MAKASSAR, UNHAS.TV - Pengembangan pangan lokal mengemuka dalam Satellite Symposium B pada hari kedua The 3rd International Conference on Nutrition and Public Health (ICNPH) 2026 di Innovate Room A, Unhas Hotel and Convention, Makassar, Kamis (9/4/2026).
Forum ini menyoroti peluang pemanfaatan komoditas lokal Sulawesi Selatan sebagai bahan baku menu program Makan Bergizi Gratis atau MBG.
Dosen Universitas Hasanuddin, Ulfah Najamuddin, memaparkan bahwa Sulawesi Selatan memiliki kekayaan komoditas pangan yang melimpah, namun belum dimanfaatkan secara optimal untuk menopang kebutuhan pangan bergizi anak sekolah.
Selama ini, sebagian komoditas justru lebih banyak keluar sebagai bahan mentah atau diekspor, alih-alih diolah menjadi produk bernilai tambah yang dekat dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Menurut Ulfah, pendekatan yang ditawarkan bukan sekadar menghadirkan makanan yang mengenyangkan, melainkan mengembangkan produk olahan berbasis pangan lokal yang padat gizi.
Ia menyebut bentuknya dapat berupa nugget, biskuit, atau camilan bergizi lain yang disesuaikan dengan selera anak sekolah. Sasaran utamanya bukan hanya memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga menutup kekurangan mikronutrien yang masih banyak dialami anak usia sekolah.
Ia menilai masalah gizi anak tidak berhenti pada asupan makro seperti kalori dan protein. Masih ada persoalan hidden hunger, ketika anak tampak cukup makan tetapi sebenarnya kekurangan zat gizi mikro.
Karena itu, inovasi pangan lokal dinilai dapat menjadi jalan keluar yang lebih relevan: bahan bakunya tersedia di daerah, kandungan gizinya bisa dipetakan, lalu diolah menjadi produk yang mudah diterima anak.
Ulfah mengusulkan agar gagasan ini tidak langsung diterapkan secara luas. Menurut dia, pengembangan produk sebaiknya dimulai dari skala kecil sebagai proyek percontohan.
Unhas, kata Ulfah, bisa menjadi titik awal untuk menguji apakah produk itu disukai anak sekolah, layak dikembangkan, dan efektif mendukung penyediaan menu pada SPPG sebelum diperluas ke tempat lain. Saat ini, gagasan tersebut masih berada pada tahap awal, yakni ide dan identifikasi komoditas.
Salah satu komoditas yang dicontohkan adalah rumput laut. Sulawesi Selatan memiliki pasokan yang besar, tetapi pemanfaatannya sebagai produk pangan olahan masih terbatas.
Padahal, komoditas semacam ini dapat dikembangkan menjadi makanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan program makan anak sekolah.
Menu Olahan Disukai Anak
Ulfah menekankan, setelah komoditas utama diidentifikasi, tahap berikutnya adalah membaca minat anak—bentuk produk seperti apa yang mereka sukai—lalu merumuskan olahan yang menarik tanpa mengorbankan nilai gizi.
Ia berharap pengembangan menu MBG ke depan tidak bergantung pada produk jadi yang dibeli dari luar, melainkan bertumpu pada sumber daya alam Sulawesi Selatan sendiri.
Skema semacam ini dinilai lebih berkelanjutan karena rantai pasoknya dekat, pengawasannya lebih mudah, dan manfaat ekonominya dapat kembali ke daerah penghasil.
Di forum itu, pangan lokal tidak lagi dibaca sebagai cadangan bahan mentah, melainkan sebagai dasar inovasi menu yang lebih bergizi, lebih terjangkau, dan lebih berkelanjutan bagi anak sekolah.
(Venny Septiani Semuel / Rahmatia Ardi / Unhas TV)
Akademisi Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas Ulfah Najamuddin SSi MKes PhD. (Unhas TV/Rahmatia Ardi)








