Karier
Sosial

SAR Unhas Dukung Perpusnas Jadikan Pusat Literasi Kebencanaan Nasional

Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, saat hadir dalam seminar kebencanaan dan peluncuran buku di Jakarta, Senin (21/9/2026). Pendiri SAR Unhas Umar Arsal mendukung gagasan Perpusnas membangun Pusat Literasi Kebencanaan nasional. (Dok Perpusnas)

JAKARTA, UNHAS.TV - Pendiri Search and Rescue Universitas Hasanuddin (SAR Unhas), Umar Arsal, mendukung gagasan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menjadikan lembaga tersebut sebagai Pusat Literasi Kebencanaan (PLB) nasional.

Menurut Umar, pusat literasi ini dapat menjadi ruang penting untuk memperluas pengetahuan masyarakat, terutama generasi muda, mengenai mitigasi bencana dan kegiatan kemanusiaan.

Hal itu diungkapkannya saat ditemui dalam seminar kebencanaan dan peluncuran buku Rumah Jingga Tamalanrea, Cikal Bakal SAR Mahasiswa di Indonesia: 40 Tahun SAR Unhas di Jakarta, Senin (21/9/2026).

“Kami sangat mendukung adanya Pusat Literasi Kebencanaan yang digagas oleh Perpusnas. Dengan begitu, khasanah bacaan dan pengetahuan generasi muda tentang kebencanaan serta kegiatan kemanusiaan akan semakin luas,” ujar Umar.

Dukungan tersebut disampaikan setelah Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, mengajak SAR Unhas dan komunitas relawan kemanusiaan untuk berkolaborasi dalam membangun pusat literasi kebencanaan nasional.

Menurut Suharyanto, keterlibatan organisasi relawan diperlukan untuk memperkaya koleksi dan sumber pengetahuan yang dapat digunakan masyarakat. Ia berharap pengalaman para pegiat kemanusiaan di lapangan dapat terdokumentasi dan menjadi referensi bagi publik.

“Dukungan dari SAR Unhas dan elemen relawan kemanusiaan lainnya sangat penting agar bahan pustaka tentang kebencanaan dapat terus berkembang,” kata Suharyanto.

Perpusnas Simpan Ribuan Koleksi Kebencanaan

Perpusnas saat ini telah memiliki sekitar 1.600 koleksi terkait kebencanaan. Koleksi tersebut mencakup monograf, buku langka, naskah kuno Nusantara, peta, foto, surat kabar, hingga majalah yang mendokumentasikan berbagai peristiwa bencana.



Buku Rumah Jingga Tamalanrea, Cikal Bakal SAR Mahasiswa di Indonesia: 40 Tahun SAR Unhas saat diluncurkan di Jakarta, Senin (21/9/2026). (Dok SAR Unhas)


Melalui layanan ISBN, Perpusnas juga mencatat peningkatan penerbitan buku bertema kebencanaan. Hingga Agustus 2026, tercatat sebanyak 3.234 judul buku tentang bencana telah diterbitkan dan terdata.

Suharyanto mengatakan, Perpusnas tidak hanya berperan sebagai tempat penyimpanan informasi, tetapi juga menyediakan fasilitas yang dapat digunakan untuk kegiatan edukasi, pameran, seminar, serta lokakarya kebencanaan. Ruang tersebut terbuka bagi relawan, komunitas, lembaga pemerintah, maupun sektor swasta.

“Melalui layanan ISBN dan Karya Cetak Karya Rekam (KCKR), kami memastikan setiap karya kebencanaan tersimpan dan dapat diakses masyarakat luas,” ujarnya.

Selama ini, peran Perpusnas dalam penanganan bencana belum banyak diketahui masyarakat. Lembaga tersebut pernah terlibat dalam penyelamatan koleksi terdampak bencana di sejumlah daerah, seperti Garut pada 2016, Jeneponto pada 2019, dan Aceh pada 2026.

Proses penyelamatan dilakukan melalui asesmen kondisi koleksi, pembersihan, hingga pemulihan bahan pustaka yang terkena dampak banjir dan lumpur.

Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen Perpusnas menjaga warisan pengetahuan agar tetap dapat dimanfaatkan masyarakat setelah terjadi bencana. (*)