Pendidikan
Program
Unhas Speak Up

PKKMB FKG Unhas 2026 Bekali Mahasiswa Baru dengan Akademik, Karakter, dan Pengembangan Diri

Ketua Prodi Sarjana Kedokteran Gigi FKG Unhas, drg Zilal Islami Paramma SpOrt Subsp DDTK(K) bersama Ketua Panitia PKKMB FKG Unhas 2026 drg Muhammad Fadil Hidayat SpRKG bersama Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKG Unhas, Bahru Rozak saat tampil dalam program Unhas Speak Up di Studio Unhas TV. (Unhas TV / Andrea Ririn Karina)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin (FKG Unhas) akan menyelenggarakan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun 2026. PKKMB FKG Unhas dijadwalkan berlangsung pada 12–13 Agustus 2026.

Kegiatan inin sebagai bagian dari proses transisi mahasiswa dari jenjang sekolah menengah menuju kehidupan perguruan tinggi. Pelaksanaan PKKMB tingkat Universitas Hasanuddin pada 11 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut dirancang tidak sekadar sebagai agenda penyambutan mahasiswa baru, tetapi juga sebagai sarana pengenalan sistem akademik, budaya kampus, organisasi kemahasiswaan, etika profesi, serta berbagai wadah pengembangan diri.

Ketua Program Studi Sarjana Kedokteran Gigi FKG Unhas, drg Zilal Islamy Paramma SpOrt Subsp DDTK(K), mengatakan PKKMB menjadi momentum penting bagi mahasiswa baru untuk mengenal kehidupan kampus sekaligus mempersiapkan diri menghadapi proses pendidikan di perguruan tinggi.

“PKKMB bukan hanya mengenalkan sistem pembelajaran, sarana dan prasarana, serta fasilitas kampus, tetapi juga mengajarkan bagaimana berorganisasi. Ini merupakan awal mahasiswa untuk mengenal dunia kampus,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ketua Panitia PKKMB FKG Unhas 2026, drg Muhammad Fadil Hidayat SpRKG. Menurutnya, mahasiswa baru datang dengan latar belakang yang beragam sehingga PKKMB perlu menjadi ruang untuk membangun kesiapan sebelum memasuki perkuliahan.

“PKKMB bukan sekadar seremonial. Bagaimana nantinya kita menanamkan nilai-nilai dan membantu proses transisi dari siswa SMA menjadi mahasiswa, khususnya di FKG,” jelasnya.

Sementara itu, Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKG Unhas, Bahru Rozak, menilai PKKMB merupakan momentum transformasi pola pikir mahasiswa baru.

Menurutnya, mahasiswa FKG akan menghadapi tuntutan akademik, praktikum, kegiatan laboratorium, serta dinamika kehidupan kemahasiswaan.

Karena itu, PKKMB diharapkan dapat menjadi fondasi untuk mengenalkan budaya akademik, etika profesi, sekaligus membangun rasa memiliki terhadap almamater.

“Ini adalah momentum mindset transformation, titik balik dari seorang siswa menjadi mahasiswa kedokteran gigi,” katanya.

Kolaborasi Fakultas dan Lembaga Kemahasiswaan

Pelaksanaan PKKMB FKG Unhas 2026 akan mengusung konsep kolaboratif dengan melibatkan unsur fakultas dan lembaga kemahasiswaan, khususnya BEM FKG Unhas.

Materi yang diberikan akan mencakup tiga aspek utama, yakni akademik, kemahasiswaan, dan pengembangan diri.

Pada aspek akademik, mahasiswa baru akan mendapatkan informasi mengenai sistem perkuliahan, pengelolaan akademik, serta perbedaan pola belajar di perguruan tinggi dibandingkan dengan sekolah menengah.

Sementara itu, materi kemahasiswaan akan memperkenalkan berbagai organisasi dan lembaga yang dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan di luar akademik.

Pada aspek pengembangan diri, PKKMB tahun ini menghadirkan materi penguatan karakter yang akan disampaikan oleh praktisi psikologi.

Materi tersebut ditujukan untuk membantu mahasiswa membangun kepercayaan diri dan kesiapan mental dalam menghadapi tuntutan pendidikan kedokteran gigi.

Selain itu, panitia juga menghadirkan talkshow bersama alumni sebagai bagian dari upaya memberikan motivasi kepada mahasiswa baru melalui pengalaman dan perjalanan alumni FKG Unhas.

Memasuki Program Studi Sarjana Kedokteran Gigi, mahasiswa akan menghadapi pola pembelajaran yang menuntut keaktifan dan kemandirian.

