinggi sejak Juli 2022. Harga ini diperkirakan akan terus meningkat seiring upaya Iran menutup lalu lintas pengapalan minyak di Selat Hormuz.
Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, minyak mentah jenis Brent sudah naik 2,9 persen menjadi USD 106,12 per barel. Adapun minyak mentah Amerika Serikat naik 2,6 persen menjadi USD 101,53.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sudah mengerahkan ribuan Marinir menuju selat tersebut untuk membebaskan sejumlah kapal tanker agar bisa lewat selat tersebut. Namun, upaya ini belum disebut berhasil karena efektivitas pengerahan Marinir akan butuh waktu lama untuk mengendalikan situasi. Pada saat yang sama, kenaikan harga minyak mentah dunia tidak bisa dihentikan.
Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright menyebut telah memerintahkan agar perusahaan minyak Sable Offshore Corporation unuk kembali memulai proyek penyedotan minyak di luar pantai Selatan California demi mengantisipasi kelangkaan bahan bakar.
Perusahaan minyak British Petroleum (BP) juga sudah mendapat persetujuan pemerintah Amerika Serikat untuk kembali mengerjakan proyek penyedotan minyak di Teluk Amerika.
Negara-negara anggota Badan Energi Internasional juga sudah menyetujui untuk melepas cadangan minyak sebesar 400 juta barrel sebagai upaya paling mendesak jika Amerika Serikat dan negara-negara Eropa tidak mendapatkan pasokan minyak hingga akhir Maret ini.
Namun, penutupan selat tersebut berdampak lebih dari sekadar minyak. Petani di seluruh dunia kini bergantung pada pupuk yang dikirim melalui Selat Hormuz, yang berpotensi memengaruhi harga bahan makanan. Dan barang-barang yang mudah rusak—seperti produk susu, buah-buahan, sayuran, dan ikan—bisa menjadi barang pertama yang harganya lebih mahal.(*)







