Karier
Pendidikan

Raih IPK 4,00 dan 3 Publikasi Scopus Q1, Helen Dias Andhini Jadi Lulusan Terbaik Doktor FEB Unhas

Helen Dias Andhini terpilih sebagai Lulusan Terbaik Doktor FEB Unhas dengan IPK 4,0 dan 3 artikel terindeks SCOPUS Q1. (Dok FEB Unhas)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Nama Dr Helen Dias Andhini SKM ME ditetapkan sebagai lulusan terbaik Program Doktor Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Hasanuddin (Unhas) pada Wisuda Unhas Periode Oktober 2026.

Ia menuntaskan pendidikan doktoral dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00, predikat cumlaude, dan masa studi dua tahun. Capaian akademik tersebut dilengkapi tiga publikasi ilmiah yang terindeks Scopus Q1.

Prestasi Helen menjadi catatan tersendiri dalam penyelesaian pendidikan doktoral. Pada jenjang ini, keberhasilan mahasiswa tidak hanya diukur melalui nilai akademik, tetapi juga kemampuan menghasilkan penelitian yang memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Disertasi dan publikasi ilmiah menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Menyelesaikan studi dalam dua tahun dengan IPK sempurna dan tiga artikel pada jurnal bereputasi internasional membutuhkan konsistensi dalam menjalankan seluruh tahapan penelitian.

Prosesnya mencakup perumusan masalah, pengembangan kerangka teoretis, penyusunan model penelitian, pengumpulan data, hingga pengujian hasil penelitian.

Publikasi pada jurnal Scopus Q1 juga memiliki tantangan tersendiri. Peneliti harus menawarkan kebaruan, memenuhi standar metodologi, serta melewati proses penelaahan akademik yang ketat.

Tahapan korespondensi dengan editor dan reviewer membutuhkan ketelitian serta waktu yang tidak singkat.

Helen mengangkat persoalan manajemen krisis dan ketahanan daerah dalam disertasinya yang berjudul Model Manajemen Krisis Strategis: Peran Mediasi Kesiapan Kelembagaan, Tata Kelola Kolaboratif, dan Pemulihan Pascabencana terhadap Ketahanan Berkelanjutan di Provinsi Sulawesi Tenggara. 

Penelitian tersebut menempatkan bencana sebagai persoalan strategis yang membutuhkan pendekatan manajemen.

Bencana tidak hanya berkaitan dengan aspek kedaruratan, tetapi juga menyangkut kapasitas organisasi, kualitas pengambilan keputusan, koordinasi antarlembaga, serta keberlanjutan pembangunan daerah.

Helen mengembangkan model penelitian dengan menempatkan tiga variabel sebagai mekanisme penting dalam membangun ketahanan berkelanjutan. Ketiganya meliputi kesiapan kelembagaan, tata kelola kolaboratif, dan pemulihan pascabencana.

Kesiapan kelembagaan berkaitan dengan kapasitas institusi dalam menghadapi krisis melalui struktur organisasi, sumber daya, dan prosedur yang memadai.

Tata kelola kolaboratif menekankan koordinasi antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya. Adapun pemulihan pascabencana berfokus pada kemampuan daerah membangun kembali kondisi sosial, ekonomi, dan kelembagaan secara lebih baik.

Penanggulangan Bencana ke Ketahanan Jangka Panjang

Model tersebut relevan dengan praktik penanggulangan bencana di daerah yang masih kerap berorientasi pada respons kedaruratan. Padahal, ketahanan suatu wilayah juga ditentukan oleh kesiapan sebelum bencana terjadi dan kualitas pemulihan setelah bencana berakhir.

Pendekatan yang dikembangkan Helen mendorong penguatan kapasitas kelembagaan sejak sebelum krisis. Koordinasi lintas sektor dan perencanaan pemulihan juga menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan daerah.

Dengan demikian, keberhasilan penanggulangan bencana tidak hanya dilihat dari kecepatan respons, tetapi juga kemampuan daerah mengurangi risiko dan mempertahankan keberlanjutan pembangunan.

Latar belakang Helen sebagai praktisi di bidang kebencanaan dan manajemen risiko turut memberikan perspektif praktis dalam penyusunan disertasi. Pengalaman tersebut mempertemukan pendekatan akademik dengan persoalan yang dihadapi dalam pengelolaan bencana di lapangan.

Helen mengatakan predikat lulusan terbaik bukan ukuran bahwa dirinya lebih unggul dibandingkan orang lain. Ia memandang pencapaian tersebut sebagai hasil dari proses pengembangan diri selama menempuh pendidikan di Unhas.

“Predikat terbaik bagi saya bukan berarti saya lebih hebat dari orang lain. Saya memaknainya sebagai proses menjadi lebih baik dari diri saya sebelumnya," ujarnya.

"Seluruh perjalanan di Universitas Hasanuddin telah membentuk saya, bukan hanya secara akademik, tetapi juga dalam cara berpikir, kedisiplinan, dan keberanian melihat masa depan,” kata Helen.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pimpinan FEB Unhas, promotor, ko-promotor, tim penguji, dosen, keluarga, sahabat, serta berbagai pihak yang mendukung penyelesaian studinya.

Menurut Helen, pendidikan doktoral memberikan pengalaman untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, merumuskan persoalan secara sistematis, dan menyusun solusi berdasarkan bukti ilmiah. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari pembentukan kapasitas akademik dan profesional.

Setelah menyelesaikan pendidikan doktoral, Helen berharap hasil penelitian dan pengalaman akademiknya dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan kebijakan publik, manajemen krisis, penanggulangan bencana, dan pembangunan daerah, terutama di Sulawesi Tenggara.

Ia berharap model yang dikembangkan melalui disertasinya dapat menjadi salah satu rujukan dalam memperkuat kapasitas kelembagaan, mekanisme koordinasi, serta perencanaan pemulihan pascabencana.

Penerapan hasil penelitian tersebut diharapkan mendukung kebijakan daerah yang lebih terintegrasi dan berorientasi pada ketahanan jangka panjang. (*)