
RAMADHAN - Mahasiswa Ilmu Ekonomi FEB Unhas Qhoidassa Dzoltan Sayyidina, memiliki sejumlah agenda masuk Ramadhan 2026. (unhas tv/moh resha maharam)
Qhoidassa menilai pembagian waktu secara rinci menjadi strategi paling efektif. Ia telah menyusun jadwal harian yang menempatkan ibadah dan pengerjaan skripsi dalam porsi seimbang.
Pagi hari, selepas salat subuh, ia fokus beribadah, termasuk membaca Alquran. Sementara itu, waktu menjelang berbuka puasa dimanfaatkan untuk mengerjakan skripsi di perpustakaan.
“Mungkin mulai ba’da asar sampai menjelang magrib saya akan di perpustakaan untuk mengerjakan skripsi. Di luar waktu itu, saya akan fokus ibadah dan meningkatkan keimanan,” tuturnya.
Menurut dia, Ramadhan justru dapat menjadi momentum percepatan penyelesaian skripsi. Suasana yang lebih tenang dan ritme aktivitas kampus yang cenderung lebih tertata dinilai bisa membantu meningkatkan konsentrasi. Namun, ia menekankan bahwa kedisiplinan dan komitmen pribadi tetap menjadi faktor penentu.
Baik Annisa maupun Qhoidassa sepakat, produktivitas selama Ramadhan sangat bergantung pada manajemen waktu dan kemampuan menjaga konsistensi.
Perpaduan antara target akademik dan peningkatan spiritual menjadi tantangan yang harus dijalani secara bersamaan.
Menjelang dimulainya semester baru, mahasiswa Unhas tampak optimistis. Mereka menyadari bahwa Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga ruang pembelajaran untuk mengatur prioritas dan memperkuat karakter.
Dengan persiapan sejak dini, mahasiswa berharap perkuliahan dapat berjalan lancar tanpa mengurangi kekhusyukan beribadah. Ramadhan pun diharapkan menjadi momentum untuk tetap produktif, menjaga fokus akademik, sekaligus meningkatkan kualitas diri secara spiritual.
(Venny Septiani Semuel / Moh Resha Maharam / Unhas TV)

-300x169.webp)
-300x149.webp)





