Internasional

Perang Dagang Menjadi-jadi, Trump: Indonesia Pelangggar Terburuk

MAKASSAR, UNHAS.TV - Presiden Amerika Serikat Donald Trump tetap gigih memberlakukan tarif tinggi untuk semua produk luar negeri yang masuk ke negeri itu, termasuk produk dari Indonesia. 

Perkembangan terbaru, Donald Trump menambah tarif impor menjadi 10 persen lebih tinggi dari tarif yang telah ditentukan. Langkah yang ia sebut sebagai "reciprocal tariffs" atau tarif timba balik ini diambil sebagai balasan atas tindakan negara-negara lain yang memberlakukan tarif tinggi untuk produk Amerika Serikat yang diekspor ke sejumlah negara tujuan. 

Balasan ini ditujukan kepada 25 negara yang ia sebut sebagai "pelanggar terburuk". Dalam daftar itu, China berada di peringkat pertama karena menerapkan tarif impor barang Amerika Serikat sebesar 67 persen. Indonesia juga ada di daftar itu karena mengenakan tarif 32 persen untuk produk impor dari Amerika Serikat.



Berdasarkan data UN Comtrade Database, komoditas ekspor unggulan Indonesia ke Amerika Serikat meliputi produk-produk mesin dan peralatan listrik, garmen, lemak dan minyak hewan atau nabati, alas kaki, serta produk hewan air.

Sejauh ini, sejumlah negara sudah menyatakan keberatan. Uni Eropa menyebut ini sebagai "pukulan telak bagi ekonomi dunia". Adapun China bersumpah membalas, dan Australia mengatakan "ini bukan tindakan seorang teman". 

Bagaimana dengan Indonesia? Hingga detik ini belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Indonesia terkait dengan kebijakan ekonomi Donald Trump ke negeri ini.

Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer mengakui kebijakan itu akan berdampak pada ekonomi tetapi ia berjanji menanggapi dengan "kepala dingin dan tenang".

Sejumlah pengamat ekonomi di Amerika Serikat terbelah atas sikap dan kebijakan Donald Trump. Di satu sisi, ini merupakan langkah tepat untuk menghindari defisit perdagangan yang menimpa Amerika Serikat.

Pada sisi lain, pengenaan tarif ini justru langsung memukul daya beli warga negara AS. Tarif tinggi berdampak pada makin mahalnya produk-produk yang dibutuhkan warga negara AS dari negeri lain.

Meski Amerika Serikat adalah negara maju, namun perekonomiannya lebih banyak ditopang oleh produk-produk impor. Amerika Serikat sangat mebutuhkan barang mewah, anggur, dan sampanye bermutu tinggi dari Perancis. Mereka juga butuh pakaian murah dari China, Bangladesh, dan Indonesia. 

Amerika Serikat juga sangat bergantung pada baja dari India dan China untuk menopang industri otomotif dan persenjataannya. Tanpa produk-produk dari negara lain, perekonomian Amerika Serikat akan goyah. Masalah ini akan makin rumit jika situasi politik luar negeri makin tidak terkendali.(*)