News

Puasa Bukan Praktik Eksklusif Khusus Umat Islam

MAKASSAR, UNHAS.TV - Banyak agama dan kelompok spiritual di dunia juga membiasakan atau mewajibkan puasa dalam berbagai bentuk, baik sebagai ibadah wajib, sunnah, maupun untuk tujuan spiritual seperti penyucian diri, pengendalian nafsu, meditasi, pertobatan, atau empati terhadap sesama.

Beberapa agama dan kelompok utama memiliki tradisi puasa sehingga bukan cuma ada di ajaran Islam). Berikut ini beberapa kelompok dan agama yang mengajarkan pengikutnya berpuasa.

Agama Yahudi (Judaism)

Puasa (disebut Ta'anit) merupakan bagian penting dalam tradisi Yahudi. Ada beberapa hari puasa wajib dalam setahun, yang paling terkenal adalah Yom Kippur (Hari Pendamaian), di mana umat Yahudi berpuasa total (tidak makan dan minum) selama sekitar 25 jam, dari matahari terbenam hingga matahari terbenam berikutnya. 

Selain itu, ada puasa lain seperti Tisha B'Av (peringatan kehancuran Bait Suci), Fast of Esther, dan beberapa hari kecil lainnya. Tujuannya adalah pertobatan, pengakuan dosa, dan refleksi spiritual.

Agama Kristen

Puasa sangat umum, meski bentuknya bervariasi antar denominasi: Dalam Katolik dan beberapa gereja lainnya, ada masa Lent (pra-Paskah) selama 40 hari, di mana umat berpantang daging pada hari Jumat, dan berpuasa (makan lebih sedikit) pada Ash Wednesday serta Good Friday.  

Gereja Ortodoks (termasuk Ortodoks Timur) memiliki puasa yang lebih ketat dan panjang, bisa mencapai 200 hari setahun dengan pantang makanan hewani.  

Beberapa kelompok seperti Mormon (Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir) berpuasa 24 jam penuh setiap bulan pertama. Tujuannya sering untuk pertobatan, doa yang lebih dalam, dan pengorbanan.

Agama Hindu

Puasa (disebut Upawasa atau Vrat) sangat umum dan fleksibel. Umat Hindu sering berpuasa pada hari-hari tertentu seperti hari bulan baru, festival seperti Shivaratri, Navratri, Karva Chauth (khusus wanita), atau puasa untuk dewa tertentu (misalnya puasa Senin untuk Dewa Siwa). 

Bentuknya bisa total tidak makan, hanya makan buah/sayur, atau menghindari makanan tertentu. Tujuannya untuk membersihkan tubuh dan pikiran, mendekatkan diri pada Tuhan, serta memohon berkah.

Agama Buddha

Puasa lebih bersifat sukarela dan sering dilakukan oleh biksu/biksuni, misalnya tidak makan setelah tengah hari hingga pagi berikutnya (praktik harian di banyak sangha). 

Umat awam juga bisa berpuasa pada hari-hari suci seperti hari bulan purnama atau saat meditasi intens. Tujuannya melatih kesadaran (mindfulness), mengendalikan keinginan, dan mendukung meditasi menuju pencerahan.

Agama Jainisme

Puasa sangat ketat dan menjadi salah satu praktik utama. Umat Jain sering melakukan puasa nabati (menghindari makanan hewani), puasa parsial, atau bahkan puasa total (upwas) selama berhari-hari hingga berminggu-minggu. 

Ada puasa ekstrem seperti Santhara (puasa hingga mati sukarela untuk mencapai moksha). Tujuannya adalah ahimsa (tanpa kekerasan), membersihkan karma buruk, dan mencapai pembebasan jiwa.

Agama Bahá’í

Umat Bahá’í melaksanakan puasa 19 hari setiap tahun (dari matahari terbit hingga terbenam) pada bulan Ala (biasanya Maret). Mereka tidak makan dan minum selama periode tersebut (dengan pengecualian untuk yang sakit, hamil, dan lain-lainnya). Tujuannya untuk refleksi spiritual, pengendalian diri, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Selain agama-agama di atas, ada juga tradisi puasa dalam Taoisme, beberapa aliran spiritual asli, serta kelompok non-agama yang melakukan puasa untuk kesehatan atau filosofi hidup. 

Secara umum, puasa di berbagai tradisi ini memiliki benang merah: melatih disiplin diri, membersihkan jiwa, meningkatkan empati, dan mendekatkan hubungan dengan yang Ilahi atau alam semesta.(*)