MAKASSAR, UNHAS.TV - Demam Piala Dunia 2026 menjalar hingga ke sudut-sudut permukiman di Kota Makassar. Memasuki babak delapan besar, percakapan tentang tim unggulan, pemain bintang, dan prediksi juara tak hanya ramai di kalangan anak muda.
Kaum bapak pun ikut begadang, menyusun jagoan, dan mengikuti setiap pertandingan meski laga berlangsung pada dini hari waktu Indonesia Tengah.
Mereka mengatur waktu istirahat agar tetap dapat menyaksikan laga, lalu membahas hasilnya bersama keluarga dan tetangga pada pagi hari.
Bagi sebagian warga, pertandingan menjadi selingan setelah bekerja sekaligus kesempatan berkumpul, bertukar prediksi, dan menikmati rivalitas antarpendukung dengan cara yang santai di lingkungan mereka.
Di kawasan Perumahan Minasa Upa, Makassar, pada 8-9 Juli 2026, euforia itu terlihat dari antusiasme warga membicarakan persaingan tim-tim terbaik dunia.
Babak delapan besar membuat tensi turnamen meningkat. Setiap pertandingan bukan lagi sekadar tontonan, tetapi juga ruang adu keyakinan tentang negara mana yang paling layak mengangkat trofi.
Semuel, penggemar tim nasional Argentina, tetap menempatkan juara bertahan sebagai kandidat terkuat. Ia menilai Argentina memiliki permainan yang solid, pemain berpengalaman, serta sosok Lionel Messi yang masih berperan sebagai pemimpin dan pemberi motivasi di lapangan.
“Untuk Piala Dunia 2026 ini saya tetap favoritkan Argentina akan juara berturut-turut kedua kalinya,” kata Semuel.
Menurut dia, kekuatan Argentina tidak hanya bertumpu pada kemampuan individu pemain. Kekompakan dan profesionalisme tim menjadi alasan utama ia tetap menjagokan negara tersebut.
Kehadiran Messi, kata Semuel, memberi pengaruh besar terhadap mental para pemain ketika menghadapi pertandingan penting.
Semuel memperkirakan Argentina akan kembali bertemu Prancis di partai final. Prediksi itu mengingatkan pada duel kedua negara yang menjadi salah satu pertandingan paling menyita perhatian dalam sejarah Piala Dunia 2022 lalu.
Pilihan berbeda datang dari Zainuddin R. Ia menjagokan Maroko sebagai kuda hitam. Pada babak delapan besar, Maroko harus berhadapan dengan Prancis, tim lain yang juga ia sukai. Namun, sayang, tim dukungannya kalah.
“Saya jagokan Maroko, tapi karena sudah kalah dari Prancis di 8 besar, saya alihkan dukungan ke Prancis,” ujar Zainuddin.
Ia mengatakan telah mengikuti perkembangan Maroko sejak edisi sebelumnya, ketika tim tersebut mampu menembus semifinal 2022.
Menurut Zainuddin, status sebagai tim yang tidak terlalu diunggulkan justru dapat memacu ambisi para pemain. Semangat juang, disiplin, dan profesionalisme menjadi modal penting untuk kembali menembus empat besar.
“Karena dia tidak diunggulkan, pemainnya sangat profesional dan bersemangat untuk menjadi kuda hitam. Untuk menjadi kuda hitam memang harus punya ambisi kuat,” katanya.
Zainuddin juga berharap Piala Dunia tetap menjadi ajang olahraga yang menjunjung sportivitas. Menurut dia, pertandingan sepak bola seharusnya tidak dicampuradukkan dengan kepentingan lain yang dapat mengurangi nilai kompetisi.
Perbedaan pilihan antara Argentina, Prancis, dan Maroko membuat perbincangan Piala Dunia di Minasa Upa semakin hidup. Kaum bapak tidak sekadar menjadi penonton pasif. Mereka mengikuti perjalanan tim, membaca kekuatan lawan, dan berdebat tentang peluang juara.
Euforia itu menegaskan satu hal: Piala Dunia bukan pesta milik anak muda semata. Di tengah jadwal pertandingan yang menguji kantuk, kaum bapak tetap setia menunggu peluit akhir dan berharap tim jagoannya melangkah sampai laga penentuan.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
PIALA DUNIA - Bapak-bapak kompleks Perumahan Minasa Upa, Makassar, Zainuddin (kiri) dan Semuel penikmat piala dunia. (Dok Unhas TV)

-300x155.webp)






