Mahasiswa
Program
Unhas Story

Salma Buktikan Anak Kedokteran Bisa Bersinar di Riset, Organisasi, Fotografi, Sekaligus Mapres Unhas



Raden Dewi Salma Khairunnisa Nurfatonah Patmadipura - Unhas TV


Tantangan terbesar datang dari padatnya jadwal akademik di Fakultas Kedokteran. Salma menyebut ada ujian hampir setiap pekan. Ia harus belajar untuk ujian, mempersiapkan seleksi Mapres, menjaga kondisi tubuh, dan tetap menjalankan tanggung jawab organisasi. Proses itu berlangsung sekitar satu bulan.

Strategi menjadi kunci. Salma menyadari waktunya terbatas. Karena itu, ia memilih kompetisi yang memberi nilai portofolio lebih besar. Dalam rubrik penilaian Mapres, kegiatan kompetisi menjadi salah satu unsur penting. Salma memilih mengikuti kompetisi nasional secara individu karena poinnya lebih tinggi dibanding lomba beregu.

Menurut dia, lomba individu dan lomba tim sama-sama membutuhkan energi besar. Karena waktunya terbatas, ia memilih jalur yang menurutnya lebih efektif. Untuk lomba beregu, ia cenderung mengambil tingkat regional atau internasional. Dengan cara itu, ia dapat menyeimbangkan portofolio dengan jadwal kuliah yang padat.

Manajemen waktu menjadi persoalan harian. Salma menempatkan akademik dan organisasi sebagai dua prioritas penting. Bila ada ujian, ia mendahulukan kuliah. Namun bila materi kuliah masih bisa dipelajari mandiri, ia memberi ruang untuk organisasi. Konsekuensinya, waktu istirahat berkurang.

Ia biasanya tidur empat sampai lima jam sehari. Bagi sebagian mahasiswa kedokteran, angka itu masih tergolong cukup. Salma tetap memaksa dirinya tidur karena ia tahu kuliah akan terganggu bila tubuh terlalu lelah. Waktu nongkrong hampir tidak ada. Malam hari, Sabtu, dan Minggu sering terpakai untuk organisasi, persiapan lomba, atau belajar.

Dukungan lingkungan juga berperan besar. Selain keluarga, Salma menyebut kakak tingkat sebagai sosok penting dalam perjalanannya. Salah satunya adalah Kak Ugita, senior di Fakultas Kedokteran Unhas yang pertama kali ia hubungi lewat pesan langsung setelah diterima melalui SNBP.

Awalnya, Salma hanya bertanya soal beasiswa. Setelah tiba di Makassar, hubungan itu berlanjut. Kakak tingkat tersebut kerap membantu Salma dengan materi kuliah, informasi blok, dan ajakan mengikuti lomba. Salma menyebut lingkungan seperti itu membuatnya merasa tidak berjalan sendirian.

Ia melihat Fakultas Kedokteran sebagai lingkungan yang menuntut kerja sama. Menurut Salma, bertahan sendirian akan sulit. Mahasiswa perlu saling membantu, baik dalam belajar, organisasi, maupun kompetisi. Relasi semacam itulah yang menurutnya mendorong banyak pencapaian.

Salma merumuskan tiga kunci untuk menjadi mahasiswa berprestasi: komitmen, konsistensi, dan relasi. Komitmen membuatnya berani memulai. Konsistensi membuatnya bertahan dalam proses panjang. Relasi membantu ketika motivasi menurun.

Ia menilai gelar Mapres bukan hanya soal kemenangan sesaat. Predikat itu datang bersama tanggung jawab. Setelah mendapat gelar tersebut, Salma merasa harus menjaga kualitas diri. Ia ingin terus memantaskan diri dengan capaian yang sudah diraih, bukan berhenti setelah diumumkan sebagai pemenang.

Top 12 Harvard Health System Innovation Lab

Prestasi Salma tidak berhenti pada ajang Mapres. Setelah itu, ia masuk top 12 Harvard Health System Innovation Lab. Kompetisi ini berskala internasional dan digelar serentak di beberapa negara, termasuk Indonesia. Salma mendaftar secara individu setelah diajak kakak tingkatnya.

