Internasional

Perang Iran Picu Krisis Energi, Politisi Inggris Desak Pajak BBM Dibatalkan

PAJAK BBM - Perang AS-Israel versus Iran memicu kenaikan harga BBM dunia. Pemerintah Inggris mendapat tekanan untuk menghapus pajak BBM. (the sun/getty)

LONDON, UNHAS.TV - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu gejolak pasar energi global setelah konflik antara Iran dengan koalisi yang dipimpin Amerika Serikat dan Israel membuat harga minyak melonjak tajam sebelum kembali turun pada akhir perdagangan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (9/3/2026) malam waktu setempat menyatakan operasi militer terhadap Iran hampir selesai.

Menurut dia, serangan selama sekitar sepuluh hari telah menghancurkan sebagian besar kekuatan militer Iran, termasuk angkatan laut, angkatan udara, serta jaringan komunikasi negara tersebut.

“Saya pikir perang itu sudah sangat selesai, hampir sepenuhnya,” kata Trump dalam wawancara dengan jaringan televisi CBS.

Ia menambahkan bahwa operasi militer tersebut dilakukan untuk menyingkirkan ancaman tertentu yang dianggap berbahaya bagi stabilitas kawasan. Pernyataan Trump langsung memicu reaksi pasar.

Harga minyak mentah dunia yang sebelumnya sempat melonjak mendekati 120 dolar AS per barel—setara sekitar Rp1,9 juta per barel dengan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS—langsung turun kembali ke bawah 90 dolar AS per barel atau sekitar Rp1,44 juta per barel.

Fluktuasi tajam itu menimbulkan kekhawatiran baru terhadap inflasi global serta harga energi di berbagai negara. Salah satu penyebabnya adalah terganggunya jalur pelayaran energi di Selat Hormuz, jalur vital yang mengangkut sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.

Dikutip dari The Sun, ketegangan meningkat setelah laporan serangan drone Iran terhadap kilang minyak utama di Bahrain. Serangan tersebut memperlihatkan rapuhnya rantai pasokan energi di kawasan Teluk.

Di United Kingdom, lonjakan harga minyak memicu perdebatan politik mengenai pajak bahan bakar. Pemimpin partai Reform UK, Nigel Farage, mendesak Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves membatalkan rencana kenaikan pajak bahan bakar yang dinilai akan membebani masyarakat.

Hentikan Potongan Pajak BBM 

Farage bahkan berjanji akan mempertahankan pemotongan pajak bahan bakar sebesar 5 pence per liter—sekitar Rp1.000—jika ia terpilih menjadi perdana menteri. Ia menyebut rencana penghapusan insentif tersebut tidak adil bagi pengendara di tengah kenaikan harga energi global.

Reeves sebelumnya menyatakan pemotongan pajak itu akan dihentikan secara bertahap mulai September, meski tarif pajak bahan bakar secara keseluruhan tetap dibekukan. Ia menegaskan pemerintah sedang mengambil langkah agar harga bahan bakar di pompa tetap serendah mungkin.

Langkah tersebut termasuk memerintahkan regulator Competition and Markets Authority mengawasi praktik harga di stasiun pengisian bahan bakar serta memberi sanksi kepada operator yang dianggap mengambil keuntungan berlebihan.

Sementara itu, kelompok negara industri maju G7 menggelar pembicaraan darurat untuk membahas dampak konflik terhadap pasar energi. Namun negara-negara anggota belum sepakat untuk segera melepas cadangan minyak strategis.

Presiden France Emmanuel Macron menyatakan Prancis dan sekutunya berencana mengawal kapal-kapal tanker melalui Selat Hormuz guna memastikan jalur pasokan energi tetap terbuka setelah fase paling panas konflik mereda.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengakui konflik tersebut berpotensi memengaruhi ekonomi global. Ia mengatakan pemerintah harus mengantisipasi dampak kenaikan harga energi terhadap rumah tangga dan dunia usaha.

“Semakin lama konflik berlangsung, semakin besar potensi dampaknya terhadap ekonomi dan kehidupan masyarakat,” kata Starmer dalam kunjungan ke sebuah pusat komunitas di London.

Pasar keuangan kini memperkirakan Bank of England kemungkinan akan menaikkan suku bunga dari level saat ini 3,75 persen untuk menahan laju inflasi yang dipicu kenaikan harga energi.

Meski demikian, Trump menilai kenaikan harga minyak dalam jangka pendek merupakan harga yang harus dibayar untuk menciptakan stabilitas dan perdamaian di kawasan Teluk.

Namun para analis memperingatkan dampak lanjutan dari lonjakan harga energi bisa meningkatkan tagihan listrik, biaya transportasi, hingga cicilan kredit rumah tangga di berbagai negara. (*)