Dokter Zilal menjelaskan bahwa proses pendidikan tidak hanya berlangsung melalui perkuliahan tatap muka. Mahasiswa juga akan mengikuti diskusi, tutorial, praktikum, kegiatan pengabdian kepada masyarakat, serta berbagai aktivitas kemahasiswaan.

Dalam sistem pembelajaran berbasis student-centered learning, mahasiswa dituntut aktif menganalisis permasalahan dan mencari solusi melalui proses diskusi dan tutorial.

Kegiatan praktikum juga menjadi bagian penting karena mahasiswa kedokteran gigi tidak hanya membutuhkan penguasaan teori, tetapi juga keterampilan klinis dan keterampilan tangan.

Selain itu, mahasiswa memiliki kesempatan mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri di tingkat fakultas maupun universitas.

Salah satu hal yang diperkenalkan kepada mahasiswa adalah Mata Kuliah Penguatan Kompetensi (MKPK).

MKPK memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman dan kompetensi melalui berbagai aktivitas, seperti seminar, pelatihan, perlombaan, maupun kegiatan olahraga dan organisasi kemahasiswaan.

Berbagai aktivitas tersebut dapat dikonversi menjadi bagian dari capaian akademik dengan bobot sekitar 10 SKS. Aktivitas mahasiswa kemudian didata dan diverifikasi melalui sistem SIPAKAMASE Universitas Hasanuddin.

Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman di dalam ruang kuliah, tetapi juga dapat mengembangkan kompetensi melalui kegiatan di luar perkuliahan.

Organisasi Jadi Wadah Pengembangan Soft Skill

BEM FKG Unhas juga menyediakan berbagai program pengembangan diri bagi mahasiswa. Salah satunya adalah Sosialisasi Almamater, yang menjadi bagian dari rangkaian pengaderan mahasiswa.

Program tersebut dikemas dalam forum intelektual yang membahas berbagai materi, antara lain kepemimpinan, manajemen waktu, serta pengenalan budaya dan kehidupan kemahasiswaan di FKG Unhas.

Selain itu, terdapat program INSIGHT (Innovation and Scientific Writing and Draft) yang berfokus pada pengembangan kemampuan penulisan karya tulis ilmiah.

BEM FKG Unhas juga memiliki program CALM (Creating Awareness for Mental Health) sebagai bentuk kepedulian terhadap kesejahteraan dan kesehatan mental mahasiswa.

Bahru Rozak menilai pengalaman berorganisasi memberikan sejumlah keterampilan yang relevan dengan profesi dokter gigi, khususnya kemampuan komunikasi empatis, manajemen konflik dan pemecahan masalah, serta kemampuan berkolaborasi.

Menurutnya, dokter gigi tidak hanya berhadapan dengan masalah kesehatan gigi dan mulut, tetapi juga dengan manusia dari berbagai latar belakang.

“Yang kita rawat bukan hanya gigi, tetapi manusia. Karena itu pengalaman organisasi dalam mendengar, menyampaikan gagasan, berbicara, dan berempati akan sangat membantu ketika menghadapi pasien,” ujarnya.

Meski mahasiswa diberikan banyak kesempatan untuk berorganisasi dan mengembangkan diri, Bahru menegaskan bahwa kegiatan akademik tetap harus menjadi prioritas utama.

Ia menyebut akademik dan organisasi bukan dua hal yang harus dipertentangkan, melainkan dapat berjalan beriringan selama mahasiswa mampu mengatur waktu dan menentukan skala prioritas.

Salah satu cara yang diterapkannya adalah membuat daftar kegiatan setiap malam untuk mengatur agenda akademik dan organisasi pada hari berikutnya.

“Akademik dan organisasi itu sejalan, tidak bertentangan. Kuncinya bagaimana kita memanajemen waktu agar keduanya tidak bentrok. Akademik tetap menjadi prioritas, sementara organisasi dapat berjalan beriringan,” tuturnya.

Menghadapi masa transisi dari siswa menjadi mahasiswa, Zilal memberikan tiga hal utama yang perlu dipersiapkan mahasiswa baru, yakni belajar, membuka diri dan membangun relasi, serta menjaga motivasi.

Mahasiswa baru diharapkan tidak hanya fokus pada pencapaian akademik, tetapi juga mampu beradaptasi dengan lingkungan baru dan membangun hubungan positif dengan sesama mahasiswa maupun civitas akademika.

PKKMB FKG Unhas 2026 diharapkan menjadi fondasi awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan akademik, memahami tuntutan pendidikan kedokteran gigi, serta menemukan berbagai peluang pengembangan diri selama menjalani pendidikan di FKG Unhas.

Dengan bekal tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya siap menghadapi proses perkuliahan, tetapi juga tumbuh menjadi calon tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi, karakter, kemampuan berkomunikasi, serta kepedulian terhadap masyarakat.’

(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)