UNHAS.TV - Di ruang praktik Departemen Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT) Gedung A Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin (RSP Unhas), Makassar, kisah-kisah tentang kanker nasofaring kerap berulang.
Penyakit yang tumbuh perlahan itu sering datang tanpa suara, baru terasa ketika sudah mencapai stadium lanjut. Yang mengejutkan, akar masalahnya kerap bermula dari meja makan—bahkan sejak masa kanak-kanak.
Kanker nasofaring merupakan keganasan yang tumbuh di bagian belakang rongga hidung, dekat dengan dasar tengkorak. Letaknya yang tersembunyi membuat penyakit ini sulit dideteksi dini.
Banyak pasien baru datang berobat ketika keluhan sudah menjalar: hidung tersumbat kronis, mimisan berulang, gangguan pendengaran, hingga pembesaran kelenjar di leher. Pada titik itu, penanganan menjadi lebih kompleks.
Dokter Spesialis THT–Bedah Kepala Leher sekaligus Konsultan Onkologi, dr. dr. Nova A. L. Pieter, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. Onko.(K), FICS, menjelaskan bahwa kanker nasofaring dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Genetik dan infeksi virus Epstein-Barr telah lama dikenal sebagai pemicu utama. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, pola makan sejak usia dini semakin mendapat perhatian serius dalam dunia medis.
Menurut dr. Nova, konsumsi makanan instan, diasap, diawetkan, serta ikan asin secara terus-menerus sejak kecil berkontribusi pada peningkatan risiko kanker nasofaring.
Makanan jenis ini umumnya mengandung zat nitrosamin dan bahan kimia lain yang bersifat karsinogenik. Zat-zat tersebut tidak serta-merta menimbulkan penyakit, tetapi terakumulasi perlahan dalam tubuh selama bertahun-tahun.
“Ini penyakit yang prosesnya panjang. Apa yang dimakan seseorang sejak kecil bisa berdampak puluhan tahun kemudian,” ujar dr. Nova di sela-sela wawancara dengan unhas.tv, Desember 2025 lalu.
Ia menuturkan sebuah kasus yang membekas dalam ingatannya. Seorang anak berusia sekitar sepuluh tahun datang dengan diagnosis kanker nasofaring.
Setelah ditelusuri, anak tersebut memiliki kebiasaan mengonsumsi mi instan siap makan dalam kemasan sachet sejak usia sangat dini. Tanpa perlu dimasak, makanan itu menjadi camilan harian yang mudah dijangkau—terutama karena minimnya pengawasan orang tua.
“Kondisi seperti ini sering terjadi pada anak-anak yang ditinggal orang tuanya bekerja. Asupan makanan sehari-hari tidak terkontrol. Anak memilih makanan yang praktis, gurih, dan instan,” kata dr. Nova.
Pola ini, menurutnya, bukan sekadar soal pilihan makan, melainkan gaya hidup yang terbentuk sejak kecil.
Fenomena serupa juga ditemukan pada komunitas tertentu di wilayah pesisir dan beberapa daerah di China Selatan, seperti Guangzhou.
Di sana, konsumsi makanan diasap dan diawetkan merupakan bagian dari tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan tersebut berkorelasi dengan tingginya angka kanker nasofaring di kawasan tersebut.
Makanan yang dianggap praktis dan tahan lama itu, ketika dikonsumsi terus-menerus, berubah menjadi ancaman kesehatan jangka panjang.
Kebiasaan makan, kata dr. Nova, adalah investasi kesehatan. Apa yang ditanamkan sejak kecil akan dipanen di masa dewasa.
Pola makan tidak sehat dapat memicu akumulasi zat berbahaya dalam tubuh, yang kemudian meningkatkan risiko keganasan pada usia produktif, sekitar 30 hingga 40 tahun.
Pada rentang usia ini, dampaknya bukan hanya dirasakan individu, tetapi juga keluarga dan lingkungan sosialnya.
Karena itu, peran orang tua menjadi krusial. Pengawasan terhadap pola makan anak sejak dini bukan sekadar urusan gizi, melainkan upaya pencegahan penyakit serius di masa depan.
Membiasakan konsumsi makanan segar, membatasi makanan instan dan awetan, serta menanamkan kesadaran hidup sehat sejak kecil adalah langkah sederhana namun berdampak besar.
Di ruang-ruang rumah sakit, para dokter terus menangani pasien dengan segala keterbatasan medis yang ada. Namun, pencegahan sejatinya dimulai jauh sebelum seseorang duduk di kursi pemeriksaan.
Ia bermula dari dapur rumah, dari pilihan makanan harian, dan dari kesadaran bahwa kesehatan anak hari ini menentukan kualitas hidup mereka kelak. Ancaman kanker nasofaring mungkin tak terlihat, tetapi ia mengintai—diam-diam—sejak usia belia.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
Ilustrasi ancaman kanker nasofaring akibat pola makan tidak tepat sejak kecil. Seperti mengonsumsi makanan instan. (ilustrasi chatgpt)




-300x188.webp)