Ia awalnya tidak menyadari bahwa peserta kompetisi tersebut banyak berasal dari kalangan profesor, dokter, dan mahasiswa magister. Salma tetap menyusun paper, membuat gagasan, dan menyiapkan pitch. Hasilnya, ia lolos ke top 12 individual. Pada tahap berikutnya, ia dipasangkan dengan peserta lain untuk menggabungkan ide dan mempresentasikannya sebagai kelompok.

Pengalaman internasional lain datang dari program pertukaran di Okayama University, Jepang, pada 2025. Program itu melibatkan mahasiswa dari rumpun kesehatan, seperti kedokteran, keperawatan, kesehatan masyarakat, kedokteran gigi, dan radiologi. Fokusnya adalah interprofessional education atau pendidikan kolaboratif antarprofesi kesehatan.

Dalam program tersebut, Salma mengikuti kelas, bertemu mahasiswa Jepang, dan melakukan kunjungan rumah sakit. Ia mempelajari bagaimana sistem kolaborasi antarprofesi berjalan dalam layanan kesehatan di Jepang. Program itu berlangsung sekitar dua pekan pada masa liburan kuliah.

Di luar akademik, Salma juga menekuni fotografi. Minat itu tumbuh setelah ia diterima melalui SNBP dan memiliki jeda cukup panjang sebelum mulai kuliah. Ia memanfaatkan masa itu untuk belajar fotografi secara otodidak. Perjalanan ke Bira dan Toraja menjadi ruang latihan pertamanya.

Setelah masuk kuliah, Salma mulai mengikuti lomba fotografi. Salah satu pengalaman yang ia anggap berkesan terjadi di Universitas Brawijaya. Ia harus mempresentasikan karya fotografi dalam bahasa Inggris dan mengaitkannya dengan isu kesehatan. Tantangan itu membuatnya melihat fotografi bukan hanya sebagai seni visual, melainkan juga media edukasi publik.

Salma juga aktif di Asian Medical Students’ Association atau AMSA. Ia memulai dari AMSA Unhas sebagai intern, lalu menjadi pengurus. Setelah itu, ia mendaftar ke AMSA Indonesia di divisi riset. Di tingkat nasional, ia memegang Distrik 6 yang mencakup wilayah Indonesia Timur dengan 10 universitas.

Dari AMSA, Salma belajar koordinasi dan kepemimpinan. Ia menyadari bahwa memimpin bukan hanya menagih progres pekerjaan. Pemimpin juga harus menanyakan kendala, menawarkan bantuan, dan mencari solusi bersama. Pengalaman itu mengubah pandangannya tentang organisasi.

Bagi Salma, prestasi tidak cukup dipahami sebagai piala, gelar, atau capaian administratif. Ia memaknainya sebagai kontribusi. Proses menuju prestasi memberi nilai bagi diri sendiri. Namun nilai itu menjadi lebih penting ketika berdampak bagi orang lain.

Ia juga menolak gagasan bahwa setiap orang harus meniru jalan yang sama. Menurut dia, tiap individu memiliki kombinasi kemampuan yang berbeda. Ada yang kuat di riset, ada yang unggul di komunikasi, ada yang menonjol dalam fotografi, dan ada pula yang punya perpaduan unik di beberapa bidang.

Pesannya untuk mahasiswa lain sederhana: kenali nilai diri dan tetap berada di jalur masing-masing. Motivasi bisa berubah dan kadang melemah. Karena itu, seseorang boleh memiliki lebih dari satu sumber dorongan. Yang penting, kata Salma, setiap orang terus berusaha menjadi versi terbaik dalam bidang yang ia pilih.

Kisah Salma menunjukkan bahwa prestasi tidak lahir dari satu faktor tunggal. Ia dibentuk oleh keberanian merantau, kesiapan beradaptasi, kemampuan membaca peluang, dukungan lingkungan, dan disiplin menjaga arah.

Dari Bandung ke Makassar, dari ruang kuliah kedokteran ke panggung Mapres, Salma menempatkan prestasi sebagai proses panjang yang harus terus dibayar dengan kerja.

(Zulkarnaen Jumar Taufik / Unhas TV)