MAKASSAR, UNHAS.TV - Di tengah masifnya penggunaan perangkat digital seperti iPad dan laptop di ruang-ruang perkuliahan, pakar psikologi justru menyarankan mahasiswa untuk kembali pada cara lama yakni menulis dengan tangan.
Metode manual ini dinilai lebih efektif dalam membantu mahasiswa memahami dan mengingat materi kuliah dibandingkan mengetik di perangkat elektronik.
Pandangan tersebut disampaikan psikolog Alifia Ainun Rizky dalam diskusi santai bertema strategi belajar efektif yang digelar di Brood Bakery, Makassar.
Menurut Alifia, kebiasaan mencatat menggunakan laptop yang kini dianggap praktis dan modern justru berpotensi menurunkan kualitas pemahaman mahasiswa terhadap materi perkuliahan.
“Mahasiswa sekarang cenderung lebih nyaman membawa laptop ke kelas. Tapi dari sisi kognitif, menulis tangan memberikan keuntungan yang jauh lebih besar dibandingkan mengetik,” kata Alifia.
Ia menjelaskan, ketika mahasiswa mengetik, mereka cenderung menyalin penjelasan dosen secara verbatim atau kata demi kata.
Proses ini berlangsung cepat dan otomatis, tanpa memberi ruang bagi otak untuk mengolah informasi secara mendalam. Akibatnya, materi yang dicatat sering kali tidak benar-benar dipahami.
Sebaliknya, menulis dengan tangan memaksa mahasiswa untuk melakukan parafrase atau merangkum isi penjelasan dosen.
Proses ini menuntut mahasiswa memilih informasi yang dianggap penting, mengolahnya, lalu menuliskannya kembali dengan bahasa sendiri. “Di situ terjadi proses berpikir aktif,” ujar Alifia.
Menurut dia, aktivitas menulis tangan melibatkan koordinasi antara otak, mata, dan gerakan tangan.
Keterlibatan multisensorik ini membuat otak bekerja lebih intens dalam menyaring substansi pelajaran sebelum dituangkan ke atas kertas.
Proses tersebut menciptakan dialog internal antara pikiran dan tindakan menulis, yang berperan besar dalam pembentukan memori jangka panjang.
Alifia menambahkan, sejumlah penelitian psikologi kognitif juga menunjukkan bahwa mahasiswa yang mencatat secara manual memiliki tingkat retensi informasi yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang mencatat menggunakan laptop.
Materi yang ditulis tangan cenderung lebih mudah diingat dan dipahami, terutama untuk konsep-konsep yang membutuhkan pemikiran analitis.
Meski demikian, Alifia tidak sepenuhnya menolak penggunaan teknologi digital dalam proses belajar.
Ia menilai laptop dan tablet tetap bermanfaat, terutama untuk mengakses referensi, membaca jurnal, atau menyusun tugas. Namun, untuk kegiatan mencatat materi inti perkuliahan, metode tulis tangan dinilai lebih ideal.
“Teknologi itu alat bantu, bukan pengganti proses berpikir. Kalau ingin benar-benar paham, buku dan pena masih sangat relevan,” kata Alifia.
Ia pun mendorong mahasiswa untuk lebih bijak memilih metode belajar yang sesuai dengan tujuan akademik mereka.
Di tengah arus digitalisasi pendidikan, kemampuan mengelola cara belajar secara sadar dinilai menjadi kunci agar mahasiswa tidak sekadar hadir di kelas, tetapi juga mampu menyerap dan menguasai ilmu yang dipelajari.
(Amina Rahma Ahmad / Unhas TV)
TULIS TANGAN. Ilustrasi seorang menulis tangan. Pakar psikologi menyarankan mahasiswa untuk kembali pada cara lama yakni menulis dengan tangan. (foto: freepick)








