MAKASSAR, UNHAS.TV - Asosiasi Pendidikan Tinggi Arsitektur Indonesia (APTARI) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2026 di Kampus Teknik Universitas Hasanuddin (Unhas), Gowa, Selasa-Rabu (4-5/8/2026).
Rakernas membahas Transformasi kurikulum, pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), penguatan pendidikan profesi, serta penyelarasan pendidikan arsitektur dengan kebutuhan dunia kerja.
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Republik Indonesia, Prof Yassierli ST MT PhD, menekankan bahwa perubahan dunia kerja perlu direspons dengan peningkatan kompetensi secara berkelanjutan.
Pesan tersebut juga ditujukan kepada para arsitek muda agar tidak berhenti mengembangkan kemampuan di tengah kemajuan teknologi, termasuk AI. “Dunia kerja berubah, tingkatkan kompetensi. Jangan puas dengan kompetensi yang ada saat ini,” ujarnya.
Ketua Umum APTARI, Dr Yulianto P. Prihatmaji, mengatakan Rakernas tahun ini diarahkan untuk menghasilkan panduan bagi para pemangku kepentingan dalam mengembangkan kurikulum pendidikan arsitektur.
Sejumlah isu strategis yang dibahas meliputi penggunaan AI dalam praktik profesional arsitek, peningkatan mutu pendidikan melalui akreditasi nasional dan internasional, serta penyesuaian kurikulum terhadap perkembangan profesi.
“Tahun ini targetnya adalah kita bisa memandu semua stakeholder kaitannya dengan kurikulum. Ada beberapa isu strategis, misalnya penggunaan AI terkait dengan praktik profesional di profesi arsitek, kemudian bagaimana kita juga bisa meningkatkan kualitas pendidikan arsitektur di Indonesia dengan akreditasi, baik nasional maupun internasional,” jelas Yulianto.
Ia menjelaskan bahwa perubahan kebutuhan dunia kerja menuntut penyesuaian terhadap profil lulusan arsitektur.
Jika sebelumnya lulusan lebih banyak dipetakan sebagai akademisi atau praktisi, kini profil lulusan perlu dirumuskan secara lebih rinci berdasarkan kemampuan kerja dan keterampilan yang dibutuhkan.
Menurut Yulianto, pembaruan kurikulum juga perlu diikuti dengan perubahan pendekatan pembelajaran.
Dosen memiliki peran penting dalam menerapkan kurikulum melalui metode mengajar yang relevan, termasuk memperkenalkan pendidikan arsitektur kepada calon mahasiswa sejak jenjang sekolah menengah.
“Kita memang harus berubah. Ini sangat berbeda dengan lima sampai sepuluh tahun yang lalu terkait dengan profil lulusan. Sekarang sudah lebih fokus dan lebih detail kaitannya dengan kemampuan kerja atau keterampilan," ujar Yulianto.
"Yang paling penting untuk kurikulum itu yang berubah adalah dosennya, bukan kurikulumnya itu sendiri. Jadi dosennya bagaimana cara mengajar, kemudian bagaimana kita mempromosikan pendidikan arsitektur kepada siswa SMA atau yang sederajat,” tambahnya.
Libatkan Ekosistem dan Profesi
Yulianto menambahkan bahwa Rakernas APTARI turut melibatkan berbagai unsur dalam ekosistem pendidikan dan profesi arsitektur, antara lain APTARI, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Dewan Arsitek Indonesia, lembaga akreditasi, serta Indonesia Architectural Accrediting Board (IAAB).
Keterlibatan berbagai lembaga tersebut diarahkan untuk meningkatkan mutu pendidikan arsitektur secara lebih merata di berbagai wilayah Indonesia.
“Dari ekosistem ini, kita bisa meningkatkan kualitas pendidikan arsitektur di Indonesia, dari Papua, Sulawesi, Kalimantan, Jawa, hingga Sumatra agar setara,” katanya.
Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Pendidikan Tinggi Arsitektur Sulawesi Selatan, Dr Ir Ar H Edward Syarif ST MT IAI menjelaskan bahwa pendidikan arsitektur perlu terus menyesuaikan diri dengan perkembangan kebutuhan pasar kerja, baik pada tingkat lokal maupun internasional.
Menurut Edward, lulusan arsitektur tidak hanya dituntut memiliki wawasan global, tetapi juga memahami karakter dan kearifan lokal sebagai bagian dari kompetensi profesional.
“Pendidikan arsitektur harus selalu melihat perkembangan kebutuhan pasar terhadap alumni kita. Global dan lokal harus disatukan serta saling terintegrasi, sehingga arsitek yang dihasilkan bukan hanya memiliki wawasan global, tetapi juga memahami apa yang ada di lokal atau kearifan lokal,” jelas Edward.
Ia menjelaskan bahwa pembahasan Rakernas dibagi ke dalam enam Kelompok Kerja (Pokja) yang masing-masing membahas aspek berbeda dalam pengembangan pendidikan arsitektur.
Pokja Merdeka Belajar Kampus Merdeka membahas transisi menuju konsep Kampus Berdampak, terutama terkait pelaksanaan pembelajaran di luar kampus dan penguatan kesiapan profesional lulusan.
Pembahasan tersebut dilanjutkan dalam Pokja Pendidikan Arsitektur Lima Tahun (4+1) yang berfokus pada jalur pendidikan profesional arsitek, khususnya tahapan Pendidikan Profesi Arsitek (PPAr).
Pokja Pendidikan Arsitektur (4+2) mengkaji pengembangan program magister arsitektur melalui dua jalur, yakni jalur desain dan jalur riset. Adapun Pokja Vokasi membahas penguatan keterampilan praktis serta kompetensi tenaga kerja di bidang arsitektur.
Pada aspek pembelajaran inti, Pokja Kurikulum dan Studio mengkaji penyelarasan kurikulum studio arsitektur dengan kebutuhan pasar sekaligus penguatan nilai-nilai kearifan lokal.
Selanjutnya, Pokja Pengembangan Keilmuan dan Riset membahas arah pengembangan penelitian arsitektur, termasuk pemanfaatan AI dalam proses desain maupun riset.
“Sekarang ini berkembang AI. Jadi model-model desain dan model-model riset mengarah pada bagaimana AI itu berperan di dalam kedua bidang ini, bidang arsitektur,” ujar Edward.
Edward juga mengajak para arsitek muda untuk terus belajar, mengikuti perkembangan teknologi, serta memahami dinamika arsitektur pada tingkat global maupun lokal.
Melalui pembahasan tersebut, Rakernas APTARI 2026 memusatkan perhatian pada pembaruan kurikulum, penguatan profil lulusan, pendidikan profesi, vokasi, akreditasi, riset, serta pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pendidikan arsitektur.
Sejumlah isu tersebut menjadi bagian dari agenda pembahasan APTARI dalam merumuskan arah pengembangan pendidikan arsitektur di Indonesia.
(Mustika Syaharuddin / Unhas TV)
RAKERNAS APTARI - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Republik Indonesia, Prof Yassierli ST MT PhD, menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pendidikan Tinggi Arsitektur Indonesia (APTARI) 2026 di Kampus Teknik Unhas Gowa, Selasa-Rabu (4-5/8/2026). (Unhas TV / Mustika Syaharuddin)

-300x169.webp)






