UNHAS.TV - Raden Dewi Salma Khairunnisa Nurfatonah Patmadipura tidak datang ke Makassar hanya untuk kuliah. Ia meninggalkan Bandung, kota asalnya, untuk mencari ruang tumbuh yang lebih luas.
Pilihan itu membawanya ke Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Setahun kemudian, ia meraih predikat Mahasiswa Berprestasi atau Mapres kategori Pratama Universitas Hasanuddin periode 2025-2026.
Salma, sapaan akrabnya, mengaku sejak awal sadar bahwa merantau bukan keputusan ringan. Ia masuk Fakultas Kedokteran Unhas melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi atau SNBP pada 2024.
Ketika banyak orang bertanya mengapa memilih Makassar, ia menjawab dengan alasan yang tidak semata akademik.
Menurut Salma, rezeki tidak hanya berbentuk materi. Ia melihat ilmu, pengalaman, dan relasi sebagai bagian penting dari perjalanan hidup.
Karena itu, ia merasa perlu keluar dari lingkungan yang sudah dikenalnya. Di Makassar, ia memulai banyak hal dari nol: bahasa, pergaulan, kebiasaan belajar, hingga jejaring akademik.
“Relasi saya di sini awalnya nol,” kata Salma dalam wawancara program Unhas Story yang dipandu Zulkarnain Jumar Taufik. Ia menyebut keputusan merantau sebagai cara untuk keluar dari zona nyaman dan membangun peluang baru.
Adaptasi menjadi tantangan pertama. Salma harus menyesuaikan diri dengan cara bicara warga Makassar yang menurutnya berbeda dengan kebiasaan di Bandung. Ia sudah mendapat gambaran bahwa gaya bicara orang Makassar terdengar lebih tegas. Namun, pengalaman langsung tetap menghadirkan kejutan kecil.
Salma sempat mencoba meniru cara bicara yang lebih tegas. Hasilnya, teman-temannya justru mengira ia sedang marah. Sejak itu, ia memilih tetap memakai bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari, sambil perlahan memahami bahasa dan kebiasaan setempat.
Di luar soal bahasa, kehidupan sebagai mahasiswa kedokteran juga menguras energi. Salma menjalani kuliah dari pagi hingga sore hampir setiap hari. Pada saat yang sama, ia mengikuti organisasi dan kompetisi. Tahun pertama menjadi masa yang paling berat. Ia harus beradaptasi dengan kota baru sekaligus mengikuti ritme akademik yang padat.
Namun Salma tidak sepenuhnya asing dengan dunia kompetisi. Sejak sekolah dasar, ia sudah terbiasa mengikuti lomba. Ia pernah menjadi perwakilan lomba Olimpiade Matematika. Pada saat yang sama, ia aktif di majalah dinding sekolah. Saat SMP, ia lebih banyak masuk jalur akademik. Ketika SMA, ia mulai serius mengikuti lomba ilmiah dan karya tulis.
Ia sempat merasa bidang olimpiade tidak sepenuhnya cocok dengan karakter dirinya. Setelah mencoba beberapa cabang lomba, Salma menemukan ruang yang lebih sesuai pada karya tulis ilmiah. Dari sana, ia meraih sejumlah prestasi. Ia bahkan sempat mendapat golden ticket di perguruan tinggi negeri lain, tetapi akhirnya memilih berkuliah di Unhas.
Sebelum masuk kuliah, Salma juga pernah menjalani magang di Badan Riset dan Inovasi Nasional, tepatnya di Pusat Riset Material Maju. Pengalaman itu membuatnya belajar tentang fisika material, bidang yang sejak SMA ia sukai. Ia menyebut masa tersebut sebagai bagian dari proses eksplorasi sebelum akhirnya masuk dunia kedokteran.
Berbeda dengan masa sekolah, Salma baru mulai aktif berorganisasi saat kuliah. Ia mengaku tidak pernah mengikuti organisasi secara serius ketika SD, SMP, dan SMA. Justru di Fakultas Kedokteran Unhas, ia mencoba masuk ke banyak ruang baru. Ia mengikuti sekitar lima organisasi, sambil tetap menjaga ritme kompetisi akademik.
Bagi Salma, pandangan bahwa mahasiswa kedokteran hanya belajar tidak sepenuhnya benar. Ia sempat memiliki pandangan serupa saat SMA. Namun setelah mencari informasi, ia mengetahui bahwa mahasiswa kedokteran juga memiliki ruang pengembangan diri melalui organisasi, riset, kegiatan sosial, dan lomba.
Perjalanan menuju gelar Mapres Pratama tidak singkat. Salma mengikuti seleksi dari tingkat fakultas hingga universitas. Di tingkat universitas, ia bersaing dengan puluhan peserta dari berbagai fakultas. Mereka adalah para juara di tingkat fakultas masing-masing. Tekanan itu membuatnya sempat tidak percaya diri.
Salma awalnya hanya menargetkan bisa mengikuti ajang Mapres. Ia tidak mematok harus menjadi juara. Baginya, mencoba ajang tersebut sudah menjadi pencapaian penting. Namun setelah lolos dari tingkat fakultas ke tingkat universitas, tekanan meningkat. Ia mulai melihat lawan-lawan yang punya portofolio kuat dari berbagai bidang.
Seleksi Mapres di tingkat universitas meliputi beberapa tahap. Salma menyebut ada tes bahasa Inggris, gagasan kreatif, capaian unggulan, dan focus group discussion. Ia mendapat urutan pertama untuk tes bahasa Inggris. Baginya, itu menjadi salah satu bagian paling menegangkan.
Tes bahasa Inggris dianggap sulit karena topik pertanyaan tidak selalu terkait kedokteran atau kesehatan. Peserta bisa mendapat tema militer, perang, atau isu umum lain yang jauh dari bidang studi. Salma mengaku harus langsung menghadapi tes itu tanpa banyak waktu untuk menenangkan diri.
Setelah tes bahasa Inggris, ia langsung masuk ke tahap gagasan kreatif dan penilaian capaian unggulan. Jeda antartes sangat singkat. Ia merasa terkuras sejak pagi. Baru pada tahap focus group discussion, ia harus menunggu peserta lain karena proses dilakukan bersama.
Menata Padatnya Jadwal Akademik
>> Baca Selanjutnya
Raden Dewi Salma Khairunnisa Nurfatonah Patmadipura Buktikan Anak Kedokteran Bisa Bersinar di Riset, Organisasi, Fotografi, Sekaligus Mapres Unhas. (Dok Unhas TV)








