Pendidikan
Saintek

PharmSTeP 2026 Perkuat Kolaborasi Riset Internasional dalam Penanganan Penyakit Epilepsi



PHARMSTEP 2026 - Ketua Panitia PharmSTeP 2026, Achmad Himawan SSi MSi PhD Apt menjelaskan tentang Seminar Internasional PharmSTeP 2026 di Aston Makassar Hotel and Convention Center, Sabtu (15/8/2026). (Unhas TV / Venny Septiani)


Pada hari pertama seminar, peserta membahas sejumlah aspek penanganan epilepsi. Materi meliputi mekanisme neurosains pada epilepsi yang resisten terhadap obat, diagnosis dan aspek klinis, hingga pengembangan metode penghantaran obat ke otak.

Pembahasan tidak berhenti pada persoalan laboratorium dan pengobatan. PharmSTeP juga memberi ruang terhadap perspektif pasien, caregiver, dan aktivitas advokasi.

Pendekatan tersebut ditujukan untuk mempertemukan hasil penelitian dengan persoalan yang dialami pasien dalam kehidupan sehari-hari.

Achmad Himawan mengatakan PharmSTeP tahun ini sengaja tidak hanya menampilkan temuan penelitian. Panitia turut mengangkat hasil diskusi dengan klinisi dan pasien, khususnya mengenai advokasi bagi penderita penyakit kronis seperti epilepsi.

“Yang kami mau highlight tidak hanya hasil riset, tetapi hasil diskusi kami dengan klinisi dan pasien terkait bagaimana mengadvokasi pasien-pasien yang menderita penyakit kronis, dalam hal ini pasien epilepsi,” ujar Achmad.

Menurut Achmad, konferensi juga dirancang untuk menarik lebih banyak mitra dalam jejaring penelitian. Peserta tahun ini berasal dari kalangan dokter, mahasiswa farmasi, apoteker, hingga dokter residen. Komposisi tersebut sejalan dengan fokus seminar pada aspek klinis dan praktik kefarmasian.

Ia mengatakan interaksi antara peneliti, tenaga kesehatan, dan pasien penting agar penelitian tidak berjalan terpisah dari kebutuhan di lapangan. Terlebih, epilepsi merupakan penyakit kronis yang membutuhkan terapi dan pendampingan dalam jangka panjang.

PharmSTeP, kata Achmad, direncanakan kembali digelar tahun depan. Penyelenggaraan berikutnya akan diarahkan lebih kuat pada pemaparan hasil ilmiah yang diperoleh selama berlangsungnya proyek penelitian.

“Tahun depan diproyeksikan kami akan lakukan lagi karena masih ada satu tahap yang harus kami selesaikan dalam bentuk luaran penelitian,” katanya.

Panitia juga menargetkan penyelenggaraan konferensi dengan skala lebih luas. Achmad berharap semakin banyak makalah ilmiah masuk dan PharmSTeP berkembang menjadi wadah kolaborasi tidak hanya bagi tim penelitian yang saat ini terlibat, tetapi juga jejaring peneliti lain di luar proyek tersebut.

Melalui PharmSTeP 2026, para penyelenggara berharap kerja sama lintas bidang dapat memperkuat riset, edukasi, dan pelayanan bagi penyandang epilepsi di Indonesia.

Pertemuan antara sains, praktik klinis, dan pengalaman pasien juga diharapkan membantu mengikis stigma yang selama ini masih melekat pada epilepsi.

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)