Mahasiswa
Sosial

Pusdis Unhas Gelar Sosialisasi Etika Pendampingan dan MKPK untuk Mahasiswa Disabilitas dan Relawan

Pusat Disabilitas Unhas menggelar pertemuan mahasiswa disabilitas dan relawan, di Kantor Pusdis Unhas, Kampus Unhas, Makassar, Sabtu (11/4/2026). (Dok Pusdis Unhas)

MAKASSAR, UNHAS.TV – Pusat Disabilitas Universitas Hasanuddin (Pusdis Unhas) menggelar kegiatan pertemuan mahasiswa disabilitas dan relawan, di Kantor Pusdis Unhas, Kampus Unhas, Makassar, Sabtu (11/4/2026).

Pertemuan ini dirangkaikan dengan sosialisasi etika pendampingan serta pengisian Mata Kuliah Penguatan Kompetensi (MKPK).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat komunikasi, solidaritas, serta pemahaman etika dalam relasi pendampingan yang setara antara mahasiswa disabilitas dan relawan di lingkungan kampus inklusif.

Kepala Pusdis Unhas, Dr Ishak Salim SIP MA dalam sambutannya menegaskan komitmen universitas dalam menghadirkan layanan pendidikan yang setara dan inklusif.

"Universitas Hasanuddin berkomitmen untuk memastikan setiap mahasiswa, termasuk mahasiswa disabilitas, mendapatkan akses pendidikan yang setara, bermartabat, dan inklusif," kata Ishak.

"Kehadiran relawan bukan hanya sebagai pendamping teknis, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem inklusi yang saling memahami dan menghargai," ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa inklusivitas tidak hanya soal fasilitas, tetapi juga tentang membangun budaya saling menghargai dalam interaksi sehari-hari.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Divisi Layanan dan Mediasi Pusdis Unhas ini merupakan bagian dari program kerja dalam memperkuat interaksi antara mahasiswa disabilitas dan relawan.

Koordinator Divisi Layanan dan Mediasi, Andi Nur Lela, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menghilangkan sekat antara relawan dan mahasiswa disabilitas.

"Tujuan utama kegiatan ini adalah mempererat silaturahmi dan membangun komunikasi yang lebih baik. Kami ingin tidak ada lagi sekat antara relawan dan mahasiswa disabilitas, tetapi justru terbangun relasi yang setara dan saling memahami," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga menjadi ruang untuk membangun empati dan kesadaran akan keberagaman di lingkungan kampus.

"Kita ingin semua pihak memahami batasan, etika, serta apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam proses pendampingan. Ini penting agar interaksi yang terbangun tetap menghargai kemandirian mahasiswa disabilitas," tambahnya.

MKPK untuk Disabilitas dan Relawan

>> Baca Selanjutnya