Internasional

Pesan Terakhir Kopilot 20 Tahun untuk Kekasih Sebelum Jet Pribadi Jatuh, “Ada Turbulensi dan Es”

TRAGEDI LEARJET - Nathalia Gadelha Filgueiras adalah kopilot berusia 20 tahun yang terdengar dalam panggilan darurat (mayday) tersebut. Nathalia, perempuan berusia 20 tahun itu mengirim pesan kepada kekasihnya mengenai kondisi udara yang berbahaya, beberapa menit sebelum pesawat Learjet tersebut jatuh. (Screenshot The Sun)

FLORIDA, UNHAS.TV – Nathalia Gadelha Filgueiras, kopilot berusia 20 tahun, sempat mengirim pesan kepada kekasihnya beberapa menit sebelum pesawat jet pribadi yang dikemudikannya jatuh di Palm Beach County, Florida, Amerika Serikat.

Pesan singkat itu berisi peringatan mengenai turbulensi dan pembentukan es pada pesawat. Sepuluh menit kemudian, pesawat Learjet 60 tersebut menghantam kawasan permukiman dan menewaskan sembilan orang di dalamnya.

Nathalia mengirim pesan kepada kekasihnya, yang juga berprofesi sebagai pilot, sekitar pukul 12.40 waktu setempat pada Minggu. Isi pesan itu diungkapkan oleh ayah tirinya, Thiago Corteleti, 44 tahun, kepada New York Post.

“Dia hanya mengatakan, ‘Saya mengalami turbulensi, ada es,’” kata Corteleti.

Ia mengatakan pesan tersebut dikirim sekitar sepuluh menit sebelum kecelakaan terjadi pada pukul 12.50. Nathalia diketahui kerap terbang bersama kekasihnya dan membagikan foto serta video perjalanan mereka melalui media sosial.

Namun, penerbangan pada Minggu itu berakhir tragis. Learjet 60 yang mereka awaki kehilangan kendali ketika melintasi wilayah Palm Beach County. Pesawat kemudian jatuh di kawasan permukiman dan menimbulkan ledakan besar yang memicu kebakaran.

Pesawat tersebut berangkat dari Austin, Texas, pada pagi hari dengan tujuan North Eleuthera, Bahama. Dua pilot dan tujuh penumpang berada di dalam pesawat. Seluruhnya dinyatakan meninggal dunia.

Data penerbangan memperlihatkan pesawat mengalami penurunan ketinggian secara ekstrem. Dalam rekaman yang dianalisis, Learjet itu diperkirakan kehilangan ketinggian sekitar 25.300 kaki hanya dalam waktu 62 detik. Penurunan tersebut berlangsung ketika awak pesawat berusaha menghadapi kondisi darurat di udara.

Rekaman komunikasi dengan pengatur lalu lintas udara memperlihatkan kepanikan awak pesawat. Nathalia terdengar melaporkan penurunan ketinggian yang tidak terkendali.

“Kami sedang turun pada ketinggian 8.000 kaki. Mayday, mayday. Kami turun dengan kecepatan 10.000 kaki per menit,” ujarnya.

Situasi semakin memburuk. Dalam komunikasi berikutnya, ia melaporkan pesawat berada dalam kondisi kecepatan berlebih atau *overspeed*.

“Kami berada dalam kondisi overspeed, turun dengan kecepatan 20.000 kaki per menit,” katanya.

Sebelum keadaan darurat terjadi, awak pesawat telah melaporkan adanya pembentukan es pada badan pesawat dan turbulensi sedang ketika terbang pada ketinggian sekitar 35.000 kaki.

Mereka sempat meminta izin kepada pengatur lalu lintas udara untuk menaikkan ketinggian menjadi 37.000 kaki.

Permintaan tersebut muncul sebelum pesawat mengalami penurunan tajam. Dalam rekaman komunikasi yang sama, Nathalia juga terdengar menyampaikan kekhawatiran bahwa pesawat akan menghantam permukaan tanah.

“Kami akan jatuh ke tanah,” ujarnya.

Pada detik-detik terakhir rekaman, terdengar suara laki-laki melafalkan doa Bapa Kami. Rekaman tersebut kemudian menjadi salah satu bahan penting bagi penyelidik untuk memahami situasi di dalam kokpit sebelum kecelakaan.

Jejak Karier Kopilot Muda dan Detik-Detik Terakhir Penerbangan

Ibu Nathalia, Camila, membenarkan kepada New York Post bahwa putrinya termasuk di antara korban meninggal. Nathalia tumbuh di Palm Beach County dan telah menunjukkan ketertarikan terhadap dunia penerbangan sejak usia muda.

Ia memperoleh lisensi pilot pribadi pada usia 17 tahun, ketika masih bersekolah di West Boca Raton High School. Lisensi tersebut diterimanya pada Oktober 2023, bahkan sebelum ia memiliki surat izin mengemudi kendaraan bermotor.

Dalam wawancara dengan CBS12 pada tahun yang sama, Nathalia pernah menceritakan kebanggaannya terhadap pencapaian tersebut.

“Saya memang suka membanggakannya. Orang-orang mengatakan, ‘Kamu tidak bisa mengemudi,’ lalu saya menjawab, ‘Ya, tetapi saya bisa menerbangkan pesawat,’” katanya.

Ketertarikannya terhadap penerbangan mulai berkembang ketika ia mengikuti pendidikan teori penerbangan atau ground school pada 2020. Minat tersebut juga dipengaruhi ayahnya yang memiliki ketertarikan terhadap kegiatan menerbangkan pesawat rekreasi.

Nathalia kemudian mengembangkan karier sebagai instruktur penerbangan dan memperoleh sertifikat pilot komersial pada 2026. Ia telah mengumpulkan sekitar 1.300 jam terbang sebelum kecelakaan terjadi.

Selain Nathalia, korban lainnya adalah Adam Robinson, 45 tahun, pendiri perusahaan perangkat lunak, istrinya Helena Sharp, 40 tahun, serta kedua anak mereka, Emma, empat tahun, dan Charlie, dua tahun. Keluarga tersebut sedang bepergian bersama dua teman dekat dan seorang pengasuh anak.

Kapten pesawat diketahui bernama Jeff Gregory, 55 tahun. Identitasnya dikonfirmasi oleh anggota keluarganya kepada TMZ.

Dampak kecelakaan meninggalkan kerusakan besar di lokasi kejadian. Benturan pesawat menciptakan kawah besar di jalan dan menyebarkan puing-puing yang terbakar ke sejumlah properti di sekitarnya.

Pemerintah setempat juga mengevakuasi sekitar 600 warga untuk mengantisipasi risiko kebakaran dan bahaya lainnya.

Penyelidikan kemudian diarahkan pada kemungkinan gangguan cuaca, pembentukan es, dan kerusakan struktural pesawat.

Pakar penerbangan Terry Tozer mengatakan kepada The Sun bahwa pesawat kemungkinan menghadapi cuaca buruk sebelum mengalami kerusakan struktur ketika menukik dengan kecepatan tinggi.

“Rekaman video yang memperlihatkan pesawat sesaat sebelum menghantam tanah tampaknya menunjukkan bagian ekornya sudah tidak ada. Jadi, terlihat seperti terjadi kerusakan struktur pesawat ketika masih berada di udara,” kata Tozer.

Meski demikian, dugaan tersebut belum menjadi kesimpulan resmi penyelidikan. Badan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (NTSB) masih menelusuri penyebab kecelakaan, termasuk kemungkinan pesawat mengalami kerusakan ketika berada di udara.

Anggota NTSB, Tom Chapman, mengatakan pembentukan es dan turbulensi menjadi dua faktor yang sedang diperiksa penyelidik. Tim investigasi juga menganalisis pergerakan terakhir pesawat, rekaman komunikasi, serta kondisi penerbangan sebelum kehilangan kendali.

Salah satu kemungkinan yang turut menjadi perhatian adalah fenomena coffin corner, yakni kondisi ketika rentang kecepatan aman pesawat pada ketinggian tertentu menjadi sangat sempit. Namun, belum ada kepastian bahwa fenomena tersebut berperan dalam kecelakaan Learjet 60.

Pesan Nathalia kepada kekasihnya kini menjadi salah satu petunjuk mengenai kondisi penerbangan sebelum tragedi.

Peringatan tentang turbulensi dan es yang dikirim sepuluh menit sebelum pesawat jatuh memperlihatkan bahwa awak telah menghadapi kondisi penerbangan yang berbahaya. Penyebab pasti kecelakaan masih menunggu hasil penyelidikan NTSB. (*)